Pilpres 2019

Pengamat : Kompromi Politik Kubu Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 Terindikasi Belum Selesai

Prabowo Subianto disarankan segera membuat pertemuan internal yang dihadiri masing-masing ketua umum partai politik pendukung koalisi Pilpres 2019

Pengamat : Kompromi Politik Kubu Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 Terindikasi Belum Selesai
(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan salam kepada media sebelum melakukan pertemuan tertutup di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi politik yang dibangun kedua partai untuk Pilpres 2019. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Prabowo Subianto disarankan segera membuat pertemuan internal yang dihadiri masing-masing ketua umum partai politik pendukung koalisi jelang Pilpres 2019.

Cara ini dinilai sebagai solusi untuk memperkuat soliditas partai pendukung menjelang pemilihan umum dan Pilpres 2019 yang digelar April.

"Prabowo sebaiknya lebih aktif mengundang ketua partai pendukung untuk duduk bersama dan bernegosiasi ulang," ujar pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing kepada Kompas.com, Minggu (18/11/2018).

Menurut Emrus, komunikasi politik di antara partai pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019 mengindikasikan adanya kompromi politik yang tidak selesai.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming Indosiar : Live Streaming Bali United vs Persebaya Liga 1 2018

Baca: SEDANG BERLANGSUNG! Live Streaming Final Hong Kong Open 2018, Marcus/Kevin Main Jam Ini

Misalnya, antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani.

Sebelumnya, Muzani menyebut bahwa SBY pernah berjanji untuk mengampanyekan Prabowo-Sandi, namun sampai saat ini hal tersebut belum terwujud.

SBY kemudian menanggapi hal tersebut lewat akun Twitter resminya, @SbYudhoyono.

SBY meminta Partai Gerindra tak memaksanya untuk mengampanyekan pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. SBY mengingatkan bahwa ia pernah dua kali menjadi calon presiden, yakni pada 2004 dan 2009.

Dalam dua pilpres yang ia menangi itu, SBY mengaku tidak pernah memaksa ketua umum parpol pendukung untuk mengampanyekan dirinya.

Baca: Link Live Streaming Trans7 MotoGP Valencia 2018 di Spanyol - Siaran Langsung Trans 7 Mulai 18.00 WIB

"Masyarakat akan menilai koalisi Prabowo-Sandi belum solid. Bahkan ada indikasi PAN dan PKS juga belum full mendukung. Tidak ada soliditas akan menjadi tidak produktif dalam elektoral," kata Emrus.

Menurut Emrus, Prabowo sebagai pemimpin koalisi semestinya membicarakan ulang mengenai pembagian kekuasaan dan keuntungan di antara partai politik pendukung.

Jika tidak, koalisi Prabowo-Sandi dikhawatirkan tidak akan mendapat hasil maksimal dalam perolehan suara pemilu.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Prabowo Disarankan Kumpulkan Ketum Parpol Pendukung untuk Renegosiasi"

Editor: Rendy Nicko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved