Jendela

Disrupsi Penerbangan

Disrupsi ini juga makin rumit setelah kecelakaan Lior Air baru-baru ini. Orang tampaknya makin rajin berdoa saat pesawat take off.

Disrupsi Penerbangan
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SIANG Sabtu lalu, saya dan isteri berlari-lari di Bandara Soekarno-Hatta menuju pintu keberangkatan. Saat naik pesawat (boarding) memang sudah diumumkan, tetapi waktu keberangkatan masih tersisa 10 menit. Sesampai di depan Pintu 15, dengan napas terengah-engah, kami menyerahkan boarding pass. “Maaf, Anda sudah terlambat,” kata petugas. Saya berusaha menegosiasi, tetapi gagal. Apa boleh buat!

Saya kira, memang begitulah seharusnya. Penumpang harus disiplin waktu, agar semua berjalan lancar sesuai jadwal. Hanya saja, di negeri ini, seringkali terjadi sebaliknya. Penerbangan tertunda-tunda dengan berbagai alasan. Alasan yang umum tetapi tidak jelas adalah ‘karena alasan operasional’. Kalau sudah begitu, penumpang pun pasrah, tak berdaya. Kadang diberi kompensasi, kadang juga tidak.

Seringnya jadwal penerbangan yang tertunda alias tidak tepat waktu memang menjengkelkan. Namun, ketidakpastian ini kadangkala menguntungkan. Pernah, suatu sore, saya terjadwal naik pesawat jam 16.00, tetapi demi menghormati para rektor dari Jawa, Sumatra dan Sulawesi yang datang, saya harus bertahan hingga jam 15.45. ‘Untungnya’ penerbangan delayed 1 jam, sehingga saya sempat menyusul!

Jika penumpang sedang padat, permainan di bandara juga kadang membuat kita jadi korban. Pada bulan Juli 1998 silam, saat musim libur, saya mau berangkat S-2 ke Kanada. Ketika lapor di bandara, petugas mengatakan, kode booking tiket saya dan isteri saya (yang mengantar ke Jakarta) tidak ada. Saya pun menelpon agen penjual tiket tempat saya membeli. Dia ternyata tidak bisa berbuat apa-apa juga.

Saya akhirnya panik dan menelpon seorang anggota DPR yang berpengaruh, meminta bantuannya. Mungkin dia menelpon pejabat yang berwenang di Bandara Syamsudin Noor sehingga saya tiba-tiba dipanggil seorang petugas. “Kamu bisa berangkat sekarang, tetapi isteri kamu besok,” katanya ketus. Saya pun ‘digiring’ naik pesawat dan disuruh duduk di ruang kemudi pesawat, persis di belakang pilot!

Lain waktu, saat melapor di bandara Syamsudin Noor, petugas mengatakan, tempat duduk telah habis. Saya bingung karena saya membeli tiket di kantor maskapai penerbangan tersebut. Ternyata, ada rombongan umrah yang diistimewakan dan saya dikorbankan. Saya marah karena hari itu, dari Jakarta saya mau terbang ke Paris. Akhirnya, saya dibelikan tiket pesawat lain yang juga terbang di pagi itu.

Kekacauan sebenarnya tidak hanya terjadi dalam penerbangan domestik, tetapi juga internasional. Ada yang merugikan, ada pula yang menguntungkan. Pernah, penerbangan saya dari Amman ke Riyadh tiba-tiba dibatalkan. Ternyata, malam itu, ada serangan rudal ke Riyadh. Tetapi pernah pula, saya, isteri dan adik saya, terkejut-bahagia karena dinaikkan ke kelas bisnis dalam penerbangan dari Taipei ke Jakarta.

Demikianlah kekacauan dapat terjadi begitu saja dalam penerbangan. Namun, kita tidak boleh berdalih bahwa ketidakteraturan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Kalau tidak teratur itu terjadi sangat jarang sekali, maka kita bisa menganggap hal itu tak terhindarkan. Tetapi jika berulangkali, maka hal itu menunjukkan kelalaian, manajemen yang amburadul dan pelayanan yang buruk.

Saya jadi teringat dengan istilah yang kini lagi hit: disrupsi. Disrupsi adalah perubahan yang sulit diprediksi karena keluar dari kebiasaan dan pengalaman normal kita. Saya khawatir, lama-lama, yang biasa dan normal itu bagi kita adalah ketidaktepatan jadwal dan pelayanan yang buruk sehingga jadwal yang tepat adalah keanehan. Jadwal dan ketidaksesuaian dengan jadwal melahirkan disrupsi versi baru!

Disrupsi ini juga makin rumit setelah kecelakaan Lior Air baru-baru ini. Orang tampaknya makin rajin berdoa saat pesawat take off. Penumpang mulai sulit menikmati penerbangan. Sedikit ada gangguan cuaca dan guncangan, zikir, takbir dan doa berhamburan. Saya tidak tahu pasti, apakah para awak kabin yang cantik dan ganteng itu masih diperhatikan? Jika tidak, sempurnalah disrupsi penerbangan kita! (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved