Tajuk

Memaknai Maulid Nabi

HARI ini, 20 November 2018 M bertepatan 12 Rabiul Awal 1440 H, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Memaknai Maulid Nabi
NU.OR.ID
Ilustrasi maulid Nabi Muhammad SAW, 20 November 2018. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI ini, 20 November 2018 M bertepatan 12 Rabiul Awal 1440 H, umat Islam memperingati Nabi Muhammad SAW'>Maulid Nabi Muhammad SAW. Tentu kita tidak merayakan bulan kelahiran beliau, tapi mengintrospeksi sejauh mana memahami risalah kerasulan.

Rasulullah SAW dilahirkan pada Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau 20 April 571 Masehi. Setiap nabi dan rasul, diutus untuk melakukan dakwah bagi umat pada zamannya. Nabi Muhammad SAW, diutus untuk menyempurnakan akhlak (budi pekerti) bagi seluruh alam.

Di Indonesia, peringatan maulid ditandai tradisi yang memiliki kekhasan tersendiri di masing-masing. Tradisi di tanah Jawa, misalnya, Keresenan. Pohon keres berbuah lebat oleh aneka hasil bumi sebagai simbol kelahiran Nabi Muhammad membawa berkah bagi umat Islam di seluruh dunia.

Baca: Wanita Ini Meninggal Saat Baca Sholawat Maulid Nabi Muhammad SAW, Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit

Pada zaman kesultanan Mataram, disebut Grebeg Mulud. Artinya, mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya.

Demikian pula di Kalimantan Selatan, peringatan Nabi Muhammad SAW'>Maulid Nabi Muhammad SAW selain dibacakan Barzanji, Ad Dhiba’i, Syaraful anam, Al Habsyi (riwayat hidup Nabi SAW) dan ceramah agama, biasanya diiringi upacara Ba’ayun Maulud bagi warga.

Peringatan maulid yang ditandai tradisi masing-masing daerah itu, tetap tidak mengurangi makna untuk memahami risalah kenabian Muhammad SAW. Misalnya, persoalan perbaikan akhlak (budi pekerti) ini, menjadi keniscayaan.

Sudah sepantasnya ketika memperingati Maulid Nabi SAW, kita menggali semangat diutusnya beliau sebagai upaya melakukan perbaikan, sehingga terlestarikan sikap moral yaitu kejujuran dan menjauhi praktik dusta atau kebohongan.

Syekh Abdul Hamid Al Khatib dalam kitab Asmar Risalat (ketinggian risalah) Nabi Muhammad SAW, menulis riwayat kehidupan Rasulullah SAW dalam pengantarnya mengajak sudah sepantasnya dijadikan teladan bagi generasi ke generasi.

Bahkan, Allah SWT berfirman “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak menyebut Allah (QS Al-Ahzab: 21).

Tampaknya, pengertian mengenai terutusnya Nabi Muhammad SAW ini, perlu pemahaman yang berkelanjutan. Bagaimana gambaran nyata akhlak beliau, apa jasa-jasa beliau pada masyarakat jahiliyah, apa ajaran yang dibawa beliua.

Pun yang diwariskan Nabi SAW, yaitu Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sehingga menjadi teladan hidup sebagai sosok pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved