Tajuk

Kitalah Penyebab Kebrutalan

Selasa, 20 November lalu, Rahmadi menjadi korban pembunuhan sadis. Kepalanya dipenggal dan dipisahkan dari tubuhnya

Kitalah Penyebab Kebrutalan
istimewa
Penemuan mayat perempuan muda dalam mobil Suzuki Swaft membuat geger warga Gambut dan sekitar. 

DALAM sepekan terakhir, ada tiga kejadian pembunuhan murni di wilayah Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Ketiga kasus itu tergolong sadis dan (dari sebagian yang sudah terungkap) bermotif ‘remeh-temeh.

Selasa, 20 November lalu, Rahmadi menjadi korban pembunuhan sadis. Kepalanya dipenggal dan dipisahkan dari tubuhnya. Setelah pelakunya tertangkap, ternyata motifnya hanya karena kesal sering dibully, bahkan dituduh pernah mencuri hingga dikeluarkan dari tempatnya bekerja.

Setelah tersangka pembunuh Rahmadi tertangkap, giliran Levie ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terpakir di Jl A Yani Km 11,8 kabupaten Banjar. Meski tak seseram Rahmadi, kondisi Levie juga cukup mengenaskan. Sejumlah luka tusukan ditemukan di tubuh korban, termasuk di tenggorokannya.

Kurang dari 24 jam setelah jenazah ditemukan, pelaku pembunuhan Levie ditangkap dan terungkap motif, pelaku kesal karena korban tidak dipercaya bisa melakukan ritual mengharmoniskan rumah tangganya.

Ketika nalar kita belum mampu merasionalisasikan dua kejadian sadis itu, Senin, 26 November dini hari, Agnes juga ditemukan tak lagi bernyawa di dalam salonnya, di Jalan Ahmad Yani Km 5,5 Kompleks Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Untuk kasus yang terakhir ini, hingga tadi malam (28 November), pelaku belum ditangkap sehingga belum jelas motif di balik temuan jenazah korban pembunuhan ini.

Ya, tiga kejadian beruntun yang membuat orang waras mengelus dada itu, secara teoritik memang bisa dipahami. Yakni, ‘kegilaan’ para pelaku adalah manusiawi karena manusia memang dilengkapi sifat agresif (beringas) yang fungsi dasarnya untuk membela diri.

Tata cara keberingasan para pelaku juga bisa diapahami, lantaran mereka sebelumnya punya kesempatan belajar dari lingkungannya. Yakni, belajar tata cara mengekspresikan agresi dari yang paling ‘sopan’ hingga yang paling brutal.

Bila para pelaku juga belajar, warga juga seharusnya belajar agar tidak menjadi penyebab atau menyediakan ruang bagi siapa saja untuk mengekspresikan agresinya secara tidak benar.

Pembelajaran itu adalah, tidak membuat orang lain atau sekelompok orang lain menjadi malu, sakit hati hingga merasa frustrasi. Itu harus dilakukan oleh kita semua, karena sebenarnya kitalah penyebab lahirnya kebrutalan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved