Berita Regional

Penduduk Jawa Sekarang Merasakan Suhu Panasnya Luar Biasa! Bernarkah Salah Kita?

Akibatnya pada bulan Oktober ini, banyak masyarakat kota-kota di Jawa yang mengeluhkan panasnya cuaca

Penduduk Jawa Sekarang Merasakan Suhu Panasnya Luar Biasa! Bernarkah Salah Kita?
rottadana
Ilustrasi pemanasan global 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Menurut prakiraan BMKG, hujan memang terlambat 10 hingga 30 hari dari jadwal sehingga baru akan dimulai pada akhir Oktober atau awal November.

Akibatnya pada bulan Oktober ini, banyak masyarakat kota-kota di Jawa yang mengeluhkan panasnya cuaca dan lambatnya kedatangan hujan.

Lantas, bisakah kita menyalahkan keterlambatan ini pada perubahan iklim?

Menurut pakar meteorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Drs. Zadrach Ledoufij Dupe M.Si., jawabannya tergantung pada pemahaman Anda mengenai penyebab perubahan iklim.

Baca: Jadwal Denmark Open 2018, Mulai Selasa 16 Oktober 2018, Ginting vs Momota, Seru!

“Saya tanya, penyebabnya (perubahan iklim) apa? Jawabnya kan karbondioksida (CO2). Masalahnya, menurut saya, itu bukan CO2. Komponen utama perubahan iklim itu ada di manusia,” ujarnya ketika dihubungi oleh Kompas.com via sambungan telepon pada hari Jumat (12/10/2018).

Zadrach membandingkan kondisi kota-kota di Jawa pada generasi sebelumnya dengan generasi sekarang yang jauh berbeda.

Baca: Hasil Akhir Timnas U-19 Indonesia vs Yordania: Skor 3-2, Egy Maulana Cs Menang Dramatis

“Zamannya ayah Anda itu berapa jumlah penduduknya? Berapa bangunan yang ada? Berapa sawah dan sebagainya? Kan sekarang semua berubah jadi gedung. Lalu, kalau kita bilang (iklimnya) tidak berubah, ya mana mungkin,” tuturnya.

Dia mengatakan, ketika kita mengubah karakter permukaan bumi, kita juga mengubah keseimbangan energi yang datang dari matahari.

Pasalnya, jika energi matahari yang datang ke permukaan bumi sama dengan yang keluar, suhu permukaan bumi menjadi konstan atau tidak berubah.

Baca: Jadwal Liga Inggris Pekan 9, Chelsea vs MU, Man City vs Burnley, Huddersfield vs Liverpool

Namun, ketika kita membangun aspal, gedung bertingkat, dan kaca di mana-mana, komposisi radiasi matahari di bumi pun berubah. Energi yang datang menjadi semakin besar, sedangkan yang keluar menjadi semakin sedikit karena terhalang oleh gas-gas rumah kaca.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help