Kronika

Moral Khashoggi

Yang dianggap bertanggung jawab adalah Arab Saudi karena wartawan senior ini getol mengritik kehidupan putera mahkota, Muahammad bin Salman.

Moral Khashoggi
kompas.com
Massa demonstran menuntut pembebasan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi yang dikabarkan hilang sejak memasuki gedung konsulat Saudi di Istanbul pada Selasa (2/10/2018). (AFP / OZAN KOSE) 

OLEH: PRAMONO BS

WARTAWAN Washington Post Jamal Khashoggi lenyap setelah memasuki Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Saat itu Khashoggi yang berkewarganegaraan Arab Saudi ini akan mengurus surat-surat untuk pernikahannya, tapi sampai saat ini tak diketahui keberadaanya. Pihak Konsulat membantah bertanggung jawab karena Khashoggi sesungguhnya sudah meninggalkan Konsulat. Tapi kabar yang beredar, Khashoggi di bunuh begitu masuk Konsulat dan jenasahnya dimutilasi.

Hampir semua negara mengutuk penghilangan Khashoggi termasuk Indonesia. Yang dianggap bertanggung jawab adalah Arab Saudi karena wartawan senior ini getol mengritik kehidupan putera mahkota, Muahammad bin Salman. Berbagai negara di dunia merasa ada yang tidak beres sehingga menuntut Raja Salman terbuka. AS bahkan berjanji akan menjatuhkan hukuman pada Arab Saudi.

Belakangan Arab Saudi mengakui Jamal Khashoggi telah meninggal tapi penjelasannya tidak tuntas. Terakhir CCTV menayangkan sosok yang menyamar sebagai Khashoggi lengkap dengan pakaian Khashoggi yang dipakai saat masuk Konsulat. Nampak pula sejumlah petugas membakar dokumen di belakang Konsulat. Jadi semakin jelas ke arah mana tuduhan akan bermuara.

Kita tidak akan membahas reaksi dunia yang sudah sedemikian banyak diulas. Tapi hanya menunjukkan bahwa kasus Khashoggi telah membangkitkan kesadaran kita bahwa wartawan masih ada, masih punya peran penting. Mengapa begitu?

Selama ini kita seperti sudah melupakan sosok wartawan, pemburu warta yang tulisannya dulu ditunggu banyak orang. Sekarang sikap orang terhadap informasi berubah. Ratusan berita muncul setiap hari tidak hanya lewat koran atau televisi/radio. Perkembangan teknologi menjadikan koran bukan lagi pilihan utama karena info bisa didapat dari mana saja. Koran, radio, televisi, online, jurnalisme warga, media sosial sampai hoax semua bekerja dalam ruang yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda.

Sebelum era kebebasan seperti sekarang, jumlah media massa terbatas, nama wartawan pun bisa dikenal luas. Seperti Muhammad Syafrudin (Udin), Wartawan Bernas Yogyakarta yang meninggal dianiaya seseorang yang diduga suruhan dari seorang pejabat yang tidak berkenan dengan tulisannya. Sayang polisi tidak bisa menemukan pelakunya, padahal peristiwanya sudah terjadi tahun 1996.

Sekarang pun ada wartawan di Indonesia yang mati dibunuh oleh pihak yang diduga tidak senang dengan pemberitaannya, tapi hiruk pikuk dunia jurnalistik dan silang sengkarut informasi menjadikan beritanya hilang begitu saja.

Kalau tidak hati-hati wartawan yang beneran pun bisa terjebak dalam berita hoax seperti kasus Ratna Sarumpaet yang mengaku-ngaku dipukuli orang, sampai "bos" nya, Prabowo Subianto, ikut menyampaikan keprihatinan. Ternyata itu hanya isapan jempol saja.

***

Zaman now orang hanya sayu-sayup mendengar nama wartawan media arus utama. Karena itu komentar berbagai negara atas kematian Jamal Khashoggi seperti membangkitkan kita dari tidur, ternyata wartawan itu masih ada, masih dibutuhkan. Nafas wartawan belum hilang, belum diganti oleh mereka yang cuma bisa menebar kabar bohong.

Tuntutan berbagai negara akan pertanggungjawaban Saudi membuktikan wartawan itu bukanlah pekerja biasa, mereka punya etika, kecakapan, punya daya tawar, dunianya tanpa batas yang tak bisa diganti dengan gaya penyebar hoax.

Tapi harus diakui selain munculnya media sosial yang bisa membuat informasi dengan konten sesukanya, media arus utama juga sudah banyak disusupi kepentingan praktis sehingga menjadikan peranannya menjadi bias.

Yang paling menyolok adalah kepentingan politik. Dari zaman pergerakan dulu pun media selalu "disusupi" kepentingan politik, tetapi politik kebangsaan untuk kemerdekaan. Bahkan tujuan didirikannya koran zaman dulu memang untuk perjuangan, berbeda dengan zaman sekarang. Kalau kita ingin mengembalikan fungsi dan peran wartawan yang profesional, lembaganya pun harus profesional.

Jamal Khashoggi mengingatkan kita bahwa peran wartawan tidak bisa digantikan oleh media yang tidak dilandasi dengan semangat dan etika jurnalistik. Risiko menjadi wartawan masih sama seperti Khashoggi atau Udin apalagi kepentingan pihak lain juga tidak pernah surut. Kalau ada "benturan" nasib wartawan pula yang paling sering dikorbankan. Tapi "moral" Khashoggi dan Udin tak boleh mati, wartawan tidak boleh takut menjalankan profesinya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved