Berita Tanahbumbu

Kapolres Tanahbumbu : Tuduhan yang Beredar di Video Hotman Paris Tidak Benar

Kapolres Tanahbumbu AKBP Kus Subyantoro SiK membantah tuduhan di video instagram pengacara kondang Hotman Faris yang beredar lewat media sosial.

Kapolres Tanahbumbu : Tuduhan yang Beredar di Video Hotman Paris Tidak Benar
capture/instagram/hotmanparisofficial

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN - Kapolres Tanahbumbu AKBP Kus Subyantoro SiK membantah tuduhan di video instagram pengacara kondang Hotman Faris yang beredar lewat media sosial, dari seorang warga Tanahbumbu yang anaknya meninggal saat berada di dalam tahanan Polres Tanahbumbu

"Yang dilaporkan benar atas nama Hendri, tetapi apa yang dituduhkan di video itu tidak benar," kata AKBP Kus Subyantoro SiK yang dikonfirmasi via telepon, Sabtu (3/11/2018).

Diberitakan sebelumnya, seorang warga Tanahbumbu melaporkan kejadian anaknya yang meninggal dunia saat ditangkap pihak kepolisian Polsek Batulicin Kabupaten Tanahbumbu kepada pengacara Hotman Faris. Tiga hari setelah ditangkap atau anaknya meninggal di tahanan.

Sang anak yang dilporkan diketahui bernama Hendri (31) warga Desa Manunggal Kecamatan Karang Bintang Kabupaten Tanahbumbu. Hendri ditangkap karena kasus pencurian dengan kekerasan alias jambret.

Tak terima anaknya meninggal dalam tahanan, orangtua Hendri melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya ke Hotman Faris, sehingga videonya kemudian beredar di instagram/hotmanparisofficial.

Baca: Warga Asal Kabupaten Tanah Bumbu Adukan Kasus Anaknya yang Meninggal di Penjara pada Hotman Paris

Baca: Propam Akan Turun ke Tanahbumbu Terkait Laporan Warga Batulicin ke Hotman Paris

Baca: Live Beinsport 1! Cara Nonton Live Streaming Bournemouth vs Man United Liga Inggris Pekan 11 di HP

Baca: MotoGP Malaysia 2018: Marc Marquez Kena Penalti Turun 6 Posisi Gara-gara Ini, Rossi di Posisi 2

Secara terpisah, Kasat reskrim Polres Tanbu AKP Alfian Tri Permadi, menambahkan Hendri meninggal dunia saat berada di Puskesmas Batulicin. Residivis kasus pencurian dan penganiayaan ini sudah divisum dokter.

"Dokter sudah melakukan visum, dari visum luar tidak ada tanda kekerasan. Tapi diduga korban mengidam suatu penyakit. Saat itu dokter menyarankan diotopsi dan kami dari kepolisian juga menyarankan itu, tapi pihak keluarga menolak diotopsi dan menandatangani penolakan otopsi," katanya.

Sebab itu, semua tuduhan itu tidak benar adanya. Jajarannya masih mengharapkan, pelaku bisa diotopsi karena dari awal, pihak keluarga sudah menolak untuk otopsi.

Alfian juga menjelaskan, Hendri pelaku penjambretan melakukan aksinya selama 3 kali sehari saat dirinya ditangkap polisi dihari itu pada bulan September 2018.

Dua kali gagal melakukan penjambretan namun di aksi ketiganya berhasil melakukan penjambretan dengan menggunakan mobil hilux di Jalan Lingkar Batulicin. Jalan tersebut merupakan jalan yang lengang dan tidak terlalu padat pengendara.

"Kami sudah sesuai dengan SOP," katanya. (banjarmasinpost.co.id/man hidayat)

Penulis: Man Hidayat
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved