Pilpres 2019

Yusril Ihza Mahendra Beberkan Kelemahan Koalisi Kubu Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019

Yusril Ihza Mahendra mengaku tidak pernah menyamakan sistem politik di Indonesia di Pilpres 2019 dengan di Malaysia terkait keluhannya

Yusril Ihza Mahendra Beberkan Kelemahan Koalisi Kubu Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Saksi pihak terkait Yusril Ihza Mahendra mengikuti sidang uji materil di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (5/9/2016). Sidang pengujian materil Pasal 70 (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada mengenai cuti selama masa kampanye yang diajukan sendiri oleh Ahok tersebut beragenda mendengarkan keterangan dari DPR dan Pemerintah. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Yusril Ihza Mahendra mengaku tidak pernah menyamakan sistem politik di Indonesia di Pilpres 2019 dengan di Malayasia terkait keluhannya terhadap koalisi Adil dan Makmur.

"Saya tentu paham sistem pemerintahan Malaysia dan sistem pemerintahan Indonesia. Tidak pernah saya menyamakannya, tetapi dalam hal membentuk “koalisi” (yang sebenarnya tidak ada dalam sistem presidensial) perbandingan dengan Malaysia itu akan banyak membantu dalam menyusun “koalisi” dalam Pemilu serentak di Indonesia," kata Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza, Kamis, (8/11/18).

Yusril menyarankan kepada Prabowo dan Sandiaga Uno sebagai pimpinan koalisi untuk mengundang ketua Partai koalisi dan mendiskusikan format kerjasama politik di Pilpres 2019.

Baca: Prediksi Seminal Piala AFF Futsal 2018, Pemain Futsal Kalsel Ini Yakin Indonesia Menang

Baca: Ini Kronologi & Rekaman Percakapan Pilot Lion Air JT 610 yang Jatuh, Kotak Hitam Ditemukan

Baca: Jawaban Menohok Direktur BIN Soal Tudingan Ada Peran Intelijen Saat Habib Rizieq Diamankan

"Kalau partai-partai hanya diajak koalisi mendukung paslon Prabowo-Sandi tanpa format yang jelas, sementara pada detik yang sama rakyat memilih Presiden dan Wapres serta memilih caleg pada semua tingkatan, maka pembagian “peta dapil” menjadi sangat penting sebagaimana dapat dicontoh sebagai perbandingan dari Pemilu di Malaysia,"katanya.

Dengan seperti itu menurut Yusril tidak akan terjadi tabrakan anatara partai koalisi di Pemilu legislatif 2019. Pasalnya ada format koalisi yang jelas, salah satunya pembagian 'peta Dapil'.

"Dalam “koalisi” di sini, di satu pihak anggota koalisi disuruh all out kampanyekan Prabowo-Sandi, tetapi dalam pileg di suatu dapil sesama anggota koalisi saling bertempur untuk memperoleh kemenangan bagi partainya," Katanya.

Bila seperti itu menurut Yusril sangat mungkin nantinya terjadi Prabowo-Sandi menang di Pemilu Presiden namun partai koalisi tidak masuk dalam ambang batas parlemen,terkecuali Gerindra.

Baca: Dugaan Fadli Zon Soal Diamankannya Habib Rizieq Shihab Karena Bendera Oleh Arab Saudi

Baca: Respons Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno Menyoal Dugaan Curi Start Kampanye Pilpres 2019

Baca: Sikap Bawaslu Tentang Dugaan Curi Start Kampanye Pilpres 2019 Jokowi-Maruf Amin

"Nanti yang akan terjadi adalah Prabowo Sandi menang pilpres, tetapi dalam Pileg yang sangat diuntungkan adalah Gerindra, yang kemungkinan akan menjadi partai nomor 1 atau nomor 2. Partai-partai anggota koalisi yang lain bisa babak belur. Ini saya saya katakan dalam Pileg di Dapil, PBB bisa “digergaji” sama Gerindra," katanya.

Oleh karena itu menurut Yusril ia pernah menyampaikan kepada Prabowo-Sandi untuk mengundang pimpinan partai koalisi membahas draf koalisi. Namun usulannya tersebut tidak pernah direspon.

Ia juga sudah mengutus MS Kaban dan Ferry Noor untuk bertemu Imam Besar FPI Rizieq Shihab membicarakan masalah tersebut. Hasilnya sejumlah tokoh dan ulama merumuskan “draf aliansi” di rumah KH A Rasyid Abdullah Syafii. Draf itu dilaporkan Rizieq oleh Munarman dan dikirimkan tanggal 13 Oktober 2018 ke Pak Prabowo untuk direspons. Hingga kini tidak ada respons apapun dari beliau.

Baca: Pasien Panik Hingga Digendong ke Luar RS Saat Gempa Bumi 5,2 SR Guncang Mamasa

Baca: Kisah Haru Ustadz Abdul Somad Mengenai Gempa Bumi di Donggala dan Tsunami di Palu Sulteng

"Saya sengaja menulis ini menaggapi apa yang ditulis oleh Saudara Habiburrokhman, supaya masyarakat tahu latar belakang mengapa saya pribadi berpendapat koalisi yang ingin dibangun dibawah pimpinan Partai Gerindra itu tidak jelas format dan arahnya,"pungkas Yusril.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Penjelasan Yusril Soal Format Koalisi Kubu Prabowo Tidak Jelas Arahnya

Editor: Rendy Nicko
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved