Kronika

Kena Batunya

PRABOWO keseleo lidah? Tidak. Ketika meresmikan Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Boyolali 30/10/2018 lalu dia terlalu bersemangat.

Kena Batunya
Ihsanuddin
Calon presiden Prabowo Subianto berjoget saat berkampanye di Boyali, Jawa Tengah, Kamis (26/6 /2014) 

Oleh: Pramono BS

PRABOWO keseleo lidah? Tidak. Ketika meresmikan Badan Pemenangan Prabowo-Sandi di Boyolali 30/10/2018 lalu dia terlalu bersemangat. Dia menunjukkan adanya ketimpangan kaya miskin dengan orang Boyolali sebagai contoh. Orang Boyolali digambarkan sebagai pihak yang belum sejahtera. Kalau masuk hotel di Jakarta, katanya, bisa-bisa ditolak karena tampang Boyolalinya. Ucapan itu disampaikan dalam lingkup terbatas, diantara para pendukungnya.

Ternyata masyarakat Boyolali tersinggung dan Minggu 4/11 mengadakan pawai memprotes ucapan calon presiden nomor 2 tersebut. Pawai diikuti pula oleh bupati dan ketua DPRD serta sejumlah pejabat. Bupati Seno Samodro bahkan meminta rakyatnya untuk tidak memilih pasangan capres/cawapres nomor 2, Prabowo/Sandi. Bukan hanya itu, masyarakat juga melaporkan Prabowo ke polisi.

Kalau melihat narasinya dan ruang lingkup dia bicara sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi ini masa kampanye apapun bisa dipelintir oleh mereka yang berkepentingan lain.

Ini persis seperti kasusnya mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) saat berpidato di Pulau Seribu. Dia menyinggung salah satu surat dalam Alquran. Narasinya bukan untuk menghina salah satu agama, tapi oleh pihak lawan digoreng sedemikian rupa sehingga pidato Ahok menjadi penistaan agama. Jutaan orang turun ke jalan, demo berbau SARA berjilid-jilid dan kegaduhan tak terhindarkan.

Kebetulan saat itu dalam masa kampanye pilkada di mana Ahok menjadi salah satu calon. Kasus ini pun dijadikan alat kampanye pihak lawan. Bukan itu saja Ahok juga diseret ke pengadilan. Siapa saja di belakang mereka semua tahu. Saat itu Prabowo tengah sakit hati pada Ahok karena keluar dari Gerindra. Negeri ini nyaris terbelah oleh sikap antipersatuan, intoleran dan semacamnya.

Kedua kasus di atas sama, semua berawal dari pidato yang baik-baik saja tapi kemudian diperluas oleh mereka yang berkepentingan untuk menjatuhkan lawan apalagi menjelang pemilu/pilpres.

Dalam masa kampanye orang selalu mencari celah kelemahan lawan. Semestinya itu diisi dengan rencana besar yang ditawarkan kepada rakyat. Indonesia negara besar, banyak yang harus dikerjakan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi akal sehat sering dikesampingkan, sebab tidak punya konsep. Jadinya ya... asal ngomong. Bukan rencana besar yang ditonjolkan tapi caci maki.

Harus diakui Prabowo beberapa kali blunder dalam menyampaikan pendapat. Misalnya, Prabowo melempar isu 99 persen rakyat Indonesia miskin. Kalau benar mana mungkin jalan-jalan di kota dan desa penuh kendaraan roda dua dan empat. Ini indikator kemakmuran. Dia juga bilang Indonesia tahun 2030 bakal bubar, tapi tidak didukung data dan alasan yang masuk akal.

***

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved