Opini Publik

Menyambut Bursa Inovasi Desa 2018

Pada tanggal 25 Oktober nanti, akan menjadi kabupaten pertama di Kalsel yang menyelenggarakan Bursa Inovasi Desa (BID) pada tahun 2018 ini.

Menyambut Bursa Inovasi Desa 2018
banjarmasinpost.co.id/elhami
Ilustrasi - Bupati ansharuddin saat membuka acara 

Oleh: M NOOR AZASI AHSAN
Tenaga Ahli Peningkatan Kapasitas
Program Inovasi Desa (PK-PID)
P3MD Kalimantan Selatan

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETELAH kemarin menjadi tuan rumah puncak peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS). Baritokuala kembali akan menyelenggarakan hajatan besar. Pada tanggal 25 Oktober nanti, akan menjadi kabupaten pertama di Kalimantan Selatan yang menyelenggarakan Bursa Inovasi Desa (BID) pada tahun 2018 ini. Mayoritas kabupaten lain kemungkinan baru akan menyelenggarakannya pada bulan Nopember.

Apakah sesungguhnya BID ini? Forum BID ini merupakan wahana bagi desa-desa bertukar informasi dan berbagi pengetahuan, termasuk belajar dari pengalaman desa-desa yang berada di luar kabupaten. Kegiatan ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas perencanaan dan mendorong pemanfaatan dana desa yang lebih berkualitas, efektif dan efesien.

Platform kegiatan-kegiatan inovasi berdasarkan hasil verifikasi Kelompok Kerja Pengelolaan Pengetahun dan Inovasi Desa Tim Inovasi Kabupaten (Pokja PPID-TIK) terhadap dokumen-dokumen pembelajaran yang sudah dibuat oleh Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID). Inovasi-inoasi ini akan ditampilkan dalam forum BID, selanjutnya dimasukkan ke dalam sistem pengelolaan pengetahuan berbasis web yang dapat diakses desa-desa lain pada lingkup yang lebih luas.

Pengalaman 2017, BID pertama ini diikuti kepala desa-kepala desa dan para undangan lainnya. Setelah mengisi buku tamu dan menerima kartu ide maupun kartu komitmen dari panitia, peserta bursa memasuki ruang atau aula pertemuan mengikuti paparan dan diskusi dengan Tim Inovasi Kabupaten (TIK) dan perangkat daerah terkait lainnya. Selanjutnya, mereka diarahkan menuju desk-desk yang sudah disiapkan untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai berbagai jenis inovasi, audio-visual maupun yang tertulis.

Pengalaman Berinovasi
Desa-desa ternyata sudah banyak yang melakukan inovasi, bahkan jauh sebelum ada dana desa. Produk unggulan seperti alpukat Desa Wonorejo Kabupaten Malang, dodol Loren Desa Mendak hingga aneka kerajinan bamboo dari Desa Nglandung Kabupaten Madiun yang diekspor ke Kanada merupakan beberapa hasil inovasi. Tak kalah dengan itu, Kalimantan Selatan juga memiliki produk madu kelulut dari Desa Asam Randah Kabupaten Tapin dan Desa Telaga Langsat Kabupaten Tanahlaut, ikan asin haruan dan uyah wadi dari Danau Panggang Kabupaten Hulu Sungai Utara serta kopi pasak bumi dari Desa Taratau Kabupaten Tabalong. Kewirausahaan dan pengelolaan ekonomi yang inovatif juga tergambar dari perkembangan kegiatan usaha pada sejumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Pembangunan sirkuit off-road Desa Kebonmanggu Kabupaten Sukabumi, pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di Desa Patanyamang Kabupaten Maros hingga konservasi hutan bamboo oleh Pemerintah Desa Sanankerto Kabupaten Malang demi memelihara debit air dari embung atau waduk kecil merupakan contoh inovasi lain dalam bidang infrastruktur. Sedangkan di Kalimantan Selatan ada pembangunan tambatan perahu di Desa Pagatan Besar Kabupaten Tanah Laut dan Desa Ujung Kabupaten Kotabaru.

Keterlibatan kaum perempuan dalam pembangunan jalan usaha tani di Desa Malinau Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dilihat dari aspek sumberdaya manusia, memperlihatkan adanya pengarusutamaan gender dalam pembangunan infrastruktur. Kaum perempuan juga memiliki posisi penting dalam pengembangan Desa Sahabat Keluarga (DSK) di Kabupaten Tanahlaut. Ada pula promosi budaya melalui teras baca di Desa Sidareja Cilacap serta Nagara Koto Laweh di Sumatera Barat yang menjadi wahana pengembangan inklusivitas dan akulturasi multietnis.

Berbagai inovasi yang ada di lapangan tersebut digali dan dikemas lebih lanjut melalui capturing. Ini merupakan proses pendokumentasian pengetahuan, bagi pengetahuan tacit yang masih ada di dalam benak dan pikiran, maupun cara atau solusi dan kegiatan pembangunan inovatif yang sudah berjalan. Prinsipnya, inovasi itu harus memberi manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Proses ini dimulai dari tahap identifikasi dan verifikasi. Bagi Kalimantan Selatan, ini bisa dilihat dari kartu-kartu ide pada BID 2017 lalu. Dokumentasi contoh-contoh inovasi ini bisa menjadi referensi dan memperkuat peran pendamping pada proses perencanaan desa. Pokja PPID di TIK memiliki posisi strategis dalam proses ini dan proses selanjutnya, yaitu diseminasi melalui penyelenggaraan kegiatan BID.

Replikasi Inovasi Desa
Langkah selanjutnya yang akan dilaksanakan pasca penyelenggaraan BID, desa-desa diharapkan dapat meningkatkan belanja kegiatan-kegiatan inovatif pada APBDes 2019 yang akan datang. Perangkat daerah, kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD) serta pendamping professional mulai dari tingkat kabupaten hingga local desa akan mengawal dan membantu agar kartu ide dan kartu-kartu komitmen yang dibuat pada saat bursa, masuk dalam RKPDes dan didanai melalui APBDes. Inilah yang dinamakan proses replikasi.

Agar proses ini berjalan lebih efektif, ada yang lebih dahulu mengadakan forum pra-bursa pada tingkat kecamatan sebagaimana pola yang dijalankan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Para pendamping lebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan desa dan menawarkan konsep-konsep inovatif secara global pada desa-desa dalam suatu kecamatan. Informasi yang lebih detail dan keputusan final memasukkannya dalam RKPDes dan APBDes akan disampaikan pada saat Bursa Inovasi Desa yang berlangsung di kabupaten. Sejatinya konsep penyelenggaraan Bursa Inovasi Desa 2018, awalnya memang pada tingkat kecamatan.

Sedangkan Kabupaten Baritokuala sendiri memilih melakukan fasilitasi lebih awal. Sejak awal tahun sudah dilakukan identifikasi ide-ide inovatif yang sudah berjalan maupun kebutuhan desa akan menu-menu inovatif yang dapat memperkaya khasanah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan 2019. Proses capturing, melalui pembuatan video, dokumentasi photo dan dokumen pembelajaran dilakukan terhadap ide-ide inovatif yang sudah berjalan. Hasilnya, antara lain berwujud ide Simpanan Buat Lebih Sehat atau disingkat SIBULAT, praktik asuransi kesehatan berbasis komunitas di Desa Patih Selera, yang sudah berjalan delapan tahun, mendahului pola yang dikembangkan melalui BPJS Kesehatan.

Replikasi inovasi yang lebih canggih, perlu sentuhan lembaga Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD). Secara sederhana, P2KTD adalah lembaga berbadan hukum yang menyediakan jasa keahlian teknis tertentu, bentuk dukungan teknis berupa pelatihan, konsultasi, bimbingan teknis, mentoring, studi kelayakan dan pengembangan jejaring sesuai dengan kebutuhan inovasi Desa. Bisa perguruan tinggi, perusahaan konsultan atau asosiasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat yang kompeten dan sudah berpengalaman. Bila kompetensi teknis yang dibutuhkan tidak tersedia pada sebuah kabupaten, desa bisa meminta bantuan P2KTD dari luar daerah atas rekomendasi TPID dan Pokja P2KTD TIK. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved