Mereka Bicara

Silaturahmi Membangun Harmonisasi Guru dengan Wali Murid

PENGANIAYAAN guru terhadap siswanya di sekolah terus berulang, baru-baru ini di Garut tanggal 24 Oktober 2018

Silaturahmi Membangun Harmonisasi Guru dengan Wali Murid
takasuu
Ilustrasi kekerasan terhadap anak 

Oleh: Waluyo Satrio Adji, Dosen FTK UIN Antasari Banjarmasin

PENGANIAYAAN guru terhadap siswanya di sekolah terus berulang, baru-baru ini di Garut tanggal 24 Oktober 2018 terjadi penganiayaan oknum guru terhadap murid, menurut pelapor yaitu orang tua siswa sendiri menyatakan bahwa saat pembelajaran di sekolah anaknya mengalami kekerasan fisik yaitu kepalanya dibenturkan, disulut rokok, dan wajahnya ditusuk dengan pulpen, hal tersebut disebabkan hanya karena siswa saat pembelajaran belum bisa menguasai materi perkalian. Fakta lain berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kasus kekerasan di sekolah yang terjadi bulan Januari sampai Juli tahun 2018 terdapat 100 lebih kasus, berkategori fisik dan verbal. Sungguh mengerikan berita tentang pengeniayaan yang dilakukan guru terhadap siswa di sekolah. Bisa jadi ini adalah fenomena gunung es yang sering dialami di setiap sekolah.

Dalih Guru Menghukum
Tidak ada asap kalau tidak ada api, hal tersebut juga berlaku pada oknum guru yang melakukan penganiayaan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Federasi Guru Independen Indonesia, Tetty Sulastri menyatakan bahwa, “Guru berdalih melakukan kekerasan kepada siswa berdasarkan penegakan disiplin di sekolah”. Pada Kasus di Kota Pangkalpinang tahun 2017, pemicunya karena siswa memanggil guru tanpa menggunakan nama “Bapak”, akibatnya terjadi tindakan pemukulan. Secara logika sebagai orang tua dengan adat ketimuran pasti akan marah bila ditempatkan pada kondisi tersebut.

Persoalan kedisplinan, landasan guru mendisiplinkan siswa terdapat pada Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya," bunyi Pasal 39 ayat 1. Lebih lanjut dalam ayat 2 dinyatakan bahwa, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan.

Bila dikaji dari kedua pasal tersebut guru tidaklah salah melakukan pendisiplinan terhadap siswanya dengan hukuman, akan tetapi dalih guru melakukan tindak kekerasan beranggapan untuk mendisiplinkan siswa maka disitulah letak kesalahan dan akan bersinggungan dengan hak asasi manusia khususnya perlindungan anak dan diskriminasi.

Tuntutan Wali Murid
Fakta di lapangan tuntuntan wali murid dari beberapa kasus kekerasan yang terjadi soal hukuman dalam bentuk kekerasan baik fisik maupun verbal di sekolah. Penuturan dari wali murid kepada pihak berwajib pada kasus penganiaayaan siswa di Garut pada tanggal 24 Oktober 2018, bahwa orang tua wali kroscek ke sekolah terhadap penyebab hukuman, ternyata fakta di lapangan banyak siswa yang diperlakukan sama, yaitu dihukum dalam bentuk kekerasan secara fisik dan verbal. Senada pada data yang disampaikan oleh Retno Listyarti komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang pendidikan, pada tahun 2017 banyak menerima laporan pengaduan terkait kekerasan di dunia pendidikan.

Pada ranah normatif, pasal yang sering dijadikan landasan pada setiap laporan adalah Pasal 54 UU No. 23 Tahun 2002 yang mengatur perlindungan terhadap Anak yang berisi “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pendidikan lainnya,” lebih jauh lagi pada jenis tindak kekerasan termaktub jelas pada pasal 69, yaitu kekerasan fisik, psikis, dan seksual.

Mencari Titik Temu dengan Silaturahmi
Apa yang dituntut wali murid terhadap guru tidaklah salah, kalau anaknya dipukul, dibentak, dilecehkan baik dalam dan luar sekolah sebagai orang tua pada normalnya pasti marah. Respons yang dilakukan guru atas tujuan mendisiplinkan guru juga tidak salah, guru itu digugu dan ditiru kalau ada siswa yang melanggar aturan sekolah, wajib memberikan hukuman guna membuat siswa jera atau kapok untuk melakukannya lagi.

Baik wali murid dan guru pasti setuju yaitu bergandengan tangan untuk mewujudkan kecerdasan bangsa melalui pendidikan di sekolah. Namun untuk mewujudkannya bila dari sekolah tidak sesuai dengan harapan wali murid atau sebaliknya maka solusi yang sesuai adalah dengan sering bersilaturahmi mencari titik temu antara guru dan wali murid. Makna silaturahmi secara literal artinya hubungan sesama, sehingga yang dimaksud silaturahmi adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara. Dasar manusia diciptakan sebagai makhluk sosial pasti gemar bersilaturahmi. Lebih dalam lagi menurut Prof. Nasaruddin Umar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan silaturahmi tidak hanya ke sesama manusia, juga perlu dilakukan ke orang yang sudah meninggal, benda-benda, hewan, dan tanaman. Bila ditarik bahwa silaturahmi di dalamnya ada komunikasi antara kedua belah pihak.

Silaturahmi pada konteks praktisnya yakni setiap pemangku kebijakan yaitu pihak sekolah dan wali murid untuk duduk bersama untuk menemukan titik api dalam hal ini hukuman untuk mendisiplinkan siswa, yang selanjutnya dapat ditanggapi wali murid untuk dikritisi, jika hukuman terkesan tidak mendidik dan memberatkan, dapat menanggapi dengan argument yang logis. Tidak terbatas pada pertemuan di ruang, perlu juga digalakkan bersilaturahmi di media sosial seperti telepon, sms, whatsapp, bbm, dsb. Alternatif lewat komunikasi tersebut guna meminimalkan miss persepsi antara guru dan wali murid, jadi apa dan bagaimana pembelajaran di sekolah juga di rumah saling mengetahui.

Lebih lanjut paling utama dari silaturahmi membangun trust dari wali murid terhadap guru dalam mendidik siswa di sekolah. Trust antara kedua belah pihak sangatlah penting Contohnya kenapa kasus kekerasan tahun 80 - 90 an, siswa dihukum secara keras oleh guru karena melanggar aturan, selanjutnya siswa menginformasikan ke orang tua, maka orang tua akan marah ke anaknya, hal tersebut terjadi karena wali murid memberikan trust yang lebih kepada pihak sekolah juga sebaliknya. Bila trust antara kedua belah pihak tercapai, maka mencerdaskan kehidupan bangsa sangat mudah diwujudkan karena guru saat menjalankan profesinya dalam mendisiplinkan siswa tidak sedikit-sedikit dilaporkan ke pihak berwajib disebabkan melanggar Undang-undang perlindungan Anak. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved