Tajuk

Belajar dari Dolly

Nasib serupa juga terjadi di Pembatuan, Banjarbaru. Berulang kali dilakukan penertiban, masih saja Satpol PP memergoki aksi prostisuti.

Belajar dari Dolly
banjarmasinpost.co.id/afunk
Petugas Satpol PP menemukan alat kontrasepsi kondom saat penertiban di eks lokalisasi Ria Begau, Banjarmasin Selatan, Senin (28/12/2015) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Secara resmi, lokalisasi di Gg Ganda Magfira, yang dikenal dengan kawasan Ria Begau sudah ditutup sejak 2014 silam. Artinya, empat tahun sudah industri esek-esek dicabut dari salah satu sudut wilayah Banjarmasin ini.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Meski berlangsung secara diam-diam, prostitusi ternyata masih terjadi di kawasan ini. Hasil investigasi Banjarmasin Post menemukan keberadaan pekerja seks komersial (PSK) yang masih berpraktik di Ria Begau.

Nasib serupa juga terjadi di Pembatuan, Banjarbaru. Berulang kali dilakukan penertiban, masih saja Satpol PP memergoki aksi prostisuti.

Tentu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah ada yang salah dengan kebijakan penutupan ini? Lalu sejauh mana upaya pengawasan pemerintah sehingga masih saja kecolongan?

Sepertinya kita mesti belajar dari Pemkot Surabaya dalam menutup Dolly, lokasi prostitusi yang konon terbesar di Asia Tenggara.
Guna mencegah munculnya kembali binis terlarang itu, begitu ditutup, sektor ekonomi lain ditumbuhkan untuk menggantikan jasa prostitusi yang berpuluh-puluh tahun menghidupi ribuan orang.

UKM didorong oleh Pemkot Surabaya dan difasilitasi sebagai sekoci bagi mereka yang dulu terlibat dalam industri prostitusi, sepeti penjaga parkir, pekerja penghinapan, keamanan dan PSK. Modal dan pelatihan diberikan oleh Pemkot sebagai bentuk tangungjawab mereka terhadap warga yang terdampak secara eknomi.

Bahkan, saat ini muncul berbagai industri kreatif di Dolly, seperti UKM batik, UKM sandal dan sepatu dan industri tempe. Tak sekadar hidup, UKM batik umpamanya, dilirik desainer nasional dan sudah dipasarkan hingga luar negeri.

Warga pun bersatu dengan pemerintah untuk bersama-sama mengawasi, sehingga tak ada aksi kucing-kucingan atau kamlufase menghidupkan lagi bisnis ini.

Poin ini kiranya penting sebagai salah satu cara menghentikan aksi prostitusi di Begau dan Pembatuan. Pengawasan tak sekadar hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi juga masyarakat. Itu harus ditumbuhkan dengan cara-cara persuasif, seperti halnya pendekatan ekonomi dalam contoh di Dolly.

Berulang kali dilakukan razia dan penertiban, tapi bila masyarakatnya sendiri apatis dan bahkan masih terlibat, kiranya sulit.

Atau jangan-jangan masyarakat dan para pelaku prostitusi masih bingung, dengan apa mereka harus mengais rezeki pascapenutupan, karena tidak adanya alternatif yang diberikan pemerintah. Tentu persoalannya tidak menjadi sesederhana sebuah upaya penertiban atau aksi razia.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved