Opini Public

Mengurai Atmosfir Sekolah Pascazonasi

Sudah dua tahun berjalan kebijakan zonasi sekolah dilaksanakan dimana para siswa dapat bersekolah di daerah terdekat dengan rumah

Mengurai Atmosfir Sekolah Pascazonasi
banjarmasinpost.co.id/tribunnews.com
Ilustrasi 

OLEH: MOH. YAMIN, Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM)

Sudah dua tahun berjalan kebijakan zonasi sekolah dilaksanakan dimana para siswa dapat bersekolah di daerah terdekat dengan rumah, bermodalkan Kartu Keluarga (KK) sebagai syarat utama, yang dilengkapi dengan dokumen-dokumen lain. Ini berarti para siswa yang masuk lewat zonasi sudah berproses secara pendidikan di sekolah juga sudah dua tahun untuk angkatan pertama.

Hasil saya berdikusi secara mendalam dengan beberapa guru di beberapa sekolah menyebutkan bahwa karena keragaman siswa yang masuk ke sekolah begitu berwarna warni baik secara akademik, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan keluarga, maupun latar belakang ekonomi, maka ini berdampak kepada proses pendidikan itu sendiri di sekolah.

Ada siswa yang memiliki tingkat akademik yang rendah sehingga proses penerimaan pendidikan dan materi pelajaran juga lambat sehingga saat proses pembelajaran di kelas pun, mereka memiliki kemampuan daya serap pelajaran yang tidak sama.

Melakukan proses pendidikan dan belajar dalam kelas bagi anak didik yang rendah secara akademik menjadi sulit untuk menangkap penjelasan dan pemahaman yang disampaikan guru. Ada juga anak didik yang rendah akademik dan kehidupan keluarga yang tidak mendukung dalam proses pembelajaran dan pendidikan.

Ketiadaan orang tua mereka karena meninggal, ada juga yang broken home, ditinggal orang tua sehingga hanya tinggal dengan nenek juga menyebabkan proses pendidikan dan pembelajarannya menjadi terganggu.

Ada juga anak didik yang terlibat narkoba sehingga frekuensi kehadiran ke sekolah jarang masuk. Ternyata ketika diteliti secara lebih lanjut dan mendalam, kehidupan keluarganya juga mengalami broken home. Pada prinsipnya, begitu banyak sisi hidup dan kehidupan kelam para anak didik yang menyebabkan mereka tidak maksimal dalam mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah.

Dengan kata lain, ternyata saat kebijakan zonasi diterapkan dan para siswa sudah belajar di sekolah, mereka ditemukan dengan pelbagai sisi kehidupan yang begitu memprihatinkan.

Pada awal belum dilakukan kebijakan zonasi sekolah, temuan tentang kehidupan anak didik yang berada di bawah garis kehidupan sejahtera tidak dan belum muncul ke ruang publik sehingga ini tidak menjadi bahan diskusi dalam konteks menyadarkan kita bersama tentang begitu banyaknya persoalan kehidupan anak-anak negeri.

Tampaknya, persoalan pendidikan masih berputar kepada sarana prasana pendidikan, bantuan pendidikan, dan lain sejenisnya. Padahal ketika masuk ke dunia sekolah dan memotret kehidupan internal sekolah mengenai kehidupan para anak didik, mereka memiliki cerita dan kehidupan tersendiri tentang tiadanya dukungan orang tua dan keluarga akibat persoalan ekonomi orang tua, kehidupan rumah tangga orang tua, dan begitu seterusnya.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved