Opini Publik

Mencari Nuansa Baru Hari Pahlawan

Pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani

Mencari Nuansa Baru Hari Pahlawan
dokumen
Pahlawan Nasional berasal dari Kalimantan Selatan. 

Media informasi sangatlah banyak, baik itu melalui buku teks, majalah, koran, bahkan dengan pemanfaatan internet sekalipun.

Sebagai generasi muda di banua kita patut berbangga karena tepat tanggal 8 Nopember kemarin, ada satu Pahlawan Nasional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Akhirnya melalui serangkaian proses yang panjang, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Ir H Pangeran Mohammad Noor. Gelar tersebut diberikan Presiden Joko Widodo sesuai dengan Keppres Nomor 123/TK/Tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Pada saat revolusi fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, Pangeran Mohammad Noor pernah terlibat dalam pertempuran Surabaya 10 Nopember 1945. Sebagai pejuang di Kalimantan Selatan, Pangeran Mohammad Noor berhasil mempersatukan pasukan pejuang kemerdekaan di Kalimantan ke dalam basis perjuangan yang diberi nama Divisi IV ALRI Pertahanan Kalimantan di bawah pimpinan Hasan Basry (1945-1949).

Kemudian beliau pernah menjabat sebagai gubernur Kalimantan pertama dan menteri pekerjaan umum di era pemerintahan Presiden Soekarno. Saat dipercaya menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum, beliau mencanangkan sejumlah proyek, seperti Proyek Waduk Riam Kanan di Kalimantan Selatan dan Proyek Waduk Karangkates di Jawa Timur. Selain itu, Pangeran Mohammad Noor juga menggagas Proyek Pasang Surut di Kalimantan dan Sumatera. Beliau juga menggagas Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Barito yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan dan Pengerukan Muara/Ambang Sungai Barito yang dilaksanakan pada akhir tahun 1970.

Sekarang sosok pahlawan masa kini semakin banyak dibutuhkan demi tercapainya keadilan dan pemerataan di semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimulai dari hal yang kecil seperti menumbuhkan nilai-nilai kepahlawanan di dalam diri masing-masing. Kita memang sekarang tidak lagi mengangkat senjata untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan, namun tantangannya lebih besar dari sekedar berperang.

Dalam arti berperang mengatasi krisis moral yang sampai saat ini mewabah seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Seseorang yang tergugah rasa kepahlawanannya akan memberikan contoh yang positif agar konsisten memerangi perilaku-perilaku negatif tersebut dengan cara berperilaku jujur. Nilai-nilai kepahlawanan juga bisa ditumbuhkan dengan menanamkan arti toleransi kepada orang-orang yang memiliki pandangan politik yang berbeda.

Dewasa ini masyarakat kita larut akan euforia pemilu tahun 2019 mendatang. Banyak elemen masyarakat yang terbelah karena perbedaan pandangan politik, dulu berkawan sekarang menjadi lawan. Para elite nasional hanya fokus kepada kepentingan sektoral dan kepentingan pribadi daripada menciptakan sebuah perubahan mentalitas bangsa menuju masyarakat yang madani di dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saatnya kita berani melawan arus, seperti yang diajarkan oleh para pahlawan yang sudah memberikan kemerdekaan kepada kita. Para pahlawan di masa lalu berani tampil beda, dengan tidak takluk terhadap penjajah yang ingin menghilangkan nama Indonesia. Menjadi pahlawan memang berat, namun setidaknya secara mentalitas kita berkeinginan untuk mempunyai karakter yang akan menumbukan sisi-sisi jiwa kepahlawanan kita. Percayalah, semua orang bisa menjadi pahlawan.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved