Tajuk

Pancasila dan Rentetan Duka Musibah

Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan sekitar daerah Karawang, Jawa Barat, Senin pagi.

Pancasila dan Rentetan Duka Musibah
Facebook Lion Air Group
Tradisi water salute menyambut kedatangan pesawat baru B737 MAX 8 Lion Air di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (4/7/2017). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Musibah besar dan bencana alam dahsyat terasa beruntun mengguncang tanah air Indonesia. Sebulan lalu, tepatnya Jumat (28/9/2018) gempa berkekuatan 7,4 skala richter memporak-porandakan Donggala dan Palu. Tak cukup itu, menyusul gelombang tsunami hingga menyebabkan ribuan korban jiwa penduduk setempat.

Sumber Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Senin (29/10/2018), melaporkan data sebanyak 2.081 korban meninggal dunia, 12.568 korban luka, 1.309 orang hilang, 214.925 orang mengungsi. Taksiran kerugian material mencapai Rp 15,29 triliun. Hingga kini pemerintah masih melakukan upaya pemulihan pascagempa yang dilanjut pembangunan infrastruktur pada 2019.

Sebulan pascagempa dan tsunami Palu, kemarin, kabar duka kembali menyentak. Kali ini giliran musibah menggoyang dunia penerbangan nasional. Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan sekitar daerah Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi.

Siapa sangka, pesawat jenis Boeing 737 Max 8 ini merupakan pesawat baru, ternyata tak luput kena naas musibah kecelakaan udara. Padahal unit pesawat ini terbilang baru. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapan fakta Pesawat Lion Air JT-610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang terhitung baru mulai Agustus lalu mengudara. Pesawat Lion Air JT-610 aktif mengudara melayani penerbangan penumpang pada Agustus, September, Oktober. Terhitung sudah tiga bulan aktif mengudara dan catatan jam terbang sekitar kurang lebih 800 jam.

Pesawat JT-610 yang jatuh merupakan pesawat series Boeing 737 terbaru, yakni Boeing 737 Max. KNKT menyebutkan kasus jatuhnya pesawat untuk tipe Boeing 737 Max 8 ini baru pertama kali terjadi.

Basarnas menyebutkan berdasarkan data manifest penumpang, sementara ada 189 penumpang dan awak yang ada di pesawat yang jatuh dekat kilang PT Pertamina tersebut. Penumpang diantaranya berasal dari anggota DPRD Bangka Belitung, pegawai Kementerian Keuangan, pegawai BPK.

Hingga saat ini penyebab jatuhnya Lion Air JT-610 belum diketahui. Namun adanya musibah ini menambah rentetan duka bangsa ini.

Presiden Joko Widodo yang berada di Nusa Dua Bali, bahkan langsung memberikan pernyataan dukanya yang mendalam. “Belum selesai satu musibah, musibah lain datang lagi,” ucap Jokowi dengan nada sedih.

Rentetan musibah, bencana demi bencana yang datang silih berganti dalam beberapa bulan terakhir ini tentu sangatlah memukul bangsa ini. Berapa banyak korban nyawa, mereka yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga, derai air mata dan teriakan tangis pedih, belum lagi kerugian materi tak lagi bisa ditakar.

Kejadiannya pun sulit dinalar. Pesawat baru sekelas Boeing 737 seri terbaru yang sebelumnya tidak pernah ada riwayat jatuh, ternyata lagi kena musibah. Semuanya berada di luar jangkauan kuasa manusia. Sebagai insan beragama, kita menyakini ada garis takdir Tuhan Yang Maha Kuasa mengikat semua kejadian.

Kejadian musibah dan berencana yang beruntun, bisa jadi sebagai pertanda peringatan atau bahkan hukuman kasih sayang dari-Nya agar kita masing-masing introspeksi diri, sadar dari kelalaian kesalahan dan bangkit merapatkan barisan menuju keselamatan dan kejayaan.

Kembali pada Dasar Negara, Pancasila yang mungkin terlalaikan atau bahkan terlupakan. Menjunjung sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa hingga terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Usaha atau puncak ikhtiar yang disertai dengan doa merupakan bentuk pengamalan sila 1 Pancasila yang semoga akan menghindarkan hidup dari rentetan bala musibah. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved