Berita Hulu Sungai Utara

Cari Bahan Baku di Hutan dan Bikinnya Susah, Namun Harganya Sangat Rendah

Warga biasanya mendapatkan bahan baku purun dari hutan atau membeli ke pasar. Sayangnya saat ini para pengrajin dikeluhkan dengan harga

Cari Bahan Baku di Hutan dan Bikinnya Susah, Namun Harganya Sangat Rendah
reni kurnia wati
Warga desa keramat Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sebagian besar warganya merupakan pengrajin anyaman purun. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Warga desa keramat Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sebagian besar warganya merupakan pengrajin anyaman purun. Anyaman purun biasanya dibuat untuk dijadikan tikar atau alas yang telah di anyam.

Warga biasanya mendapatkan bahan baku purun dari hutan atau membeli ke pasar. Sayangnya saat ini para pengrajin dikeluhkan dengan harga jual tikar yang sangat rendah.

Yang diungkapkan Imah salah satu pengrajin dirinya mengatakan proses pembuatan tikar purun cukup lama. Dimulai dengan membeli bahan baku atau mencabut tanaman purun yang biasa tumbuh di daerah rawa. Turun di potong hingga tersisa bagian batang dan disortir menurut panjang dan besar nya.

Baca: KemenPAN RB Janjikan Solusi Bagi Peserta Tak Lolos Tes SKD Karena Passing Grade Tes CPNS 2018

Turun kemudian dijemur sampai benar-benar kering lalu diikat kembali dan ditumbuk menggunakan alat sederhana berbentuk seperti Kincir menggunakan tenaga diesel. Sebelumnya pengrajin menumbuk atau dikenal dengan proses menutuk ini menggunakan tenaga manusia dengan cara memukul mukul purun kering.

Setelah turun menjadi pipih baru dianyam berbentuk persegi panjang lebar dengan ukuran sekitar 1 meter kali satu setengah meter. Upah menutup atau menumbuk turun ikat adalah 3500 untuk satu gulung purun dalam satu gulung pun bisa menghasilkan 8 hingga 10 lembar tikar.

Baca: Sesaat Lagi! Live Streaming Indosiar Persebaya vs PSM Makassar Liga 1 2018 Malam ini

"Sayangnya tikar saat ini dibeli dengan harga rendah sekitar Rp 4000 perlembar, dalam satu hari bisa menghasilkan 3 lembar tikar, dan hasil penjualan kembali diputar untuk membeli bahan baku dan upak menutuk," ungkapnya.

Total keuntungan bersih sekitar Rp 1000 hingga Rp 2000 untuk satu tikar. Pembuatan purun tidak bisa dilakukan setiap hari jika tidak tersedia bahan bakar solar untuk menggerakkan menis penumbuk purun.

"Pakai bahan bakam solar, barangnya langka harga dieceran mahal tapi harga jual tikar masih murah," ujarnya.

Baca: Hasil Akhir Persija vs PS Tira : Persija Ditahan Imbang Tanpa Gol, Skor Akhir 0-0

Para pengrajin berharap harga jual bisa lebih mahal dari pengumpul atau bisa juga mendapat bantuan dari pemerintah untuk pemasarannya.

Terpisah Camar Haur Gading mengatakan pihak kecamatan terua berupaya agar setiap desa bisa membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang dikelola oleh pihak desa dan bisa membantu para pengrajin dengan memberi hasil kerajinan warga.

"Kami masih terus berupaya untuk meminta bantuan dari Diskoperindag untuk membantu mempromosikan hasil kerajinan warga," u gkapnya. (Nia)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved