Jendela

Bukan Post-Truth

Ratna pun mengaku berbohong, dan Prabowo meminta maaf ke publik. Ratna menjadi tersangka dan ditangkap polisi

Bukan Post-Truth
bpost dok
Mujiburrahman

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

Ini kasus minggu lalu. Ratna Sarumpaet mengaku dikeroyok, lalu Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto konferensi pers menyesalkan ‘kejadian’ itu. Ternyata setelah diselidiki polisi, Ratna bukan dikeroyok melainkan lebam akibat operasi plastik.

Ratna pun mengaku berbohong, dan Prabowo meminta maaf ke publik. Ratna menjadi tersangka dan ditangkap polisi di Bandara Soekarno Hatta saat mau pergi ke luar negeri.

Menurut media, berita pengeroyokan itu semula muncul di akun media sosial milik seorang politisi, dan terus digelindingkan oleh para sejawat politisi lainnya. Rupanya, berita palsu di media sosial kini sudah biasa.

Istilah kerennya: hoaks, yang mungkin makin menjamur di tahun politik ini. Akibatnya, kesan bahwa politik itu tipu-tipu dan dusta belaka, makin kuat. Padahal, politik itu penting dan mulia, bukan?
Karena politik pula, pada 2016, Oxford Dictionary menetapkan post-truth (pascakebenaran) sebagai word of the year. Penggunaan istilah ini sudah lama dan salah satu yang menggunakannya adalah Ralp Keyes dalam karyanya, The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life yang terbit 2004 silam. Tidaklah mengejutkan jika buku ini banyak membahas pernyataan para politisi Amerika.
Pada era pascakebenaran, pikiran bahkan emosi pribadi lebih menentukan opini publik ketimbang bukti faktual. Kebenaran semakin subjektif ketimbang objektif. Orang menganggap sesuatu benar karena sesuai dengan keinginannya, atau sesuatu dianggap benar karena banyak orang memercayainya.

Dusta yang semakin sering disebarkan (viral) sebagai kebenaran akhirnya diterima sebagai kebenaran. Lebih seru lagi, kini membuat berita bohong bisa mendatangkan duit. Masih ingat kelompok Saracen, yang konon singkatan dari SARA dan kebencian?

Menurut polisi, terdapat lebih dari 800 ribu akun yang bergabung dengan jaringan ini. Mereka mendapatkan uang jutaan rupiah dari para pemesan. Selain pembuat berita palsu, penyebar berita dan propaganda yang disebut buzzer, juga mendapat bayaran.

Kita tidak tahu, apakah kebohongan Ratna suatu taktik politik atau kebetulan belaka. Biarlah polisi yang menyelidikinya. Namun kita patut bersyukur bahwa dalam kasus ini kebenaran masih kebenaran, bukan pasca-kebenaran. Dalam bahasa Arab, kebenaran itu al-haqq yang juga bisa berarti yang nyata (the real). Sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan kenyataan, selaras dengan fakta, sejalan dengan bukti.

Imam al-Ghazali dalam karyanya, al-Maqshad al-Asna, menyatakan bahwa wujud itu dapat dibagi kepada tiga macam. Pertama, wujud pada dirinya. Kedua, wujud dalam bahasa. Ketiga, wujud dalam pikiran. Ketiganya berbeda, tetapi saling berhubungan. Sesuatu dianggap benar manakala bahasa dan makna yang dikandungnya (dalam pikiran) menunjuk kepada sesuatu yang sesuai dan benar-benar ada.
Barangkali uraian di atas terkesan rumit. Ada yang lebih sederhana. Terinspirasi Logika Aristoteles, para ulama klasik mendefinisikan kabar (khabar) sebagai informasi yang bisa benar, bisa pula salah. Karena itu, mereka berusaha memeriksa mata rantai informasi (sanad), dan kalimat informasi (matan). Sesuai anjuran Alqur’an pula, jika sesuatu belum jelas alias samar-samar, sebaiknya diklarifikasi (tabayyun).

Semua ini menunjukkan bahwa sikap hati-hati dan upaya memilah dan memilih informasi sudah menjadi perhatian kaum cendekiawan sejak ribuan tahun silam. Berita dusta, kabar palsu (yang entah kenapa disebut ‘kabar burung’), bukanlah sesuatu yang baru. Manusia mungkin sudah berbohong sejak manusia itu ada. Ada orang yang selamat dari tipu daya kebohongan itu, ada pula yang terperangkap.

Alhasil, era teknologi digital dan media sosial memang membuka semakin banyak ruang untuk rekayasa dan penyebarluasan berita bohong. Namun, jika masyarakat dan aparat tetap waspada, kebenaran tetap kebenaran. Karena kita hidup di era banjir informasi, maka kehati-hatian itu harus berlipatganda. Jangan mudah percaya. Jangan mudah menyebarkan, kecuali informasi yang benar, baik dan bermanfaat! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved