Jendela

Logika Dijodohkan

Bagi orang luar yang tidak mengerti logikanya, mungkin penjodohan dan nikah massal adalah suatu keanehan di zaman modern ini.

Logika Dijodohkan
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - SUATU hari, saya diundang sebuah pesantren yang dikenal sering melaksanakan nikah massal bagi para santrinya yang juga dijodohkan. Teman saya, yang mengetahui hal itu, langsung menggoda dengan pertanyaan, “Apakah kamu juga ikut nikah massal?” “Alhamdulillah, tidak. Andai ditawari, mungkin susah juga menolaknya,” canda saya, sambil disambut ledak tawa.

Bagi orang luar yang tidak mengerti logikanya, mungkin penjodohan dan nikah massal adalah suatu keanehan di zaman modern ini. Karena itu, orang suka menjadikannya bahan canda, atau paling kurang, tidak bersimpati kepadanya. Bagi orang modern, menikah pada prinsipnya adalah pilihan pribadi, bukan pilihan orang lain apalagi kelompok. “Yang menikah kan saya dan dia, bukan kamu atau kalian!” katanya.

Cinta romantis, ketika satu pribadi berjumpa dengan pribadi lain dan saling tertarik, semakin menonjol di zaman modern. Novel, roman, lagu dan film, banyak sekali digubah mengenai cinta romantis. Inilah cinta sejati yang diimajinasikan sebagai puncak kebahagiaan. Sebaliknya, perkawinan yang dijodohkan, cenderung digambarkan sebagai ‘kawin paksa’ yang menindas individu dan melahirkan penderitaan.

Namun, harga yang harus dibayar di balik kebebasan memilih pasangan ini tidaklah murah. Logika pasar berlaku di sini. Ada yang cepat laku, ada yang tidak. Ada yang peragu, pilih-pilih dulu, pindah dari satu orang ke yang lain, sampai akhirnya memutuskan. Muncullah istilah pacaran, jomblo, putus-nyambung dan seterusnya. Ada hubungan yang berhasil sampai ke pelaminan, adapula yang kandas di tengah jalan.

Pesantren yang melaksanakan pernikahan massal melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda.“Kami umumnya sudah mengenal calon-calon pengantin pria dan wanita itu selama bertahun-tahun sebagai murid. Kami memahami karakter mereka masing-masing. Kami juga melakukan wawancara khusus dengan tiap-tiap calon. Setelah itu baru kami jodohkan,” kata salah seorang ustadz pesantren ini.

Para santri yang dijodohkan itu memang telah dididik bertahun-tahun dengan ideologi keagamaan yang sama sehingga mereka dapat menerima penjodohan itu. Selain itu, santri putra dan putri, selama menjalani pendidikan, memang tidak saling mengenal. Santri perempuan bahkan bercadar. Dalam keadaan demikian, tentu sangat logis jika orang dijodohkan ketimbang mencari jodoh sendiri.

“Dengan demikian, anak-anak kami terhindar dari pacaran dan segala dampak negatifnya. Mereka juga tidak perlu khawatir akan menjadi jomblo selamanya. Jodoh akan datang dengan sendirinya, setelah tiba saatnya, karena dibantu oleh para guru yang mendidik mereka. Bahkan mereka juga tidak perlu khawatir dengan masa depan, karena pekerjaan untuk mereka sudah disiapkan oleh organisasi kami,” katanya.

“Apakah anak-anak itu diberikan kesempatan untuk menolak atau menyetujui calon pasangan yang diusulkan?” tanyaku. “Ya. Setelah kami rapat intensif berkali-kali, kami akan panggil calon pengantin satu persatu. Kami tunjukkan foto-foto calon yang menurut kami cocok dengan yang bersangkutan. Ada juga yang menolak, lalu kami sodorkan yang lain. Tetapi pada umumnya mereka setuju,” katanya.

“Dulu saya diminta memilih salah satu dari dua calon. Saya bilang, biar ustadz saja yang memilih. Saya percaya sepenuhnya,” kata pria yang kini sudah punya anak. Ada juga calon pria lain yang bilang, “Bagi saya, jika ada wanita yang mau jadi isteri saya, itu sudah sangat syukur.” Namun, ada juga calon wanita yang ragu karena perbedaan etnis dengan calon prianya, tetapi setelah berdiskusi, dia akhirnya setuju.

Apakah pernikahan yang diatur sedemikian rupa itu pada akhirnya membahagiakan? Menurut ustadz, hampir semuanya berjalan lancar. Pasangan-pasangan itu hidup bahagia dan memiliki anak-anak yang manis. Mereka yang semula ragu, setelah menjalani pernikahan, akhirnya berterimakasih sekali. “Namun, harus diakui, memang ada sebagian kecil yang gagal. Ini manusiawi. Human error,” katanya.

“Saya tidak menganjurkan nikah semacam ini untuk masyarakat luas. Penerapannya akan sangat sulit karena variable-nya memang berbeda,” kata si ustadz. Saya manggut-manggut saja tanda setuju. Tidak ada yang hitam-putih. Memilih sendiri jodoh atau dijodohkan sama-sama memiliki logikanya sendiri. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved