Tajuk

Menjaring Angka Semu

Dan, memang, untuk sementara eforia itu terjeda oleh sebuah peristiwa yang kita semua tidak inginkan yang dialami bumi bagian tengah

Menjaring Angka Semu
KOMPAS TV
Seorang anak berbincang dengan Presiden Joko Widodo usai Jokowi melihat evakuasi di sekitar Hotel Roa Roa, Sulawesi Tengah Rabu (3/10/2018). Anak kecil berbaju garis-garis tersebut mengatakan bahwa ia ingin ikut dengan Jokowi. 

TETANGGA sebelah rumah, Kakek Dalimun kini sedang gandrung menyaksikan keramaian di negeri ini. Ya, sejak tiga bulan terakhir, dia dan juga banyak orang seolah terbius oleh eforia (politik) kontes calon pemimpin negeri tercinta kita.

Dan, memang, untuk sementara eforia itu terjeda oleh sebuah peristiwa yang kita semua tidak inginkan yang dialami bumi bagian tengah pulau Sulawesi. Akhir pekan lalu (28/9), gempa bumi disertai tsunami telah memorak-morandakan Kota Palu, Sigi dan Donggala, merenggut hampir 2 ribu jiwa serta belasan ribu orang luka-luka.

Dan, bencana alam yang tak pernah siapapun menginginkannya, itu sejenak pula menyadarkan kita untuk melupakan saling perbedaan. Peristiwa memilukan di Palu, Sulteng dan Lombok, NTB, menyentuh nurani semua anak bangsa kembali menautkan rasa solidaritas kemanusiaan.

Dan, jeda keriuhan politik pun cukup terasa. Para elite yang saling berseberangan pun tahu diri tidak mengumbar syahwat politik. Hanya memang sulit untuk tidak mengatakan, momen Palu memberikan keuntungan bagi petahana dalam hal ini calon presiden Joko Widodo. Posisinya yang masih sebagai presiden memberikan keleluasaan untuk memompa citranya di mata rakyat. Dua kali kunjungan Jokowi ke daerah bencana tentu bukan sekadar kunjungan semata, tapi juga memiliki hidden mission yang secara politis menguntungkannya.

Dan, memang, harus diakui, saat ini nama Jokowi dan pasangannya KH Ma’ruf Amin sedang kencang-kencangnya berkibar. Bahkan, kata yang punya jajak pendapat yang belum jelas kesahihannya itu, elektabilitas duet yang diusung banyak partai itu selalu berada di atas angin alias mengalahkan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Wajar kalau kemudian banyak pihak menilai aneh mengikuti cara berpikir para pengelola jajak pendapat yang makin sering mempublis hasil polling. Apa karena sampel yang cuma sekian ratus orang itu memang mewakilli rakyat Indonesia yang dua ratusan juta banyaknya itu. Itu sebabnya, tidak salah gurauan Kakek Dalimun yang meminjam istilah Cak lontong; “Mikir... mikir .....”

Karena memang, dari beberapa pengalaman soal jajak pendapat yang beririsan dengan kontestasi politik, tidak semua hasil jajak pendapat yang digagas lembaga survei mencermininkan realitas yang sebenarnya. Contoh paling faktual yang bisa kita sebut yang sangat memalukan, hasil Pilkada DKI Jakarta. Pasangan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dengan Syaiful Jarod yang menurut hasil survei berbagai lembaga jejak pendapat bakal menang telak dari duet Anies Basweda- Sandiaga Uno, justru keok dengan persentasi suara yang cukup besar.

Wajar kalau kemudian Kakek Dalimun dan mungkin juga banyak orang di negeri ini, menyangsikan validitas hasil jajak pendapat lembaga-lembaga survei yang kerap ‘bermain’ dalam setiap kontestasi politik di negeri ini. Dan, tidak salah pula kalau kemudian Kakek Dalimun juga banyak orang melihat berbagai lembaga survei sebagai bagian sebuah koneksitas dari partai politik. Bahasa paling lazim yang kita kerap dengar, hasil jajak pendapat disesuaikan dengan keinginan pemberi pekerjaan (order).

Artinya, bahwa apa yang dikerjakan lembaga jajak pendapat tidak lebih dari bualan orang untuk memanpulasi pikiran banyak orang-orang hanya untuk sebuah realiatas semu. Dan, memang, logika sederhana sangat naif hasil survei segelintir orang mewakili banyak kerumunan (crowed).

Dan, keriuhan politik negeri ini di hari-hari mendatang bakal semakin berisik. Jokowi sebagai patahana dan juga partai politik pendukungnya tentunya berusaha sekuat daya yang dimiliki untuk memenangi kontes. Apalagi berbagai lembaga survei ikut memberikan andil melalui kalkulasi angka-angka persentasi penguatan pamoritas sang patahana. Tapi bagaimanapun pengalaman pilkada DKI Jakarta dan daerah-daerah lainnya adalah ukuran realiatas yang tidak bisa dimanipulatif! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help