Tajuk

Merajut Jaringan Seluler

Saat kita di wilayah perkotaan secara mudah mendapatkan sinyal telepon seluler dan jaringan internet

Merajut Jaringan Seluler
istimewa
BASE Transceiver Station (BTS) liar yang miring di Desa Tamba Jaya, Kecamatan Tabukan, Kabupaten Batola dikeluhkan warga karena selalu bergoyang jika kena angin. 

KEBUTUHAN komunikasi langsung jarak jauh, lokal dan interlokal, saat ini menjadi sebuah kemestian. Pun kebutuhan berselancar di dunia maya, menjadi pemandangan umum di sudut-sudut kehidupan.

Saat kita di wilayah perkotaan secara mudah mendapatkan sinyal telepon seluler dan jaringan internet, ternyata masih ada 178 desa di Kalimantan Selatan yang tak memiliki akses semudah itu.

Bagaimana tidak. Untuk bisa menelepon dan berkirim pesan singkat atau SMS, warga di beberapa desa tersebut harus pergi beberapa kilometer demi mendapatkan jaringan telepon seluler.

Kalau pun ada sinyal telepon seluler, posisinya tidak begitu saja secara gampang diraih. Warga harus meletakkan perangkat telepon seluler di tempat yang lebih tinggi, atau bahkan areal yang dicakup pun sangat sempit. Geser sedikit, sinyal telepon seluler langsung hilang.

Berdasar data Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kalimantan Selatan, jumlah desa yang kini masih tidak memiliki jaringan telepon selular dan internet sebanyak 178 wilayah.

Jumlah itu jauh berkurang dibanding pada Desember 2016 lalu yang masih menyisakan 536 desa tak terlayani jaringan telepon selular plus internet. Menilai kondisi ini, berdasar pertumbuhan sejak 2016, tentu di 2019 diharapkan semua wilayah di Kalimantan Selatan bisa dicakup jaringan telepon seluler dan internet.

Dari data Diskominfo Kalsel, selama dua tahun sebanyak 350 lebih base transceiver station (BTS) berhasil dibangun untuk membantu warga berkomunikasi menggunakan telepon seluler.

Tentu pembangunan tersebut tidak serta-merta berjalan mulus. Pasalnya, di wilayah Kabupaten Barito Kuala yang menjadi salah satu daerah yang banyak terdapat area blank spot jaringan telepon marak berdiri BTS liar.

Sebulan terakhir, sedikitnya 12 BTS ilegal telah disegel oleh Diskominfo Baritokuala, akibat tidak memiliki izin pendirian BTS di beberapa wilayah Baritokuala tersebut. Akibatnya, warga yang akan menggunakan telepon seluler di desa mereka, harus menunda dulu keinginannya.

Kehadiran BTS-BTS liar seperti di Baritokuala memang menimbulkan berbanding keperluan warga agar bisa berkomunikasi menggunakan telepon seluler, memang menimbulkan dilema.

Pasalnya, di satu sisi kehadiran BTS-BTS tersebut sangat diharapkan warga setempat, tapi di sisi lain bangunan-bangunan pencakar langit itu statusnya ilegal karena tidak mengantongi izin pendiriannya.

Padahal, berdasar informasi dari Diskominfo Batola, hanya perlu waktu tiga hari untuk mengurus izin pendirian BTS di wilayah mereka. Nah, kalau kenyataannya seperti ini siapa yang salah?

Tentu perlu kearifan bagi semua pihak, khususnya para pembangun BTS, agar tetap mengikuti prosedur saat membangun, agar warga bisa langsung menikmati dan berkomunikasi menggunakan telepon selular tanpa gangguan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved