Tajuk

Bom Waktu HIV/AIDS

Pada 2017 pengidap HIV/AIDS di Kalsel ternyata makin mengkhawatirkan. Dari data hingga Juni 2017

Bom Waktu HIV/AIDS
net
+ Share Sejumlah Pejabat dan PNS di Sumsel Tertular HIV net Ilustrasi HIV/AIDS 

PROVINSI Kalimantan Selatan (Kalsel) merupakan salah satu daerah di Indonesia berisiko tinggi penularan HIV/AIDS, yang terindikasi dari terus meningkatnya penyebaran penyakit mematikan tersebut di 13 kabupaten dan kota setempat.

Pada 2017 pengidap HIV/AIDS di Kalsel ternyata makin mengkhawatirkan. Dari data hingga Juni 2017, orang dengan HIV/AIDS atau disebut ODHA mencapai 1.864. Jumlah itu jauh meningkat ketika kita ungkap data hingga Agustus 2018 yaitu sebanyak 2.128 orang.

Data ini jumlahnya cukup fantastis lagi kalo kita tarik ke belakang yaitu antara 2013 hingga 2016. Menurut data yang pernah dilansir Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (www.infopublik.id), di Kalsel pada 2013 ada sebanyak 185 penderita, 2014 dengan 250 penderita, 2015 naik jadi 276 penderita, dan pada 2016 meningkat tajam menjadi 513 penderita.

Sementara itu rekor tertinggi ODHA 2018 dari segi daerah menurut data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalsel, posisi pertama ditempati Kota Banjarmasin dengan 647 orang, disusul Tanahbumbu (294), Banjabaru di urutan ketiga (236 orang) dan Kabupaten Banjar dengan 117 orang (data Dinkes Banjar).

Dari semua data itu, lebih mengejutkan kalau dilihat dari golong usia penderitanya. Menurut data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kalsel 2018, dari jumlah 2.128 penderita, yang terinfeksi paling besar adalah golongan usia produktif atau generasi usia 20-29 tahun.

Ini bisa menjadi ‘bom waktu’. Bagaimana tidak? Tren pergerakan jumlah pengidap HIV/AIDS di banua kian hari kian mengkhawatirkan. Seperti dikatakan Psikolog Ratih Ibrahim (http://intisari.grid.id), pada saat remaja, yakni sudah memasuki masa pubertas akan muncul ketertarikan terhadap lawan jenis. Dan sayangnya, para remaja ini belum tentu matang secara emosional.

Memprihatinkan lagi, ketertarikan tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar. Inilah yang menyebabkan remaja rentan melakukan perilaku seks berisiko dan tertular HIV. Remaja ini harus dapat informasi yang benar. Bahayanya kalau mereka dapat informasi tersesat hanya dengan tanya teman atau tanya di internet.

Untuk itu, Ratih menyarankan agar para remaja harus diisi dengan kegiatan yang positif. Contoh, pengertian ‘keren’ di kalangan remaja itu keren bukan dilihat dari banyaknya pacar atau sudah melakukan hubungan seksual. Melainkan dari banyaknya kegiatan positif dan prestasi yang didapatkan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved