Fikrah

Muhammad Itu Terpuji

NAMA Muhammad itu, pemberian kakeknya Abdul Muttalib. Sewaktu berusia tujuh hari, ia digendong ke samping Ka’bah

Muhammad Itu Terpuji
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Oleh: Husin Naparin

NAMA Muhammad itu, pemberian kakeknya Abdul Muttalib. Sewaktu berusia tujuh hari, ia digendong ke samping Ka’bah. Diundang para tokoh Quraisy dan penduduk Makkah untuk menyaksikan pemberian nama itu, dan disembelihkan seekor unta untuk kenduri.

“Ini cucuku,“ katanya. Sammaituhu muhammadan, “Kuberi nama Muhammad.” Ada yang bertanya, “Mengapa cucu tuan ini diberi nama Muhammad? Nama ini belum popoler.” Beliau menjawab, Sammaituhu muhammadan li kai yakuna mahmudan fissama-i ‘indallah, wa likai yakuna mahmudan fil-ardhi’ ‘indannas. Kuberi nama Muhammad, semoga ia terpuji di atas langit di sisi Allah dan terpuji di sisi manusia di permukaan bumi” (Haekal, Hayatu Muhammad, hal 108).

Apakah Abdul Muttalib tahu bahwa bayi itu akan menjadi nabi, walahu a’lam. Menurut Ibnu Sa’ad, orang-orang Arab waktu itu sudah lama mendengar dari para ahli Kitab dan peramal akan lahirnya nabi terakhir di Makkah bernama Muhammad, sehingga beberapa bayi laki-laki lahir pada masa itu diberi nama Muhammad dengan harapan semoga menjadi nabi, yaitu Muhammad bin Khuza’i dari Bani Zakwan; Muhammad bin Sofyan dari Bani Tamim; Muhammad al-Jusyami dari Bani Suwa’ah, Muhammad al-Usaidi dan Muhammad al-Qufaimi (Ath-Thabaqat al-Kubra 2/hal 112).

Syekh Abdul Halim Mahmud menyebutkan riwayat lain, nama itu pesanan ibunya Aminah, karena sewaktu menghamilkannya, ia bermimpi ada seseorang yang datang memberitahukan bahwa anak yang dikandungnya nanti akan menjadi pemimpin umat, berilah nama Muhammad. (Al-Iman wa al-Islam, hal 233).

Jika riwayat ini kita terima, berarti Abdul Muttalib sang kakek sudah tahu bahwa bayi itu nantinya akan menjadi nabi. Tapi yang yang sangat menarik jawaban Abdul Muttalib tidak itu, beliau menjawab semoga bayi itu nantinya menjadi terpuji di langit dan di bumi.

Siapapun di antara kita menginginkan mempunyai anak terpuji. Ustadz Abdul Fattah Shabri (alm), seorang penceramah di Kaltim, asli Haruyan HST, dalam ceramahnya mengatakan falsafah nama nabi; Muhammad itu terpuji karena ayahnya Abdullah dan ibunya Aminah; karenanya jika ingin mempunyai anak terpuji, bapaknya harus Abdullah dan ibunya harus Aminah.

Ini bukan berarti seorang ayah harus bernama Abdullah dan seorang ibu harus bernama Aminah, tidak; tetapi yang dimaksud adalah esensi nama tersebut. Seorang suami sebagai ayah harus abdullah (hamba Allah), yaitu pribadi yang beribadat kepada Allah dan semua aktivitas yang dilakukannya untuk mencari ridha-Nya.

Seorang istri sebagai ibu hendaklah aminah (pengaman), yaitu pribadi yang mampu mendidik dan mengatur rumah tangga. Betapa mirisnya hati kita, baru-baru ini, di Kota Banjarmasin terjaring seorang PSK bernama Aminah. Berapa banyak di masyarakat seorang anak menjadi tercela, berbuat keonaran, akibat ayah yang kurang ibadat, atau ibunya yang tidak pandai mendidik anak; apalagi jika ayahnya tidak abdullah dan ibunya tidak aminah, anaknya pun menjadi abu jahal.

Namun demikian, kepribadian Muhammad Rasulullah, telah dibentuk demikian rupa oleh Allah, dimana Dia tidak mau dicampuri oleh sentuhan manusia. Oleh sebab itulah Muhammad, sang nabi lahir tanpa pernah melihat wajah sang ayah yang meninggal ketika beliau berusia dua bulan dalam kandungan.

Usia enam tahun meninggal sang ibu, dimana sentuhan kasih sayang belumlah masak. Selanjutnya diasuh sang kakek, Abdul Muttalib yang meninggal tiga tahun kemudian. Lalu Nabi Muhammad SAW diasuh oleh pamannya Abu Thalib, tidak kaya dan banyak anak, sentuhan kasih sayang pun terbagi.

Allah berfirman, Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi (mu), dan Dia mendapatimu sebagai seorang bingung (karena terhentinya turun wahyu beberapa waktu), lalu Dia memberimu petunjuk, dan Dia mendapatimu sebagai seorang kekurangan, lalu Dia memberimu kecukupan. (QS Ad-Dhuha 6-8).

Nabi SAW bersabda, addabanii rabbi fa ahsana ta’diibii, artinya Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menjadikan pendidikanku menjadi baik. (HR Ibnu Hibban). (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved