Geliat Sineas Muda Banjarmasin

Hanya Dengan Handphone Sineas Muda Banjarmasin Bisa Hasilkan Film Memukau

Membuat film adalah membuat karya berupa audio visual yang memberikan pemahaman bagi pemirsa tentang maksud yang kita inginkan.

Hanya Dengan Handphone Sineas Muda Banjarmasin Bisa Hasilkan Film Memukau
Istimewa
Pembuatan film pendek menggunakan handphone oleh komunitas sineas muda Banjarmasin 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Membuat film adalah membuat karya berupa audio visual yang memberikan pemahaman bagi pemirsa tentang maksud yang kita inginkan.

Meskipun berangkat dari hobi namun para penggiat film independen yang kemudian membentuk komunitas ini tetap belajar dari para senior dan praktisi film lainnya.

Sebagaimana Rudi Ramadhani dari KAB (Keasi Anak Banua) yang tak hanya belajar secara otodidak tapi juga dari sesama penggiat film independen dan praktisi senior.

"Banyak nanya, praktikan, evaluasi. Belajar lagi. Begitulah yang kami lakukan agar setiap karya ada progres kemajuannya," terang Rudi.

Workshop membuat film baik secara offline maupun online mereka ikuti dan dari situ banyak ilmu baru diperoleh.

"Kami diajari akting, ekspresi wajah dan hal lain seputar pembuatan film," tandasnya.

Baca: Live Trans 7! Live Streaming MotoGP Australia 2018 Mulai Jam 10.00 WIB, Live Streaming Trans7

Baca: Ketika Saus Tomat dan Abu Rokok Jadi Make Up Artis Film Garapan Sineas Muda Banjarmasin

Baca: Main Film, Anita Maulida Menjadi Artis, Penata Rias Juga Merangkap Penata Busana

Hal sama dilakoni Forcy Syabana dari GATZ studio. Ia mengawali membuat video sendiri saat ikut lomba membuat iklan sebuah produk minuman.

"Hasilnya tidak mengecewakan. Kemudian dapat ilmu membuat film dari teman-teman komunitas," ungkapnya.

Forcy membuat film dengan berbagai jenis kamera. Bahkan ia pun pernah membuat film dengan kamera handphone.

"Apa yang ada dimanfaatkan. Pakai kamera handphone pun jadi. Edit sendiri dan jadilah. Ternyata hasilnya memukau teman-teman," ungkapnya.

Ahmad Maulana dari Bias Film yang bertindak selaku DOP (direct of photography), operator kamera dan editor, menyatakan, sampai saat ini teknik pengambilan gambar mengandalkan satu kamera saja.

"Karena saya penata kamera, kameramen juga editor, makanya saya lebih suka satu kamera karena hasil syuting gampang dipilih untuk editing. Kalau dua kamera atau lebih malah bingung memilih gambar," jelasnya.

Tantangannya adalah setiap gerakan dan dialog harus bagus. Kemusian satu adegan diambil satu angle dulu baru kemusian diulang lagi dari sisi atau angle lain, misal close up.

(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Penulis: Salmah
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved