Opini Public

Kuartet Pahlawan Nasional Banjar

Ditetapkannya Ir Pangeran H Mohammad Noor sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Joko Widodo menjelang Hari Pahlawan

Kuartet Pahlawan Nasional Banjar
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

Oleh: AHMAD BARJIE B, Mahasiswa Pascasarjana UIN Antasari

(Penulis Buku Sejarah dan Budaya Banjar)

PENULIS tengah menyusun buku sejarah Banjar untuk bahan bacaan nonteks muatan lokal bagi anak-anak sekolah dasar dan menengah. Rencana judulnya “Trio Pahlawan Nasional Banjar”. Mereka adalah Pangeran Antasari, Brigjen TNI (Purn) H Hassan Basry dan DR KH Idham Chalid.

Ditetapkannya Ir Pangeran H Mohammad Noor sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI Joko Widodo menjelang Hari Pahlawan 10 November 2018, berarti pahlawan nasional yang berasal dari Banjar Kalimantan Selatan bertambah satu menjadi empat. Mereka bisa kita sebut “Kuartet Pahlawan Nasional Banjar”.

Kebanggaan Banjar
Pangeran Mohammad Noor lahir di Martapura 24 Juni 1901 dari keluarga bangsawan Banjar, cicit dari Ratu Anom Mangkubumi Kentjana bin Sultan Adam Al-Watsik Billah. Saat itu menjelang berakhirnya Perang Banjar-Barito (1859-1906) dan Kesultanan Banjar sudah dihapuskan secara sepihak oleh penjajah Belanda. Keluarga kesultanan terpencar di mana-mana, mereka tidak lagi memiliki hak-hak istimewa di bidang penguasaan tanah, perkebunan, perdagangan, sehingga banyak yang jatuh miskin.

Gusti Muhammad Noor bin Gusti Muhammad Ali, begitu nama kecilnya, tidak menyerah pada keadaan. Ia berusaha sekolah dalam kondisi sulit. Lulus HIS (1917) ia belajar di MULO (1921), lalu ke HBS (1923), kemudian kuliah di Techniche Hooge School (THS), sekarang ITB Bandung dan berhasil mencapai gelar engineer (insinyur) 1927, setahun setelah Ir. Soekarno (presiden RI pertama) memperoleh gelar yang sama.

Gelar kesarjanaan yang disandangnya sangat bergengsi dan dibutuhkan oleh Belanda. Kalau ingin hidup enak, ia bisa bekerja di mana saja. Namun ia lebih memilih berjuang untuk kemaslahatan rakyat. Antara 1935-1939 ia menggantikan ayahnya sebagai wakil Kalimantan dalam Volksraad. Selanjutnya aktif di dunia pergerakan dan menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama Soekarno-Hatta cs.

Pada pertempuran Surabaya (Oktober-November 1945), Mohammad Noor ikut melawan tentara Sekutu. Menurut cucunya Gusti Firdaus, kakeknya sempat terkena pecahan bom Sekutu, namun selamat karena seseorang mendorongnya. Sampai wafat tak diketahui siapa yang mendorongnya hingga selamat.

Di masa revolusi (1945-1949) beliau mendirikan pasukan MN 1001 yang beroperasi di Kalsel di bawah pimpinan Hassan Basry dan di Kalteng pimpinan Tjilik Riwut. Saat diangkat menjadi Gubernur pertama Kalimantan, Mohammad Noor berkedudukan di Yogyakarta, karena Jakarta diduduki NICA Belanda dalam Agresi I dan II. Beliau memfasilitasi Idham Chalid cs bertemu Wapres Mohammad Hatta, di situ Hatta meminta agar Kalimantan terus berjuang secara militer (perang gerilya) maupun politik, meskipun Jawa (pusat) belum bisa membantu karena kondisi serba darurat.

Usai Pengakuan Kedaulatan dan Indonesia mulai membangun, beliau diankat menjadi Menteri PU karena keahliannya di bidang pertanahan dan pengairan. Menurut Ir HM Said (Gubernur Kalsel 1983-1995), Mohammad Noor berhasil merealisasikan proyek sungai Barito (Barito river outhority), pembukaan persawahan pasang surut (P4S), pembangunan PLTA Riam Kanan, sebagian kanal Banjarmasin-Sampit, juga pengerukan ambang Barito. Proyek ini besar sekali manfaatnya untuk meningkatkan kemakmuran lembah sungai Barito yang mencakup Kalimantan Selatan dan Tengah. Beliau ingin proyek ini sama dengan Mekong Project di Vietnam dan Missisipi Valkey Outhority di Amerika.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved