Jendela

Masa Depan Persatuan

Kalimat Tauhid artinya kata yang mempersatukan, yakni mengesakan Allah dan mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya. Itulah inti syahadat Islam.

Masa Depan Persatuan
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri
(UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM seminggu ini, masyarakat ramai menanggapi kasus pembakaran bendera (HTI) bertuliskan kalimat syahadat. Ada demonstrasi ‘Bela Kalimat Tauhid’ di berbagai tempat. Kemarin, 28 Oktober 2018, selain peringatan Hari Sumpah Pemuda, ada pula istighatsah kubra untuk keselamatan bangsa yang digelar di GOR Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

Kalimat Tauhid artinya kata yang mempersatukan, yakni mengesakan Allah dan mengakui Muhammad sebagai utusan-Nya. Itulah inti syahadat Islam. Kalimat ini pula yang membuat kaum Muslim sedunia ‘satu’. Sumpah Pemuda juga menegaskan tekad tentang persatuan rakyat Indonesia: satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Para santri berdoa di Sidoarjo untuk keselamatan (persatuan) bangsa ini.

Apakah kalimat tauhid berlawanan dengan Sumpah Pemuda? Apakah keislaman bertentangan dengan keindonesiaan? Para ulama yang dulu turut berjuang mendirikan negara ini dengan bijak mengatakan bahwa keislaman itu sejalan dengan keindonesiaan. Hasil-hasil survei beberapa tahun terakhir juga menyatakan, mayoritas rakyat Indonesia menerima Pancasila sebagai titik temu semua elemen bangsa.

Namun, harus diakui pula, ada orang-orang yang mengimpikan negara ini diubah menjadi negara Islam, atau khilafah Islamiyah. Saat penyusunan UUD 1945 hingga Sidang Konstituante, gagasan negara Islam memang pernah muncul, namun semua pihak akhirnya menerima Pancasila. Setelah Orde Baru jatuh, muncul lagi gerakan Islam trans-nasional yang mengimpikan kekuasaan Islam di tingkat global.

Mengapa ide negara Islam itu menarik bagi sebagian orang? Mungkin karena pandangan keagamaan mereka yang eksklusif. Agama dipahami sebagai satu-satunya identitas yang mengikat antar manusia. Pandangan eksklusif ini semakin tumbuh subur jika orang selalu melihat sisi negatif kondisi sosial di negeri ini. Semakin banyak ketidakpuasan, semakin teballah garis pemisah antara ‘kami’ dan ‘mereka’.

Di sisi lain, kita akan segera mengalami bonus demografis. Karena itu, ketidakpuasan kalangan generasi muda wajib diperhatikan. Sebagai ilustrasi, penerimaan CPNS tahun 2018 ini diserbu ribuan pelamar di masing-masing daerah, sementara formasi yang tersedia sangat sedikit. Para sarjana kita berjuang sekuat tenaga agar masuk PNS. Pihak perguruan tinggi juga berusaha semaksimal mungkin membantu.

Selama masa pendaftaran CPNS ini, kami di kampus turut merasakan kegalauan generasi muda. Saya banyak menerima keluhan tentang berbagai persyaratan administratif. Masalah akreditasi misalnya, kebijakan Kemenristekdikti dan Kemenpanrb tampak tidak selaras. Padahal, 1.444 dari 7.900 pelamar CPNS di BKD Kalsel gugur, di antaranya karena dianggap tidak memenuhi syarat administratif akreditasi.

Yang membuat kita lebih galau bukan karena mereka tidak lulus administrasi saja, melainkan betapa banyaknya generasi muda kita yang bermimpi menjadi PNS sementara peluangnya sangat sedikit. Fakta ini menunjukkan bahwa, lapangan kerja yang layak di negeri ini masih sedikit. Selain itu, boleh jadi pula, generasi muda kita kurang kreatif dan inovatif dalam mengembangkan diri dan karir.

Jika para sarjana saja kurang kreatif, bagaimana pula dengan mayoritas generasi muda kita yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi? Bukankah rata-rata pendidikan rakyat kita masih setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)? Bagaimanakah masa depan mereka? Apakah kelak mereka tetap ingin bersatu? Tidakkah mereka kesal menyaksikan para elite negeri yang banyak terjerat korupsi?

Alhasil, hiruk pikuk soal ‘kalimat tauhid’ boleh jadi dipicu oleh suasana politik menjelang pilpres. Kasus ini kiranya tidak akan membawa kepada perpecahan yang berbahaya. Namun, dalam jangka panjang, persatuan hanya akan dapat dipertahankan jika kita semua sungguh-sungguh berjuang, apalagi jika berhasil mewujudkan, cita-cita bersama, yaitu keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Itulah masa depan Sumpah Pemuda dan Islam di negeri ini! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved