Tajuk

Akhir Perjudian PSSI

Statemen itu dilontarkan mantan pelatih Timnas U-16 Fakhri Husaini ketika PSSI menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih timnas senior di Piala AFF 2018

Akhir Perjudian PSSI
affsuzukicup.com
Ekspresi kekecewaan Bima Sakti usai Indonesia dikalahkan Thailand dengan skor 2-4 dalam lanutan laga grup B Piala AFF 2018, di Stadion Rajamangala, Sabtu (17/11/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - “MENURUT saya ini perjudian yang luar biasa. Bima yang belum pernah punya pengalaman sebagai pelatih kepala ditunjuk jadi pelatih tim nasional (senior). Membahayakan semua. Ini saya melihat berbahaya bagi timnas senior, berbahaya bagi PSSI, dan berbahaya bagi Bima sendiri kalau hasilnya tidak baik”

Statemen itu dilontarkan mantan pelatih Timnas U-16 Fakhri Husaini ketika PSSI menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih timnas senior menghadapi ajang Piala AFF 2018, beberapa waktu lalu.

Kini perjudian yang disebut Fakhri telah usai. PSSI ‘kalah judi’ setelah Timnas dipastikan tersingkir di fase grup, meski menyisakan satu pertandingan melawan Filipina, Minggu (25/11). Pertandingan ini tidak berpengaruh bagi Timnas, karena sudah dipastikan tersingkir.

Sebenarnya kekhawatiran tidak hanya datang dari seorang Fakhri. Publik juga lunglai begitu PSSI menunjuk Bima Sakti menggantikan pelatih timnas sebelumnya Luis Milla yang katanya tak mau memperpanjang kontrak.

Bima Sakti? Kenapa dia? Tanpa mengecilkan seorang Bima Sakti, tetapi pengalaman kepelatihan dia, belum matang. Di tataran klub saja, dia sebatas asisten pelatih, kemudian menjadi asisten Luis Milla ketika peracik asal Spanyol itu menangani timnas.

Fakhri benar, PSSI sangat berjudi dengan pilihannya. Hasilnya? Benar saja, ketika laga AFF ditabuh, di pertandingan perdana timnas tak berdaya ditekuk Singapura 1-0. Permainan timnas sama sekali tak berbentuk, tanpa pola, mati kutu menghadapi pemain Singapura yang bermain sangat apik. Ketika melawan Timor Leste, meski menang juga tak menampilkan permainan yang cantik. Dan kemudian ketika berhadapan dengan Thailand, benar saja tak berdaya disikat dengan skor 4-2.

Pemilihan Bima Sakti menukangi timnas, memang membuat publik geregetan. Bagaimana mungkin, target menjadi pemuncak Piala AFF 2018 diraih jika syarat untuk meraihnya terkesan dilakukan secara asal-asalan terutama hal paling krusial, yakni pemilihan pelatih.

Publik benar-benar dibuat tidak paham dengan keputusan PSSI itu. Meski sebenarnya, berbagai masukan dan kritik dilontarkan, namun sepertinya PSSI keukeuh dengan keputusan yang dibuatnya. Kasus ini menjadi serangkaian kegagalan PSSI menyuguhkan prestasi timnas yang sangat didambakan publik tanah air.

Kita harus jujur, perstasi sepak bola tanah air, bukan tambah menanjak, malah menukik tajam. Anehnya, negara-negara tetangga justru sebaliknya, mereka prestasinya kita bisa melihat Vietnam, Filipina, bahkan Kamboja, yang dulu selalu dengan mudah ditekuk timnas, sekarang menjadi lawan yang sangat berat, bahkan beberapa kali menjungkalkan timnas.

Raja Asia Tenggara, yang dulu kerap disandang timnas, kini posisi itu sebatas angan-angan.

Kenapa? Semua tak lepas dari bagaimana organisasi pengelola persepakbolaan tanah air berjalan. Sudah bukan rahasia lagi, PSSI menjadi organisasi incaran karena punya nilai ‘strategis’ dalam beberapa hal. Bahkan, PSSI juga ‘seksi’ secara politik karenanya tak sedikit sebelumnya orang politik bercokol di PSSI.

Harapan kita, semoga PSSI segera melakukan introspeksi dan bisa memberikan prestasi membanggakan bagi sepak bola tanah air. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved