Tajuk

Palagan Politik: Sandiwara?

Bagaimana pesta lima tahunan itu bisa mengubah cara pandang rakyat terhadap sesuatu yang belum tentu terbuktikan.

Palagan Politik: Sandiwara?
Istimewa
Pemilu 2019 

BANJARMASINPOST.CO.ID - APA yang sedang hotties di tanah air saat ini? Sejenak, kita bisa mengarahkan pandangan pada fragmen politik yang kini tengah dipentaskan oleh para elite di negeri ini. Ada banyak kelucuan dan juga kekonyolan dari setiap episode yang dipentaskan para elite kita.

Suka tidak suka, pesta rakyat lima tahunan selalu menjadi episode paling menarik. Bagaimana pesta lima tahunan itu bisa mengubah cara pandang rakyat terhadap sesuatu yang belum tentu terbuktikan. Lakon kejujuran, misalnya, sulit untuk kita tidak katakan itu tak lebih dari utopis. Dari sekian pesta lima tahunan yang telah tergelar lakon kejujuran memang sebuah keniscayaan.

Yang terjadi sekarang, justru kita disajikan sesuatu realitas dimana panggung politik di negeri ini begitu konyol. Saking konyolnya, banyaknya pelakon tidak lagi menjadikan sebuah hiburan yang sehat, tapi justru menjemukan. Kita semua tertawa bukan karena senang atau suka, tapi muak!

Babakan awal pesta baru sebulan dimulai. Dan, (sementara) rakyat sudah bisa menyaksikan siapa yang menjadi bintangnya pergelaran. Terlepas buruk dan tidak bermutunya pergelaran, tapi kita tetap harus menghormati kreativitas orang lain. Tumpukan kedongkolan kita tidak serta merta mengharuskan untuk ikut pula bersikap konyol. Setidaknya, kita sudah menikmati hiburan itu, meski dengan kemasan dan sajian cerita yang amat menjemukan.

Dengan kata lain, kita semua harus berjiwa besar menerima kenyataan. Menjadi kurang elegan ketika kita semua menyikapi pergelaran pesta itu dengan pikiran-pikiran kotor. Pestanya jelek, harus kita katakan tidak juga. Dan, memang, menjadi sangat tidak bijak kalau kita menjustifikasi keseluruhan fragmen itu dengan cara-cara yang kontraproduktif.

Harus diakui, pesta rakyat lima tahunan dalam kemasan Pemilihan Presiden (pilpres) dan Pemilihan legislatif (pileg) kali ini membawa konsekuensi sosial dan politik. Dalam suasana kekinian, banyaknya pelakon di dalam pesta, sudah saatnya kita semua mempertimbangkan kembali. Dengan jumlah pelakon dalam pilpres yang hanya dua pasang, kompetisi memang terasa begitu kompetitif. Setiap pelakon berusaha memberikan sesuatu dalam berbagai bentuk harapan dan janji kepada penikmatnya yaitu rakyat untuk lima tahun ke depan.

Dan, palagan politik melahirkan banyak kreativitas, emosi–yang bakal berlangsung setidaknya untuk enam bulan ke depan. Artinya, masih akan banyak adu siasat, strategi dari dua pasang kompetitor bersama masing-masing hulubalangnya sebagai ‘kreator perang’ untuk bisa menjadikan palagan politik memberikan hasil yang memuaskan.

Rakyat sudah barang tentu tidak ingin serangkaian janji surga yang dijadikan daya jual oleh masing-masing pelakon perang nantinya tidak lebih hanya harapan kosong semata. Bagaimanapun kita tentu sudah belajar banyak dari masa lalu dan kemarin –dimana janji-janji manis yang hingga kini tidak lebih bualan belaka!

Dan, akhirnya, jujur harus kita katakan –meski tidak bermaksud untuk bersuudzon- para elite politik di negeri ini memang piawai dalam menciptakan kesemuan dari banyak keinginan mereka di masa datang, meski akhirnya hanya sebuah ilusi semata.

Yang jelas, kita sebagai kawula sudah banyak belajar dari palagan politik masa lalu dimana pilihan untuk menentukan siapa kali ini yang memenangi perang benar-benar membuktikan umbaran dan janjinya di masa datang.

Terpenting, kita semua kali ini ingin hiburan yang benar-benar sehat, segar, dan bisa dinikmati bersama. Karena kita semua tahu ini hanyalah sebuah panggung sandiwara. Seperti lirik lagu karya Taufik Ismail yang dinyanyikan Akhmad Albar; “Dunia ini panggung sandiwara, cerita yang mudah berubah...” (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved