Ekonomi dan Bisnis

Komoditas CPO Kalsel Masih Terlalu Andalkan Ekspor, Begini Saran Ekonom

Walaupun merupakan komoditas potensial pendukung ekonomi di Kalimantan Selatan (Kalsel), namun crude palm oil (CPO) maupun produk-produk primer

Komoditas CPO Kalsel Masih Terlalu Andalkan Ekspor, Begini Saran Ekonom
banjarmasinpost.co.id/acm
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM dan Ekonom Kementrian Keuangan RI, Prof M Handry Imansyah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Walaupun merupakan komoditas potensial pendukung ekonomi di Kalimantan Selatan (Kalsel), namun crude palm oil (CPO) maupun produk-produk primer turunannya masih hadapi tantangan termasuk dari faktor eksternal.

Diantaranya boikot dari berbagai negara khususnya di Eropa yang anggap CPO sebagai produk yang ancam dominasi produk minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari yang lebih dulu populer.

Selain itu, industri Kelapa Sawit juga menghadapi banyak black campaign yang mengangkat isu gangguan kelestarian alam, membuat laju perkembangan permintaan atas CPO di dunia terhambat.

Belum lagi persoalan tingkat harga pembelian CPO di pasar ekspor yang juga banyak tidak sesuai standar harga pasar, melainkan mengacu pada harga kesepakatan bilateral antar negara.

Baca: Nikita Mirzani Ngaku Tahu Sindiran ‘Makan Teman’ Luna Maya Untuk Siapa, Benarkah Untuk Syahrini?

Baca: Punya 500 Ribu Lebih Pelanggan, Berapa Pemasukan Via Vallen Dari Youtube Jika Diuangkan?

Baca: Sarita Abdul Mukti Cabut Hak Asuh Anak dan Harta Gono Gini, Setelah Bercerai dengan Faisal Harris

Dengan demikian, harga CPO dari setiap negara pemasok bisa berbeda-beda tergantung kapasitas negosiasi perwakilan negara penjual kepada negara calon pembeli.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM dan Ekonom Kementrian Keuangan RI, Prof Handry Imansyah menilai Indonesia seharusnya kembangkan industri hilir komoditas ini di dalam negeri.

Menurutnya saat ini komoditas CPO sangat tergantung pada ekspor karena bukan merupakan produk yang tahan lama untuk disimpan.

"Jangan cuma bio solar dan minyak goreng, tapi kalau bisa lebih jauh lagi sehingga bisa bernilai lebih tinggi dan utamanya bisa disimpan lebih lama supaya tidak terlalu bergantung permintaan luar negeri," kata Prof Handry.

Hingga Bulan September 2018, produk-produk hasil dari tanaman kelapa sawit yang termasuk dalam kategori lemak dan minyak hewani/nabati ini masih menjadi penyumbang ekspor kedua terbesar Kalsel.

Kategori ini menyumbang nilai ekspor sebesar USD 769 juta lebih atau 11,58 persen dari komponen ekspor Kalsel dibawah kategori bahan bakar mineral yang sumbang 86,15 persen.

(Banjarmasinpost.co.id/Achmad Maudhody)

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved