Jendela

Jalan Cinta

“HINGGA kini, saya belum bisa merasakan cinta kepada Allah seperti yang diungkapkan Rabi’ah al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi.

Jalan Cinta
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID  “HINGGA kini, saya belum bisa merasakan cinta kepada Allah seperti yang diungkapkan Rabi’ah al-Adawiyah atau Jalaluddin Rumi. Ada ulama yang mengatakan, cinta kepada Allah baru terasa saat kita berzikir. Ada sejuk luar biasa menembus kepala hingga dada. Hal ini pun belum pernah saya rasakan,” kata seorang mahasiswa, saat kami mendiskusikan konsep cinta kaum Sufi Jumat lalu.

Allah, Tuhan yang Maha Mutlak, memang tak tergambarkan. Bagaimana mungkin orang mencintai sesuatu yang tak tergambarkan? Namun, Dia yang tak tergambarkan itu menampakkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya melalui tiga realitas: alam semesta, manusia dan kitab suci. Kita dapat merasakan dan mengenali kehadiran-Nya, jejak-jejak-Nya, cinta kasih bahkan murka-Nya melalui tiga realitas itu.

Jika cinta lahir dari kekaguman, maka keindahan dan kedahsyatan alam semesta dengan segala isinya seperti tanah, bebatuan, hewan, tumbuhan, api, udara, air dan lain-lain, lebih dari cukup untuk melahirkan kekaguman itu. Kekaguman itu sudah selayaknya melahirkan rasa takut (khauf) sekaligus harap (raja’), dan lambat laun akan melahirkan cinta (mahabbah) kepada Sang Pencipta.

Cinta kepada Allah dapat pula tumbuh melalui renungan akan ayat-ayat yang diwahyukan-Nya dalam kitab suci. “Bacalah Alqur’an seolah-olah ia sedang diwahyukan kepadamu,” kata Muhammad Iqbal. Keindahan Alqur’an, baik dari segi bahasa ataupun makna, memantulkan keindahan Tuhan. Keindahan itu makin terasa ketika Alqur’an dilantunkan dengan suara yang merdu dan alunan irama yang syahdu.

Sosok manusia juga dapat melahirkan cinta kepada Allah. Ibnu Arabi terpantik rasa cintanya kepada Allah setelah melihat seorang wanita Persia yang amat jelita. Ibnu Arabi kemudian mengungkapkan cinta ilahinya itu dalam risalah indah berjudul Tarjumân al-Asywâq. Begitu pula Jalaluddin Rumi, yang menemukan cintanya kepada Allah melalui kekagumannya kepada Sang Guru, Syamsuddin Tabriz.

Begitu pula, mengasihi orang yang malang berarti mencintai Allah. Dalam hadis qudsi Tuhan berkata kepada hamba-Nya, “Aku sakit, kamu tak menjengukku.” Hamba bertanya, “Bagaimana Kau bisa sakit, padahal Kau adalah Tuhan semesta alam?” Tuhan menjawab,”Tidakkah kamu tahu hambaku fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Andai kamu menjenguknya, kamu akan menemukan-Ku di sisinya.”

Cinta kepada manusia yang melahirkan cinta kepada Allah terutama adalah cinta kepada Muhammad SAW. “Katakanlah (Hai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu,” tegas Alqur’an (QS 3:31). “Tak beriman seseorang kecuali dia mencintai aku melebihi cinta kepada anaknya, orangtuanya dan seluruh manusia,” kata Nabi.

Salah satu cara membangkitkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW adalah dengan membaca selawat, yakni doa dan pujian untuknya.
Alqur’an memerintahkan kaum beriman untuk bersalawat kepadanya seiring dengan penegasan bahwa Allah dan para malaikat juga berselawat kepadanya (QS 33:56). Dengan selawat, hubungan cinta dengan Sang Nabi akan terjalin, dan rahmat Tuhan akan mengalir.

Bagi kaum Sufi, Muhammad SAW adalah insân kâmil, yakni manusia yang menjadi lokus sempurna bagi penampakan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Karena itu, ketampanannya, keluasan ilmunya dan terutama kemuliaan akhlaknya, adalah pesona luar biasa yang dapat melahirkan cinta. Bukti dari cinta ini adalah usaha yang terus-menerus untuk meneladaninya. Inilah jalan meraih cinta kepada Allah.

Demikianlah cinta kepada Allah bukanlah konsep abstrak, melainkan jalan yang konkret. Nabi sendiri bersabda, dia mencintai tiga hal: perempuan, parfum dan salat. Menurut Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), perempuan adalah keindahan berbentuk, parfum adalah keindahan tanpa bentuk, dan salat adalah sarana yang menghubungkan manusia dengan sumber keindahan, yakni Allah.

Alhasil, beragama di jalan cinta berarti beragama di jalan keindahan dan kasih sayang. Cinta ini bukanlah angan-angan belaka, melainkan dapat ditemukan melalui, dan diwujudkan dalam kenyataan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved