Tajuk

Kesedihan Maraton

Diawali gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/8/2018). Gempa bermagnitudo 6,9 itu menyebabkan 500 lebih korban meninggal.

Kesedihan Maraton
tribun timur
Satu korban reruntuhan bangunan Hotel Roa-roa, Kota Palu, Sulawesi Tengah, berhasil dievakuasi oleh tim Basarnas, Munggi (30/9/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KESEDIHAN maraton menimpa republik ini. Dalam waktu tiga bulan terakhir, tiga gempa memorakporandakan tiga provinsi di Indonesia.

Kesedihan itu diawali gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (19/8). Gempa bermagnitudo 6,9 itu menyebabkan 500 lebih korban meninggal.

Gempa juga menyebabkan 71.962 rumah rusak, 671 unit fasilitas pendidikan rusak, 52 unit fasilitas kesehatan rusak, 128 unit fasilitas peribadatan rusak, 20 unit perkantoran rusak, 6 unit jembatan rusak, dan jalan-jalan rusak dan ambles.

Kesedihan di Lombok sirna, gempa terjadi di Palu dan Donggala, Jumat (28/9). Dahsyatnya, gempa bermagnitudo 7,4 itu disertai tsunami dan likuifaksi. Ribuan orang meninggal. Berbagai bangunan hancur; rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya ambruk sebagian atau seluruhnya.

Kerusakan lainnya, Jembatan Ponulele yang menghubungkan Donggala Barat-Donggala Timur, roboh. Jalur trans Palu-Poso-Makassar tertutup longsor, komunikasi terputus total, bandara ditutup, sejumlah pelabuhan mengalami kerusakan.

Belum lagi pencarian dan evakuasi korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala selesai, gempa menggoyang Jawa Timur, Kamis (11/10). Untungnya gempa bermagnitudo 6,0 ini tidak menimbulkan tsunami. Meski demikian, gempa yang berpusat di 61 km sebelah timur laut Situbondo tersebut menelan korban meninggal sebanyak empat orang dan puluhan orang korban luka. Kerusakan rumah dan bangunan tidak seberat gempa Lombok dan Palu. Ratusan rumah dan faslitas umum mengalami rusak ringan.

Dalam kontes bencana alam ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun sebagai negara yang beragama (Ketuhanan yang Maha Esa), kita wajib merenunginya mengapa hal itu i terjadi. Jangan lupa terus berdoa agar negara ini terhindar dari bencana alam lainnya dan memberi bantuan kepada korban bencana.

Sayangnya, ada orang yang berusaha memanfaatkan kesedihan maraton ini untuk memperkeruh perpolitikan di tanah air. Di media sosial, orang yang tidak bertanggung jawab tersebut mengait-kaitkan tiga gempa dengan salah satu calon presiden yang akan bertarung di Pilpres 2019 mendatang.

Itu jelas sangat tidak logis. Kita harapkan pendukung dan tim sukses dari Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, tidak ikut menggorengnya atau menjadikan gempa sebagai isu untuk menarik simpati para pemilih.

Jangan sampai kasus Ratna Sarumpaet terulang lagi. Kebohongan yang dilakukan Ratna dijadikan ‘alat atau senjata’ untuk mengerek elektabilitas pasangan yang didukung. Kasus Ratna ini menjadi heboh karena digaungkan oleh tim sukses salah satu pasangan capres-cawapres. Beberapa orang tim sukses mem-blow up persoalan Ratna, bahkan sempat melakukan konferensi pers. Tujuannya jelas untuk meraih simpati publik sekaligus menyerang rivalnya.

Di zaman now, para pemilih makin kritis dalam menerima informasi. Mereka tidak mudah begitu saja meyakini sebuah informasi, apalagi yang memperlihatkan kejanggalan di dalamnya, termasuk gempa yang dikaitkan dengan salah satu calon presiden. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved