Serambi Ummah

Perlukah Menjanjikan Hadiah ke Anak? Ini Penjelasannya Secara Psikologi Islam

Perlukah menjanjikan hadiah, jika anak memperoleh nilai baik atau memuaskan dalam ujian atau kenaikan kelas?

Perlukah Menjanjikan Hadiah ke Anak? Ini Penjelasannya Secara Psikologi Islam
istimewa/ dokumen pribadi Hilal Najmi
Kepala MAN Insan Cendekia Tanahlaut Hilal Najmi SAg MPdI 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Perlukah menjanjikan hadiah, jika anak memperoleh nilai baik atau memuaskan dalam ujian atau kenaikan kelas?

Reward (ganjaran) dan funishment (hukuman) dalam konteks memberikan pengalaman pendidikan kepada anak dianalogikan seperti dua sisi mata uang.

Kepala MAN Insan Cendekia Tanahlaut, Hilal Najmi SAg MPdI mengatakan dalam proses mendidik, memberikan reward bebas dilakukan oleh siapapun dan dapat ditujukan kepada siapapun.

Reward diberikan atas perbuatan atau hal-hal yang baik yang dilakukan oleh anak, sedangkan funishment dijatuhkan atas perbuatan buruk yang dilakukan oleh anak.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Fuzhou China Open 2018 Anthony Ginting Vs Jonatan Christie

Baca: Jawaban Menohok Direktur BIN Soal Tudingan Ada Peran Intelijen Saat Habib Rizieq Diamankan

Baca: Dugaan Fadli Zon Soal Diamankannya Habib Rizieq Shihab Karena Bendera Oleh Arab Saudi

Baca: Cek Link Pengumuman Kemenkumham CPNS 2018, Jadwal Tes SKD & Link via sscn.bkn.go.id

"Akan tetapi lain halnya dengan pemberian funishment, hukuman tidak dapat dilakukan sewenang-wenang atau menurut kehendak seseorang, tetapi diikat oleh aturan-aturan tertentu," katanya, Kamis (8/11/2018).

Reward yang dalam bahasa agama dikenal dengan ganjaran yang berarti memberikan balasan atau hadiah. Pada dasarnya ganjaran adalah perlakuan yang menyenangkan yang diterima oleh seseorang sebagai konsekwensi logis dari perbuatan baik (amal shaleh) atau prestasi terbaik yang berhasil ditampilkan atau diraih.

Ini seperti yang dicontohkan Allah SWT dalam al-Qur'an surat Ali Imran ayat 148: "Maka Allah SWT memberikan ganjaran kepada mereka didunia dan diakhirat dengan ganjaran yang baik, dan Allah SWT cinta kepada orang-orang yang berbuat baik".

Untuk itu, pemberian reward atau ganjaran dan atau hadiah perlu diberikan kepada anak atas keberhasilan atau prestasinya baik dibidang akademik, nonakademik maupun sosial agar membuatnya termotivasi untuk berbuat yang terbaik dan lebih baik.

Reward tidak terfokus kepada hal-hal yang bersifat materi namun bisa berbentuk pemberian sikap menghargai dan atau berupa kata-kata pujian, yang terakhir adalah selemah-lemahnya reward.

Baca: Ini Kronologi & Rekaman Percakapan Pilot Lion Air JT 610 yang Jatuh, Kotak Hitam Ditemukan

Baca: Respons Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Menyoal Dugaan Curi Start Kampanye Pilpres 2019

Pemberian reward hendaknya jangan dijanjikan terlebih dahulu sebelum anak meraih prestasi atau keberhasilan agar ketika anak menerima reward tidak diartikan sebagai upah dari jerih payah yang dilakukanya.

Ditinjau dari sisi psikologi, reward mempunyai kelemahan yang dapat menimbulkan dampak negatif apabila orang tua melakukan secara berlebihan, anak merasa bahwa dirinya lebih hebat dari saudara atau teman-temannya yang lain.

"Reward perlu diberikan kepada anak dengan ukuran dan takaran yang sepadan," katanya. (banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved