CPNS 2018

BKN Tidak Akan Turunkan Passing Grade karena Khawatirkan ini

Kepala BKN Bima Haria Wibisana mengatakan pihaknya tetap tidak mau menurunkan passing grade karena dikhawatirkan akan merekrut Aparatur Sipil Negara

BKN Tidak Akan Turunkan Passing Grade karena Khawatirkan ini
BPost Cetak
BPost edisi cetak Sabtu (17/11/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Kepala BKN Bima Haria Wibisana mengatakan pihaknya tetap tidak mau menurunkan passing grade karena dikhawatirkan akan merekrut Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak berkualitas.

“Kalau diturunkan passing grade, kan dapatnya PNS yang elek-elek (jelek-jelek). Balik lagi ke guru yang tidak berkualitas. Apakah kita mau anak-anak kita diajar oleh guru-guru yang tidak berkualitas. Nggak mau, siapa yang mau. Jadi harus bagus. Nah, mungkin penurunan passing grade itu tidak menjadi pilihan. Tapi anak-anak (peserta) tes ini yang passing grade-nya belum memenuhi itu banyak yang skor totalnya tinggi sekali," ujarnya.

Dengan begitu, lanjut Bima, peserta seleksi yang tidak lolos passing grade akan diranking sesuai dengan nilai yang diperoleh.

Baca: Saat Nikita Mirzani dan Uya Kuya Bahas Foto Bareng Syahrini dengan Reino Barack; Rahasia Desember?

Baca: Alami atau Lihat Korban Kekerasan Perempuan dan Anak, Laporkan ke Hotline Ini, Pelapor Dilindungi!

Baca: Penumpang Sriwijaya Ngamuk Memaksa Turun Pesawat, Terungkap Ini Masalahnya

Selanjutnya akan ditentukan peserta yang lolos SKD, meskipun tidak mencapai passing grade.

"Kemudian kita lakukan perankingan di sana. Yang jumlahnya tinggi-tinggi ini berapa orang sih, untuk mengisi formasi-formasi yang kosong itu. Itu kan tidak mengurangi passing grade. Artinya kita tidak menurunkan kualitas PNS-nya gitu," ungkapnya.

Sementara itu, proses ranking peserta seleksi CPNS itu menunggu peserta seleksi yang lulus murni atau peserta yang memenuhi passing grade.

Nantinya, penentuan kelulusan peserta melalui proses ranking disesuaikan dengan jumlah yang dibutuhkan untuk Seleksi Kompetensi Bidang (SKB), yakni berjumlah minimal tiga kali formasi yang tersedia.

"Kita harus lihat dulu yang lulus murni harus seberapa banyak. Katakanlah ada tiga jabatan, lulus murni ada sembilan orang, ya kan udah penuh. Kan tidak diperlukan lagi. Tapi misalnya dari tiga jabatan itu ada lima orang yang lulus murni, berarti dia butuh orang orang lagi. Tapi yang empat orang ini menunggu yang lima orang itu selesai dulu prosesnya," ujarnya.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved