Berita Kabupaten Banjar

Demi Anak-anak Berkebutuhan Khusus, PFAI Turun ke Puskesmas, Ratih: Gratis!

"Secepatnya kami akan terjun ke puskesmas-puskesmas yang ada di Banua ini. Kami akan melakukan penanganan anak-anak difabel"

Demi Anak-anak Berkebutuhan Khusus, PFAI Turun ke Puskesmas, Ratih: Gratis!
Idda Royani
Ketua PFAI Pusat Ahmad Syakib menyematkan pin kepada Ketua PFAI Cabang Kalsel Haerati, Sabtu (10/11). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Aksi sosial akan segera dilakukan pengurus dan anggota Perhimpunan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI) Cabang Kalimantan Selatan setelah dilantik oleh pengurus pusat, Sabtu (10/11). Mereka akan turun ke seluruh penjuru Kalimantan Selatan.

"Secepatnya kami akan terjun ke puskesmas-puskesmas yang ada di Banua ini. Kami akan melakukan penanganan anak-anak difabel atau anak berkebutuhan khusus (ABK)," ucap Ketua PFAI Cabang Kalsel Haerati.

Ia menegaskan kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat Kalsel. Karena itu pihaknya rela melakukan penanganan anak-anak difabel secara cuma-cuma atau gratis.

Baca: KemenPAN RB Janjikan Solusi Bagi Peserta Tak Lolos Tes SKD Karena Passing Grade Tes CPNS 2018

Perempuan yang akrab disapa Ratih ini mengatakan pihaknya juga akan menggencarkan sosialisasi. Tujuannya agar kalangan orangtua yang memiliki anak difabel tak sungkan untuk membawa sang anak ke puskesmas atau rumah sakit untuk selanjutnya ditangani.

Bocah ini riang sambil belajar corat-coret buku. Sementara sang ibu fokus mengikuti workshop fisioterapi di RSJ Sambang Lihum, Sabtu (10/11).
Bocah ini riang sambil belajar corat-coret buku. Sementara sang ibu fokus mengikuti workshop fisioterapi di RSJ Sambang Lihum, Sabtu (10/11). (Idda Royani)

"Jangan sungkan apalagi malu. Anak-anak penyandang disabilitas tak hanya membutuhkan kasih sayang, tapi juga perlu pengobatan atau penanganan," tandas Ratih.

Kalangan orangtua juga perlu secara aktif berkonsultasi ke fisioterapis yang ada di rumah sakit agar bisa mendeteksi secara dini apakah tumbuhkembang sang anak normal atau abnormal (ABK). Sejak usia 40 hari pum bisa diketahui jika orangtua telah mengenali ciri-cirinya seperti lambannya respons mata, gerak tangan, atau kemampuan verbalnya.

Baca: VIDEO - Link Live Streaming RCTI & Jadwal Timnas Indonesia vs Timor Leste di Piala AFF 2018

Di Kalsel saat ini telah terdapat 102 orang fisioterapis. Dari jumlah ini, 83 orang diantaranya ada di Kota Banjarmasin. Mereka siap memberikan pelayanan secara maksimal untuk menangani ABK melalui terapi rutin.

"Di Kalsel ini cukup tinggi jumlah ABK. Di Kota Banjarbaru saja tercatat 500 kasus autis dan 83 anak memgalami celebral palsy atau kesulitan gerak," beber Ratih.

Dikatakannya, anak-anak difabel atau ABK memang tidak bisa disembuhkan. Tapi, melalui terapi khusus bisa dicegah kemunduran tumbuhkembangnya sehingga setidaknya tetap punya kepercayaan diri dan secara bertahap kondisi fisik dan psikisnya berangsur membaik.

Baca: Tabrak Kios dan Tiang Listrik, Mobil Ringsek, Kasat Lantas: Sopirnya Bahkan Tak Alami Lecet

Salah satu orangtua yang memiliki ABK, Devi Yuliana, mengakui pentingnya peran fisioterapis. "Anak perempuan saya yang sejak kecil mengalami celebral palsy, tak bisa berjalan dan kesulitan menggerakan tangn, alhamdulillah sekarang berangsur membaik berkat rutin terapi pada fisioterapis di RSJ Sambang Lihum," tuturnya.

Bahkan, lanjut warga Banjarbaru ini, kini anaknya telah bersekolah di sekolah umum inklusi di Banjarbaru. Kepercayaan diri anaknya juga tinggi meski harus belajar di kursi roda. (roy)

Penulis: Idda Royani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved