Fikrah

November Kelabu

Satu topiknya menceritakan bahwa pada 711 M, umat Islam memasuki semenanjung Iberia untuk mengakhiri kekuasaan tiran

November Kelabu
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin

PADA waktu penulis studi di Pondok Pesantren (PP) Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, Kalimantan Selatan (tingkat Aliyah) ada pelajaran Muthala’ah; Para siswa diwajibkan menghapal teks Arabi supaya bahasa Arabnya menjadi bagus, bukunya berjudul al-Qira’ah ar-Rasyidah.

Satu topiknya menceritakan bahwa pada 711 M, umat Islam memasuki semenanjung Iberia untuk mengakhiri kekuasaan tiran, Raja Roderick. Mereka menyeberangi lautan yang memisahkan Maroko dan daratan Spanyol di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad. Sampai di seberang, setelah semua tentara berada di daratan kapal pun dibakar.

Tariq pun bepidato, Ayyuhaannas, ainal-mafar, al-aduwwu amamakum wal-bahru wara’akum. Wahai para prajurit, mau lari kemana? Musuh di depan dan lautan di belakang. Kalian mau mati konyol atau mati terhormat?

Umat Islam berhasil dalam pembukaan (fathu) tersebut, sebagian besar wilayah semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang) berhasil diduduki. Kekuasaan tersebut berlanjut lebih dari 700 tahun. Pada tahun 900-an M, Islam mencapai puncak kejayaannya di tanah Andalusia. Lebih dari 5 juta muslim tinggal di daerah tersebut (80 persen penduduk). Kala itu, Dinasti Umayah II menjadi penguasa tunggal dan menjadi kerajaan yang paling maju dan paling stabil kondisi sosialnya di daratan Eropa.

Namun, masa keemasan sosial dan politik ini tidaklah abadi. Pada tahun 1000-an M, kerajaan ini runtuh dan terpecah-pecah menjadi beberapa negara kecil yang disebut tha-ifah.Thaifah-thaifah muslim ini adalah wilayah yang memiliki otonomi masing-masing, sehingga sangat rentan diserang oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa yang berada di wilayah Utara.

Sepanjang dua ratus tahun berjalan, satu per satu thaifah berhasil ditaklukkan oleh kerajaan-kerajaan Kristen Eropa; akhirnya pada tahun 1240-an M, hanya tersisa satu kerajaan Islam saja di benua biru tersebut, di ujung Selatan tanah Andalusia, itulah Kerajaan Granada.

Kerajaan ini pada tahun 1200-an sempat berhasil menghindarkan diri dari penaklukkan kerajaan-kerajaan Eropa lewat perjanjian dengan Kerajaan Castile (kerajaan Kristen yang terkuat di Eropa); Berisikan kesediaan dan ketundukan Granada membayar upeti berupa emas kepada Kerajaan Castile setiap tahunnya.

Timbal baliknya, Castile menjamin independensi Granada ini. Suratan takdir keruntuhan Granada dimulai, ketika Raja Ferdinand dari Aragon menikah dengan Putri Isabella dari Castela. Pernikahan ini menyatukan dua kerajaan terkuat di semenanjung Iberia yang merajut cita-cita yang satu, menaklukkan Granada dan menghapus jejak-jejak Islam di benua biru.

Tahun 1482 pertempuran antara Kerajaan Kristen Spanyol dan Granada pun dimulai. Meskipun secara jumlah dan kekuatan materi Granada kalah jauh, namun semangat juang masyarakat muslim Granada sangatlah besar, mereka berperang penuh keberanian, gagah berani, mempertahankan tanah air mereka dan mempertahankan eksistensi Islam di tanah Eropa.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved