Yayasan Adaro Bangun Negeri

Berkarya Untuk Keabadian Melalui Tulisan

Minat sastra Chairil tidak muncul begitu saja, ia pertama kali mengenal sastra kala pindah ke Batavia di usia 19, tahun 1940.

Berkarya Untuk Keabadian Melalui Tulisan
HO/YABN
Siswa-siswi dari SMA mengikuti Workshop Karya Tulis Fiksi untuk mengenalkan dunia sastra dan cara penulisan karya tulis fiksi pada (26-27 November 2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - “Orang boleh pandai setinggi langgit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di benak masyarakat dan dari sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Toelos bin H Manan dan Saleha, Chairil Anwar lahir di Medan tahun 1922 dan wafat di usia 26 dengan meninggalkan banyak karya sastra selama hidupnya.

Ia memilih hidup sebagai penulis walau orang tuanya saat itu adalah Controleur, seorang inspektur yang memiliki kedudukan bagus di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Laki-laki yang juga sering dikenal dengan puisi “Aku” dan juga “Sajak Putih” ini bisa saja memilih untuk mengambil kuliah ke luar negeri seperti yang dilakukan oleh pamannya Sutan Sjahrir, atau hidup menjadi seorang pengusaha sukses tapi jalan hidup memilihnya untuk menjadi seorang penyair.

Meski dia telah wafat, namun karyanya tidak habis dimakan waktu, kisah percintaan Chairil dengan perempuan bernama Sumirat banyak menjadi subjek dari rangkaian sajak puisi yang ia tulis, hingga saat ini puisinya masih sering dibawakan dan jadi rujukan bagi banyak orang dalam menulis puisi.

Siswa-siswi dari SMA mengikuti Workshop Karya Tulis Fiksi untuk mengenalkan dunia sastra dan cara penulisan karya tulis fiksi di Tanjung, Tabalong  (26-27 November  2018).
Siswa-siswi dari SMA mengikuti Workshop Karya Tulis Fiksi untuk mengenalkan dunia sastra dan cara penulisan karya tulis fiksi di Tanjung, Tabalong (26-27 November 2018). (HO/YABN)

Minat sastra Chairil tidak muncul begitu saja, ia pertama kali mengenal sastra kala pindah ke Batavia di usia 19, tahun 1940.

Di masa yang jauh dan tempat yang berbeda, sejumlah pelajar dari sebelah selatan pulau Kalimantan tepatnya di kabupaten Balangan tengah menggali ide dan gagasan tentang minat dan bakat dalam hal sastra.

Sama seperti Chairil, saat usia masih tergolong belasan, siswa-siswi dari sekolah menengah tingkat atas ini tengah mengikuti Workshop Karya Tulis Fiksi untuk mengenalkan dunia sastra hingga hal teknis yang berkaitan dengan struktur dan cara penulisan karya tulis fiksi pada (26-27/11/2018).

Di aula Dinas Pendidikan, puluhan siswa mengali ide tentang bagaimana metode penulisan sebuah karya sastra terutama puisi, bekerja sama dengan Gol A Gong dan Tias Tatanka peserta diajak mengobservasi lingkungan guna menggali bahan materi puisi.

Peserta diminta mengambarkan dan menyelam untuk mengamati apa yang ia lihat dengan pendekatan berbeda, dengan harapan dapat meningkatkan kreatifitas peserta dalam menciptakan dan melontarkan sebuah pertanyaan untuk menggali ide, hingga merubahnya menjadi bentuk sebuah puisi.

Halaman
12
Penulis: Dony Usman
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved