B Focus Urban Life

Ditetapkan Menjadi Cagar Budaya, Begini Kondisi Rumah Banjar Bubungan Tinggi Berusia 207 Tahun itu

Pintu rumah banjar Bubungan Tinggi di Desa Telukselong Ulu Martapura Timur Kabupaten Banjar tertutup rapat, Jumat (2/11).

Ditetapkan Menjadi Cagar Budaya, Begini Kondisi Rumah Banjar Bubungan Tinggi Berusia 207 Tahun itu
BPost Cetak

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pintu rumah banjar Bubungan Tinggi di Desa Telukselong Ulu Martapura Timur Kabupaten Banjar tertutup rapat, Jumat (2/11).

Penghuni rumah, Fauziah (60) perlahan membuka pintu mempersilakan BPost masuk untuk melihat kondisi rumah yang ditetapkan menjadi cagar budaya oleh Pemkab Banjar.

Fatimah merupakan generasi keenam dari pasangan H Arif dan Hj Fatimah yang membangun rumah tersebut pada tahun 1811, berukuran panjang 33 meter dengan lebar 13,6 meter.

Fauziah menceritakan, H Arif merupakan seorang saudagar di eranya, pedagang permata sukses yang membawa barang dagangannya hingga ke luar negeri.

H Arif pula banyak diminta pihak kerajaan membangunkan rumah-rumah bagi raja-raja Banjar.

Baca: Ini Fakta Seputar Keimigrasian Terkini di Kalsel yang Penting Diketahui, Cina Dominasi WNA

Baca: Cerita Soimah Yang Bisa Lihat Makhluk Halus, Kaget Lihat Penampakan Dirinya Pakai Baju Cina

Baca: LIPI Ungkap Beberapa Daerah yang Terancam Likuifaksi, Ini Daftar Lengkapnya

Usia rumah Bubungan Tinggi sudah berusia 207 tahun, berorientasi ke Sungai Martapura, terlihat dari posisinya yang tegak lurus dengan Sungai Martapura.

Konon pernah digunakan sebagai markas pejuang pada masa perang kemerdekaan.

Kondisi rumah seakan dibiarkan alami begitu saja, sampai-sampai bagian dinding anjung kanan ada bagian yang menganga.

Bahkan ada bagian atap yang bocor ketika hujan.

Dijelaskan Fauziah, rumah tersebut baru satu kali mengalami rehab pada 1990 yakni bagian lantai, sedangkan bagian atap sudah tiga kali rehab yakni pada 1993, 2005 dan 2017.

Hiasan ornamen tulisan dua kalimat syahadat sudah ada perbaikan dari cat asal keemas-emasan, kini ditambah motif hijau.

Beberapa barang peninggalan zaman dulu masih tersimpan apik, termasuk tempat tidur yang digunakan H Arif dan Hj Fatimah.

"Bantuan yang sering datang dari Badan Arkeolog yang sepengetahuan saya berkantor di Samarinda. Kalau dari Pemkab Banjar sempat ada memperbaiki pagar dan jembatan," katanya.

Menurutnya, setiap hari ada saja pengunjung mulai dari anak-anak sekolah, wisatawan lokal dan mancanegara.

Tercatat dalam satu bulan antara 400 sampai 500 pengunjung, Fauziah pun sembari menunjukan buku tamu yang terletak di atas meja berbahan kayu.

Dirinya berharap ada perhatian lebih dari Pemkab Banjar, misalkan menambah hiasan-hiasan seperti kain arguci, mengatasi dinding rumah dan atap yang mulai bocor, serta bisa menambah kursi-kursi dengan desain dan model tempo dulu untuk bisa dijadikan tempat duduk bagi pengunjung.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved