Berita Regional

Kasus Baiq Nuril, Kajati Mataram Sebut Nuril Tidak Dilecehkan Fisik Hanya Verbal

Kasus Baiq Nuril, Kajati Mataram Sebut Nuril Tidak Dilecehkan Fisik Hanya Verbal

Kasus Baiq Nuril, Kajati Mataram Sebut Nuril Tidak Dilecehkan Fisik Hanya Verbal
KOMPAS.com/FITRI
Baiq Nuril Maknun menghapus air matanya saat ditemui di rumahnya di perumahan BTN Harapan Permai, Labuapi, Lombok Barat, Senin (12/11/2018). Nuril kecewa atas keputusan MA yang mengabulkan kasasi Kejaksaan Tinggi NTB, atas kasus pelanggaran UU ITE. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MATARAM - Kasus Baiq Nuril Maknun (40) atas pelecehan seksual yang dialaminya, tidak menjadi pertimbangan kejaksaan. Pelecehan seksual itulah sumber dari munculnya kasus UU ITE pasal 27 ayat 1 juncto pasal 45 yang memojokkan Baiq Nuril sehingga menjadi terpidana hingga saat ini.

Awalnya kasus Baiq Nuril, keputusan Pengadilan Negeri Mataram membebaskan Baiq Nuril tidak menjadi bahan pertimbangan Jaksa Penuntut Umum melakukan kasasinya, hingga MA memutus Nuril bersalah.

Kepala Kejaksaan Negeri Mataram I Ketut Sumadana, mengaku belum menjabat sebagai Kajari saat kasusBaiq  Nuril bergulir hingga diajukan kasasi oleh anak buahnya. Namun, Sumadana mengatakan, dari hasil diskusinya dengan JPU yang menngani kasus ini, bahwa Nuril memang benar telah menyebarkan percakapan asusila atasannya ketika itu.

"Dari kasus Nuril sendiri sebenarnya pelecehan fisik terhadap Baiq Nuril tidak ada, tetapi kalau pelecehan verbal dianggap memang ada di sana. Silakan Nuril kalau mau menuntut hak haknya, bahwa itu dikatagorikan sebagai tindak pidana, merugikan yang bersangkutan, dilaporkan saja kembali ke kepolisian, itu haknya ibu Nuril. Apa upaya yang akan dilakukan ibu Nuril kami hormati," katanya.

Baca: Sindir Putusan Kasus Baiq Nuril, Hotman Paris Analogikan Dengan Motor yang Lawan Arah

Baca: Fakta Hari Jumat dan Rabu Baiq Nuril, Mulai Peristiwa Hingga Surat untuk Presiden Jokowi

Baca: Kesempatan Kedua yang Tak Lolos Passing Grade Tes CPNS 2018, Apa Itu Sistem Ranking?

Baca: 5 Fakta BKN Ubah Passing Grade Tes SKD CPNS 2018 ke Sistem Rangking, Jusuf Kalla Beberkan Ini

Dia juga mengatakan, dari rekaman yang didengarkannya, Nuril telah 5 kali merekam percakapan dengan atasannya. Hanya saja, yang ada konten vulgar hanya satu kali dan membuat atasannya tersinggung sehingga melaporkannya.

"Jadi masyarakat perlu tahu bahwa ini tidak ada korban langsung dan terjadi pelecehan fisik. Di media itu muncul seolah-olah Nuril sebagai korban, tidak. Yang ada di sini ada komunikasi dua arah yang saling berjawaban, enak, tenang, dari rekaman VCD yang menjadi alat bukti di persidangan, itu yang menjadi keberatan pelapor. Di UU ITE yang membuat mentransmisi dan mendistribusikan juga kena, tidak harus menyebarkan tapi orang bisa mengakses laptop dan menjadi viral bisa kena juga," kata Sumadana.

Dari pengakuan Nuril dan fakta di persidangan, hanya satu kali Nuril merekam pembicaraan asusila sang kepala sekolah itu.

Selama ini, percakapan asusila sering dilakukan kepala sekolah pada dirinya, hanya saja baru sekali itu Nuril memberanikan diri menyampaikan pada pihak lain, termasuk suaminya.

Sumadana juga membantah ada data baru yang disampaikan jaksa penuntut umum. Upaya hukum berupa kasasi itu karena keberatan atas hasil putusan PN Mataram yang membebaskan Nuril.

Keberatan itu berdasarkan fakta hukum yang berkembang di persidangan, itu yang digunakan melawan hasil putusan PN Mataram yang membebaskan Nuril.

Baca: BREAKINGNEWS: Iin Mengamuk Jelang Acara Mantenan Mantan Pacar, Bunuh Ibu dan Tantenya

Baca: Serang Petugas Usai Bantai Ibu dan Tantenya Jelang Acara Mantenan Mantan Pacar, Iin Ditembak Mati

Baca: Sebelum Habisi Ibu dan Tantenya, Iin Mengamuk Merusak Tempat Pelaminan Mantan Pacar

Baca: Warga Ketakutan dan Berhamburan Keluar Saat Iin Obrak-abrik Pelaminan Mantan Pacar

Halaman
123
Editor: Restudia
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved