Berita Banjar

Api Lumat Hamparan Jerami di Desa Sungaiberangas, Begini Kondisinya

Selasa (30/10) siang hamparan jerami di persawahan di Desa Sungaiberangas dilalap si jago merah.

Api Lumat Hamparan Jerami di Desa Sungaiberangas, Begini Kondisinya
BANJARMASIN POST GROUP/ idda royani
PADAMKAN API - Melalui water boom, petugas penanggulangan bencana berjibaku memadamkan api yang melumat hamparan persawahan di Desa Sungairangas, Kecamatan Martapura Barat, Selasa (30/10) siang. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Meski sejak beberapa pekan terakhir hujan kadang mengguyur bumi, namun hingga kini api masih mengintai lahan dan hutan di Kalimantan Selatan, termasuk di Kabupaten Banjar. Selasa (30/10) siang hamparan jerami di persawahan di Desa Sungaiberangas dilalap si jago merah.

Tingginya temperatur udara disertai embusan angis yang sesekali berembus kencang menyebabkan kobaran api begitu cepat membesar dan meluas. Asap tebal berwarna putih kemerahan pun membumbung tinggi.

Saputan asapnya sebagian juga melingkupi area jalan poros Martapuralama. Beberapa pengendara yang melintas ada yang menutup hidungnya dengan telapak tangan.

Baca: Link Live Streaming Indosiar, Live Streaming Persib Bandung vs Bali United Malam Ini

Baca: Hasil Persija Jakarta vs Barito Putera, Skor Babak Pertama 2-0, Petaka Menit Akhir

Baca: Jadwal dan Lokasi Tes SKD Kemkominfo Pada Pendaftaran CPNS 2018, Bisa Cek Via sscn.bkn.go.id

Pantauan di lokasi, api tersebut melumat jerami di area persawahan. Pesisnya berada di belakang kantor Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Martapura Barat. Namun jaraknya masih lumayan jauh, ratusan meter.

Satu unit helikopter hilir mudik berjibaku memadamkan kobaran api tersebut. Aktivitas water boombing melalui helikopter tersebut menjadi tontonan warga dan pengendara yang melintas di kawasan setempat.

"Cepat juga ya gerakan helikopternya. Semoga apinya bisa cepat padam. Bahaya juga kalau apinya terus membesar, bisa merembet kemana-mana," ucap Nadia Asnia, warga Martapura sengaja berhenti menyaksikan aktivitas helikopter memadamkan api tersebut.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar HM Irwan Kumar menuturkan hingga kini pihaknya tetap siaga api. Namun pejabat eselon II di Bumi Barakat ini belum bisa memberi penjelasan memadai, karena ketika dihubungi masih mengikuti kegiatan Bupati di Gambut.

Terpisah, Kepala Seksie Kedaruratan BPDB Banjar Ricky menuturkan pada Selasa (30/10) kemarin dirinya kembali melakukan pemantauan hotspot melalui udara bersama Tim dari BPBD Provinsi Kalimantan Selatan. "Memang terpantau ada hotspot dan kobaran api di beberapa tempat di wilayah Kecamatan Sungaitabuk dan Martapura Barat," sebutnya.

Baca: Jadwal Semifinal Piala AFC U-19 2018 Qatar vs Korsel, Jepang vs Arab Saudi Live Fox Sports

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) Trans 7 MotoGP Malaysia 2018 Sirkuit Sepang Minggu ini

Dikatakannya, dua unit helikopter BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) bergerak pada Selasa kemarin. Satu di antaranya bergerak memadamkan api yang berkobar di Sungaitabuk, tepatnya di kawasan Desa Sungairangas dan sekitarnya.

"SK kesiagaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berakhir tanggal 31 Oktober. Meski begitu jika ada kebakaran lahan dan hutan, kami tetap akan bergerak melakukan pemadaman," tegas Ricky.

Berdasar pantauannya melalui udara, jelasnya, hotspot dan kebakaran yang saat ini terjadi umumnya berada di area persawahan. "Pascapanen kan jerami padi sangat kering sehingga sangat rentan terbakar. Selain itu memang ada kebiasaan sebagian petani membakarnya untuk membersihkan lahan guna persiapan tanam berikutnya," tandas Ricky.

Diakuinya kebiasaan tersebut telah berlangsung turun-temurun karena memang sangat mudah dan murah. Itu sebabnya meski sejak beberapa tahun lalu pemerintah menerbitkan peraturan yang melarang pembukaan lahan dengan cara pembakaran, namun masih saja ada sebagian orang yang melakukan hal itu.

"Itu memang jadi persalan yang dilematis, karena menyangkut kebiasaan masyarakat. Upaya kami yakni terus melakukan sosialisasi dan mengimbau masyarakat agar sebisa mungkin menghindari cara pembakaran pada kegiatan pembersihan lahan pertanian atau perkebunan," tandas Ricky.

Pembakaran jerami, sebutnya, meski mudah dan murah namun juga berisiko. Jika tidak bisa melakukan isolasi secara memadai, kobaran api justru bisa membesar dan merembet ke persawahan di sekitar. Selain itu meski pemadaman secara manual telah dilakukan maksimal, tapi kadang masih ada saja api yang tersimpan dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa berkobar kembali.

"Karena itu lebih baik memang menghindari cara pembakaran untuk kegiatan persiapan lahan tanam. Lakukan cara lain saja tanpa harus menyulutkan api, ini jauh lebih baik dan aman," ucap Ricky. (banjarmasinpost.co.id/ idda royani)

Penulis: Idda Royani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved