Tajuk

Jangan Seperti Kasus Novel

Kali ini yang menjadi korban adalah Kepala Divisi Permasyarakatan Kanwil Kemenkumham Kalsel, Asep Syarifuddin SH.

Jangan Seperti Kasus Novel
kompas.com
Ilustrasi penyiraman air keras kepada Novel Baswedan. 

TIGA hari terakhir, Bumi Lambung Mangkurat diguncang dua peristiwa yang sangat menghebohkan. Kejadian pertama, ditemukannya mayat laki-laki tergeletak di semak-semak di kawasan Lokbaintan, Kecamatan Sungaitabuk, Kabupaten Banjar, Selasa (20/11) sore. Tragisnya, mayat laki-laki tersebut ditemukan dalam kondisi tanpa kepala.

Peristiwa menghebohkan kedua, yakni penyiraman air keras seperti yang dialami penyidik KPK, Novel Baswedan beberapa waktu silam. Kali ini yang menjadi korban adalah Kepala Divisi Permasyarakatan Kanwil Kemenkumham Kalsel, Asep Syarifuddin SH.

Wajahnya disiram oleh seseorang menggunakan air keras di halaman Capung Cafe di Jalan S Parman, Selasa (20/11) malam.

Dua kejadian menghebohkan ini tentu saja langsung mendapat perhatian serius dari jajaran Polda Kalsel. Ya, dari dua kejadian ini, kesigapan jajaran Polda Kalsel dalam melakukan pengungkapan kasus tengah diuji. Karena, otomatis konsentrasi aparat harus terbagi dalam pengungkapan dua kejadian keji tersebut.

Untuk kasus mayat tanpa kepala, jajaran Polda Kalsel membuktikan kesigapannya. Dalam waktu tak lebih dari 3x24 jam, tepatnya Rabu (21/11), mayat tanpa kepala yang sebelumnya identitasnya misterius itu diketahui bernama Rahmadi bin Sahrudin, warga Tatahlayap RT2, Kecamatan Tatahmakmur, Kabupaten Banjar.

Sehari berselang, Kamis (22/11) dini hari, jajaran Polda Kalsel meringkus pelakunya yang berinisial MS, di daerah Batibati, Kabupaten Tanahlaut. Kepala korban yang dibuang pelaku di sekitar Jembatan Barito, juga ditemukan, Kamis (22/11) siang.

Dengan terungkapnya kasus pemenggalan kepala, ujian yang harus dihadapi jajaran Polda Kalsel kini terfokus pada kasus penyiraman air keras yang dialami Kepala Divisi Permasyarakatan Kanwil Kemenkumham Kalsel, Asep Syarifuddin SH.

Memang bukan pekerjaan mudah bagi Polda Kalsel untuk mengungkap kasus ini. Terlebih modusnya juga belum jelas. Apakah terkait pekerjaan, masalah pribadi atau korban salah sasaran.

Tapi, tentunya semua berharap Polda Kalsel bisa mengungkap kasus ini. Jangan sampai kasus menjadi misteri tanpa kejelasan seperti halnya kasus yang menimpa Novel Baswedan pada 11 April tahun lalu, yang tak terungkap hingga sekarang.

Memang menjadi kendala bagi Polda Kalsel untuk pengungkapan ketika CCTV yang ada di Capung Café ternyata rusak. Tapi Polda Kalsel masih bisa mengandalkan CCTV Regional Traffic Management Center (RTMC) yang ada di perempatan Jalan S Parman-Jalan Bali, yang diharapkan bisa menangkap kejadian penyiraman air keras terhadap Asep di halaman Capung Cafe.

Satu hal lagi yang jadi perhatian dari kasus ini, pihak manapun, entah itu swasta atau instansi pemerintahan, harus selalu memastikan bahwa CCTV yang terpasang di bangunan mereka beroperasi secara baik, sehingga bisa merekam ketika terjadi hal-hal yang tak diinginkan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved