Jendela

Menjaga Kewarasan

Saya sungguh terhibur dengan ungkapan ‘waras’ tadi, meskipun saya tidak yakin apakah benar perilaku saya tergolong waras alias sehat dan normal.

Menjaga Kewarasan
Mujiburrahman 

Oleh : Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “EH, ternyata Pak Rektor hadir juga di sini.” Begituah komentar sejumlah kawan akademisi kepada saya, saat menghadiri dan presentasi di International Symposium on Religious Life di Yogyakarta, minggu lalu. “Ini kan untuk menjaga kewarasan,” kata seorang pejabat pusat yang juga ikut dalam perbincangan itu, sambil melirik ke saya. Kami pun tertawa lepas.

Sudah maklum, jika menjadi pejabat, orang akan sibuk dengan administrasi dan seremoni. Urusannya hanya seputar rapat, memeriksa dan menandatangani surat, memberi sambutan dan membuka acara. Nyaris tidak ada lagi waktu untuk membaca, belajar dan mendengarkan, apalagi meneliti dan menulis. Padahal, bagi seorang akademisi, menjadi pejabat itu hanya tugas tambahan dan sementara belaka.

Karena itu, saya sungguh terhibur dengan ungkapan ‘waras’ tadi, meskipun saya tidak yakin apakah benar perilaku saya tergolong waras alias sehat dan normal. Jangan-jangan, seperti yang ‘dinasihkatkan’ seorang senior kepada saya, kalau sudah menjadi pejabat, orang harus membiasakan diri dan betah dengan aneka seremoni dan formalitas. “Anda harus move on,” katanya. Saya tersenyum kecut.

Namun, saya kira, maksud terdalam dari ‘waras’ itu bukan sekadar konsisten dengan profesi utama kita, melainkan juga kerelaan untuk membuka diri, keluar dari kungkungan birokrasi untuk mendengarkan dan meresapi suara-suara lain yang mungkin lebih jernih dan otentik. Berjumpa kawan-kawan yang memiliki visi dan missi hidup yang mulia selalu membahagiakan, menyemangati dan menginspirasi.

Mungkin hal itu pula yang dirasakan seorang bupati, yang mengajak saya ngobrol sambil makan malam beberapa waktu silam. Dia rupanya hanya ingin curhat. Dia mengaku seringkali tak berdaya menghadapi tekanan orang-orang kuat di pusat ataupun daerah. Mereka tidak memegang jabatan resmi, tetapi sangat berpegaruh. Kalau ada yang berani melawan, bisa jadi akan dijebak hingga terjerat hukum.

Menghadapi keadaan galau itu, sang bupati berusaha mencari kedamaian hati. Bersama sejumlah anak buahnya, dia mendaki gunung dan masuk hutan. Perjalanan itu sangat melelahkan dan berbahaya, tetapi dia puas. “Saya berjumpa dengan orang-orang pedalaman yang tulus dan polos. Mereka sangat gembira menyambut kedatangan kami. Bahkan anjing-anjing mereka pun turut berbahagia,” katanya.

Lain waktu, usai menyampaikan ceramah agama, saya berjumpa kawan lama yang dulu sama-sama di pesantren dan kini menjadi ulama terkemuka. Dia berusaha menjadi ulama yang teguh pendirian dan independen. Dia tidak mau menerima, apalagi meminta, bantuan penguasa untuk pesantren yang dibangunnya. Dia juga menolak bergabung dengan oligarki yang amat berkuasa di daerahnya.

Rupanya, sikapnya yang teguh itu membuatnya dicurigai. “Sikap saya itu justru ditafsirkan negatif oleh penguasa. Saya dianggap melawan. Padahal, saya hanya ingin menjadi orang baik-baik, tidak mengajak orang memberontak. Saya bahkan sempat didatangi dan ditanyai pihak tertentu selama dua bulan. Tetapi saya tetap tenang dan tidak takut karena saya yakin, saya tidak bersalah,” katanya.

Dia menyesalkan sikap sebagian ulama yang mau dibeli. Bahkan ada yang rela mencium tangan si kaya-berkuasa itu. Demi uang, harga diri tergadaikan. Akibatnya, si kaya-penguasa dan para pendukungnya akan tertawa-tawa melecehkan ulama. “Ternyata, ulama pun sama. Dikasih duit, selesai!” kata mereka. Lebih berbahaya lagi, nilai-nilai moral yang diajarkan ulama akan dianggap omong kosong belaka.

Saya tertegun sejenak. Kawan saya tampaknya benar. Kita memang perlu menjaga kewarasan, antara lain melalui perjumpaan dengan orang-orang di luar lingkaran rutin kita. Keluar dari rutinitas ibarat keluar dari ruangan pengap untuk menghirup udara segar. Mendengarkan suara hati orang lain akan membangkitkan suara hati nurani kita sendiri.(*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved