Film

Tragedi Bintaro: Film Kecelakaan Kereta Api Paling Tragis Sepanjang Sejarah Indonesia

Kereta Api (KA) Merak kala itu bertabrakan dengan Kereta Api (KA) 220 Rangkas di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

Tragedi Bintaro: Film Kecelakaan Kereta Api Paling Tragis Sepanjang Sejarah Indonesia
tribun style
Sinopsis Film Tragedi Bintaro 

Mengetahui ibunya sakit, Juned membuka celengan dan menyuruh neneknya membawa ibunya berobat.

Malamnya Juned pergi ke kontrakan sang bapak untuk memberitahu kalau ia dan neneknya akan pindah ke desa.

Juned juga meminta uang ganti pada bapaknya karena uangnya dipakai untuk berobat sang ibu.

Sekali waktu, Efendi mengajak anak-anaknya untuk berlibur ke Dunia Fantasi dan bermain-main, tetapi tanpa kehadiran Juned.

Begitu pulang dari jalan-jalan, Efendi membagi-bagikan hadiah pada anak-anaknya, juga uang untuk nenek.

Hadiah Efendi untuk Juned tidak jadi diberikan karena Juned belum pulang sehingga hadiah itu dibawa pulang kembali oleh Efendi untuk disimpan dan diberikan langsung pada Juned.

Begitu Subuh tiba, Nenek Minah bersiap-siap menuju stasiun setelah sebelumnya berpamitan pada Pak Haji, pemilik kontrakan.

Efendi menyusul ke rumah kontrakan Nenek Minah dan hanya bertemu dengan Pak Haji.

Akhirnya dengan memacu mobilnya, Efendi menyusul ke stasiun.

Sementara di gerbong kereta, Juned masih uring-uringan karena belum diberi hadiah oleh bapaknya.

Juned menunggu-nunggu bapaknya yang tidak datang-datang hingga akhirnya dengan setengah terpaksa Juned naik kereta.

Begitu kereta berjalan pelan, Efendi telah sampai di stasiun dan langsung mengejar untuk memberikan hadiah Juned lewat jendela.

Akan tetapi kereta yang telah berjalan dan besarnya bungkusan yang diberikan tidak bisa masuk lewat jendela.

Akhirnya Juned pun menangis karena tak bisa menerima hadiah sang bapak.

Di tengah perjalanan pada km ±18.75 dari arah yang berlawanan, muncul kereta lain yang sarat dengan penumpang pada rel yang sama.

Akhirnya terjadilah tabrakan maut antara dua kereta yang menyebabkan timbulnya korban jiwa.

Juned yang terjepit berteriak memanggil neneknya, sedangkan Mulyadi berusaha memanggil-manggil bapaknya.

Seluruh keluarga Nenek Minah tewas dalam kecelakaan maut tersebut, hanya tersisa Juned.

Tangisan dan teriakan histeris mewarnai kecelakaan maut tersebut, darah dimana-mana.

Efendi akhirnya mengetahui kecelakaan itu setelah ditelepon dan langsung ke rumah sakit untuk melihat jasad keluarganya.

Juned yang terjepit akhirnya dapat dikeluarkan.

Di rumah sakit, Juned menyuruh kedua orangtuanya untuk berbaikan.

Di akhir kisah, muncullah Juned yang sebenarnya di rel kereta api dengan memakai penyangga kaki, karena kaki kirinya diamputasi.

“Sayalah Juned salah seorang korban musibah tabrakan kereta api di Bintaro, saya berterima kasih karena kisah kami sekeluarga diangkat kelayar putih lewat film ini, moga-moga ada hikmahnya bagi kita semua” demikian kata-kata Juned yang asli di akhir kisah.

(Tribunnews.com/Fathul Amanah)

Hai Guys! Berita ini ada juga di TRIBUNNEWS.COM

Editor: Didik Trio
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved