Tajuk

Sisi Gelap Kasus Novel

Kepolisian yang diserahi tugas oleh Presiden Joko Widodo untuk mengungkap kasus tersebut, belum juga mampu menuntaskannya.

Sisi Gelap Kasus Novel
(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)
Penyidik KPK Novel Baswedan tiba di gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/2/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - LIMA ratus hari lebih sudah kasus penganiayaan terhadap Novel Baswedan, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), belum juga ada kejelasan alias menggantung. Kepolisian yang diserahi tugas oleh Presiden Joko Widodo untuk mengungkap kasus tersebut, belum juga mampu menuntaskannya. Sejauh ini, para petinggi kepolisian berdalih kasus Novel itu masih terus diselidiki. Namun, sudah sejauh mana perkembangannya, masih tetap gelap.

Akankah kasus Novel bakal dalam register dark number? Rasanya memang masih belum sampai ke arah itu. Yang jelas, kasus Novel memang menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan jajarannya.

Dan, rasanya dalam logika awam, memang menjadi sangat aneh dan lucu, kasus Novel belum juga mampu diungkap. Bukan apa-apa. Puluhan saksi sudah diperiksa –termasuk juga Novel Baswedan selaku korban– juga berbagai barang bukti di tempat kejadian perkara. Beberapa orang yang diduga sebagai pelaku memang sudah sempat dimintai keterangan bahkan diamankan. Namun akhirnya polisi pun membebaskannya dengan alasan tak ada bukti yang mengarah kepada yang bersangkutan.

Tuntutan agar kasus Novel segera diungkap, bukannya tidak ada. Ada banyak pihak yang mendesak pemerintahan Jokowi menuntaskan kasus ini. Bahkan, mereka mendesak Jokowi membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) independen agar penyelidikan benar-benar tidak bermuatan kepentingan, selain kepentingan hukum. Sayangnya, presiden masih lebih percaya kepada korps kepolisian untuk menuntaskan kasus Novel.

Pertanyaannya, sampai kapan kasus Novel itu bisa terungkap? Inilah sebenarnya yang dirasakan banyak pihak bahwa kasus Novel bakal tidak pernah terungkap.

Belajar dari perjalanan kasus Novel, sulit untuk tidak mengatakan apa yang dialami penyidik senior KPK itu, tidak bisa dilepaskan dari langkahnya dalam memerangi berbagai kejahatan korupsi yang melibatkan sejumlah petinggi di negeri ini. Jadi, tidak salah kalau kemudian banyak pihak menilai apa yang dialami Novel, bukanlah kasus pidana biasa. Wajar, kalau mereka pun merasakan kasus Novel hanya bakal menjadi catatan pinggir semata –tanpa harus terurai secara telanjang.

Hal ini terlihat dari pernyataan Kastaf Presiden Moeldoko akhir pekan tadi (Jumat, 2/11/2018), saat ditanya awak media atas desakan agar Presiden Jokowi turun tangan atas kasus Novel yang tak kunjung terungkap. Mantan Panglima TNI mengatakan agar urusan itu tidak harus presiden turun tangan. Intinya, Istana tetap memercayakan kepada aparat kepolisian yang memiliki kewenangan untuk menuntaskannya.

Lantas pertanyaannya; sampai kapan? Tidak ada limit waktu yang diberikan istana kepada kepolisian. Ironisnya, sejauh ini nyaris tidak pernah ada pengakuan dari petinggi Polri yang menyatakan atau menyimpulkan dari 500 hari lebih perjalanan kasus Novel telah menemui ‘titik terang”.

Jadi, sejatinya, memang diperlukan kesungguhan presiden dalam menyikapi kasus Novel ini. Publik tidak ingin kasus Novel hanya menjadi catatan pinggir dimana pemerintah tidak mengharapkan sesuatu yang akhirnya melahirkan ketidakselarasan hubungan dengan pihak-pihak tertentu.

Kalau memang itu yang menjadi pertimbangan, suka tidak suka, kasus Novel bisa menjadi raport buruk baik bagi pemerintahan Jokowi. Dan, harus diingat, kasus ini pun bisa menjadi senjata ampuh dari lawan Jokowi tahun depan yang melihat ‘sisi gelap’ pemerintah dalam penegakan hukum di negeri ini. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved