Tajuk

Intel Melayu

Ada 50 penceramah di 41 masjid lingkungan pemerintah yang dalam tausiahnya menyebarkan konten kebencian (hate speech).

Intel Melayu
kompas.com
Ilustrasi 

SEBUAH pernyataan mengejutkan datang dari Juru Bicara Badan Intelijen Negera (BIN) Wawan Hari Purwanto. Ada 50 penceramah di 41 masjid lingkungan pemerintah yang dalam tausiahnya menyebarkan konten kebencian (hate speech). Selain itu ada tujuh perguruan tinggi negeri terpapar paham radikalisme dan 39 persen mahasiswa di 15 provinsi tertarik ajaran tersebut.

Pernyataan yang dikemukakannya pada Selasa (20/11) lalu itu tentu tidak main-main. Pertama karena yang mengungkapkannya adalah juru bicara BIN, institusi intelijen tertinggi di negeri ini. Kedua, ini menyangkut ulama, orang yang ahli agama Islam. Ketiga, ini menyangkut perguruan tinggi, tempat para intelektual berada.

Tidak mudah menyebarkan ujaran kebencian di pemerintahan dan perguruan tinggi. Para pegawai negeri tentunya akan berpikir seribu kali bahkan lebih untuk mendengarkannya. Apalagi untuk mengikutinya. Pertama karena pegawai negeri adalah orang-orang pintar. Selain itu tentu mereka takut kehilangan pekerjaannya.

Sedang di perguruan tinggi, di sini adalah tempat orang-orang berpikir. Dosen dan mahasiswa tentu akan berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Jangankan ilmu pengetahuan, agama pun mereka diskusikan.

Melihat hal ini tentu para penceramah akan berpikir berkali-kali untuk menyebarkan ujaran kebencian. Apalagi sekarang ini ada kesadaran, intelijen masuk ke masjid-masjid untuk mengawasi mereka.

Sebagai intelijen, seharusnya BIN tidak mudah mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan dan dapat menjadi perdebatan khalayak ramai. Intelijen itu bekerjanya diam-diam. Hasilnya pun dikomunikasikan dengan instansi atau pihak terkait secara tertutup. Selanjutnya instansi atau pihak terkait itulah yang menindaklanjutinya. Jika perkara ujaran kebencian, bisa dikomunikasi dengan kepolisian untuk diproses secara hukum. Apalagi sekarang polisi gencar memerangi ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong melalui internet.

Apalagi yang disebut BIN hanya jumlah. Siapa penceramahnya, masjid mana dan perguruan tinggi mana saja, tidak disebutkan. Ini membuat masyarakat bertanya-tanya, menduga-duga hingga bisa menimbulkan fitnah. Bukan tidak mungkin, BIN nanti yang disebut sebagai penyebar ujaran kebencian dan berita bohong.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, bahkan meminta BIN menyebut penceramah dan masjid tempat penyebaran paham radikal sehingga umat bisa menilainya.

Kita sebagai rakyat Indonesia berharap intelijen negeri ini berkualitas. Jangan sampai BIN mendapat julukan intel melayu yakni intel yang ingin tampil. Intel itu seharusnya lebih banyak diam, mengamati dan mendengarkan. Bila perlu, istri pun tak tahu dirinya intel. Jangan seperti James Bond, intelijen yang justru main film. Jika sampai penjahat tahu ada intelijen di sekitarnya, tentu mereka kabur duluan.

Selamat bekerja para intelijen. Semoga negeri ini aman dengan keberadaan kalian. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved