Jendela

Santri Indonesia

Memang tidak banyak santri yang bisa bertahan sampai tamat. Ada yang hanya seminggu, sudah pulang.

Santri Indonesia
Bpostonline
Mujiburrahman

MUJIBURRAHMAN, Rektor UIN Antasari

PADA 1984, aku tamat Sekolah Dasar. Ayah menginginkan agar aku menjadi santri di Pesantren Al-Falah Banjarbaru, lebih kurang 200 km dari Amuntai, kampung halamanku. Aku setuju dengan ayah, meskipun berpisah dari keluarga, tinggal di asrama, makan seadanya dan disiplin yang ketat, bukanlah perkara mudah bagi anak usia 13 tahun. Tetapi itulah jalan hidupku, yang sangat kusyukuri hingga hari ini.

Memang tidak banyak santri yang bisa bertahan sampai tamat. Ada yang hanya seminggu, sudah pulang. Di hari-hari pertama, semua terkena homesick, rindu ingin pulang. Namun, selain sudah bertekad bulat, aku ingat pesan Tuan Guru Haji Imberan (disebut juga ‘Bung Tomo’) yang kebetulan bertemu saat aku dan ayah membeli perlengkapan di Pasar Amuntai. Katanya, “Ikam (kamu) jangan sampai rupui (gagal).”

Bagi tipe ‘anak mami’, kehidupan di pesantren tentu amat berat. Menu makanan, tiga kali sehari, jauh dari istimewa. Tiap pagi makan ikan asin (yang biasa kami sebut ‘ayam Turki’). Kadang, karena nasinya keras atau kurang matang, air teh manis dijadikan kuah. Subuh sudah bangun, mandi dengan menimba air dari sumur. Pakaian mencuci sendiri. Sementara jam pembelajaran penuh, dari pagi hingga malam.

Al-Falah termasuk pesantren tradisional, yang menekankan kemahiran dalam memahami kitab-kitab klasik. Pakaian kami sehari-hari adalah sarung, baju koko, kopiah haji dan sandal. Hal ini berbeda dengan santri Pesantren Gontor yang menyebut diri ‘Pondok Modern’. Sebagian dari ciri ‘modern’ itu adalah pakaian santrinya yang berdasi, berbahasa Inggris (selain bahasa Arab) dan suka berorganisasi.

Pesantren Gontor tidak terikat dengan organisasi Islam tertentu, meskipun dalam hal kemodernan lebih dekat dengan Muhammadiyah, sementara pesantren tradisional lebih dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU). NU menekankan adaptasi Islam dengan budaya lokal, sedangkan Muhammadiyah menitikberatkan kesesuaian Islam dengan kemodernan. Yang pertama Islam Nusantara, yang kedua Islam berkemajuan.

Soal paham keislaman, NU dan Muhammadiyah pernah tegang. Muhammadiyah menuduh NU terkena penyakit TBC (Tahyul, Bid’ah dan Churafat), sedangkan NU menuduh Muhammadiyah sudah kebarat-baratan, karena membuka sekolah-sekolah dengan kurikulum Barat modern. Seiring perjalanan waktu, keduanya saling mendekat. Muhammadiyah mendirikan pesantren, dan NU membuka sekolah umum.

Lambat laun, muncul ketidakpuasan terhadap NU dan Muhammadiyah. Alih-alih beradaptasi dengan budaya lokal, atau menyerap kemodernan, gerakan baru ini mengklaim bahwa Islam itu sudah lengkap. Istilah populernya adalah ‘Islam kaffah’. Kondisi politik Orde Baru yang represif, ditambah krisis Timur Tengah yang seolah tak ada habis-habisnya, membuat ideologi baru ini menarik bagi sebagian orang.

‘Islam kaffah’ itu menjadikan Islam sebagai rujukan mutlak dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, mencakup seluruh lini kehidupan, dari ekonomi, politik, sosial hingga budaya. Mereka mengimpikan sebuah ‘negara Islam’ atau ‘khilafah Islamiyah’. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang lebih melihat konteks Indonesia, wacana kelompok ini lebih berorientasi global dan trans-nasional.

Sebagaimana terdapat banyak varian dalam Islam tradisionalis dan modernis, begitu pula dalam gerakan ‘Islam kaffah’. Dalam bentuk ekstrem, mereka bisa menjadi teroris. Dalam bentuk moderat, mereka ikut berdemokrasi untuk memperjuangkan pemberlakuan syariat Islam. Boleh jadi, termasuk yang moderat ini adalah sebagian dari lembaga-lembaga pendidikan ‘Islam Terpadu’ yang kini makin menjamur.

Tiga tipologi santri di atas, yakni Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan Islam Terpadu (yang pernah dikemukakan dosen UIN Antasari, Dr. Norhidayat, kepada saya) tentu tidaklah hitam-putih, melainkan tumpang tindih. Saya sendiri, setelah tamat pesantren, kuliah di IAIN, lalu belajar bahasa Arab di LIPIA Jakarta yang berinduk ke Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh, hingga S-2 dan S3 di Barat.

Namun, justru yang tumpang tindih itulah kiranya potret santri Indonesia masa kini: ‘Islam Nusantara, Berkemajuan dan Terpadu’ dengan segala kompleksitasnya. Selamat Hari Santri! (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved