Tajuk

Keriuhan Sepak Bola Indonesia

Ternyata yang hangat dibahas tidak hanya siapa pemenangnya. Para pelaku sepak bola justru lebih riuh membicarakan hal di luar itu.

Keriuhan Sepak Bola Indonesia
BOLASPORT.COM
Ketua PSSI, Edy Rahmayadi seusai memberi penghargaan kepada Juara Piala AFF U 16 2018 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (11/08/2018) malam. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEJUMLAH kompetisi resmi sepak bola di Indonesia memasuki pekan-pekan terakhir. Masyarakat awam tengah menunggu siapa yang bakal menjadi pemenangnya, baik Liga 1, Liga 2 dan seterusnya. Memang calon pemenang telah mulai terlihat. Namun demikian publik tetap ingin menyaksikan tim mana yang akan mengangkat piala.

Ternyata yang hangat dibahas tidak hanya siapa pemenangnya. Para pelaku sepak bola justru lebih riuh membicarakan hal di luar itu, di antaranya siapa yang bakal terdegradasi dan siapa yang naik kasta. Soalnya yang menjadi pemenang cuma satu tim, sedangkan yang terdegradasi dan naik kelas banyak.

Jika terdegradasi, maka akan sulit untuk kembali. Belum lagi persoalan sponsor. Sebaliknya dengan naik kelas. Kendati tak juara, naik ke Liga 2 atau Liga 1 merupakan prestasi besar. Selain mengangkat nama tim, nama daerah, naik kelas menarik sponsor.

Di tengah perasaan waswas timnya terdegradasi atau berharap-harap cemas bisa naik kelas, publik digegerkan oleh isu pengaturan pemenang dan skor. Masalah match fixing ramai dibicarakan setelah dibahas dalam acara yang dipandu oleh Najwa Shihab. Ada narasumber yang dengan gamblang menyebutkan nama mafia sepak bola.

Sebenarnya ini bukan masalah baru. Penyuapan dan adanya mafia skor sudah menjadi rahasia umum di persepakbolaan Tanah Air. Di Liga Seri A Italia saja terjadi dan dikenal dengan sebutan calciopoli, apalagi di Indonesia. Perbedaannya, di negara-negara Eropa, kasus sepak bola ditangani secara serius hingga ke pengadilan.

Pengaturan pemenang dan skor lebih terkait masalah prestise. Pemilik tim yang kerap didukung pemerintah daerah tidak ingin timnya terdegradasi. Dengan demikian, seharusnya penanganan hukum terhadap mafia sepakbola lebih mudah.

Memang apa yang terjadi di lapangan tidak bisa dicampuri pemerintah termasuk penegak hukum. Namun tidak demikian dengan apa yang terjadi di luar lapangan seperti penyuapan.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas masalah ini. PSSI merupakan pihak yang bertanggung jawab atas kualitas persepakbolaan Tanah Air.

Namun sepertinya kasus pengacau pertandingan tidak menjadi prioritas untuk diselesaikan. Soalnya pengurus PSSI tengah menghadapi masalah lain yakni tuntutan pengunduran diri ketuanya. Ini masalah kantong.

Oleh karena itu masyarakat pecinta sepak bola terutama yang rutin menyaksikan pertandingan di stadion perlu lebih keras bersuara.

Itu karena mereka mengeluarkan uang untuk menyaksikan pertandingan. Sebagai imbalannya, perlu ada suguhan pertandingan yang berkualitas. Tidak ada pemain yang lepas menendang bola di depannya, tidak ada kiper yang membiarkan bola masuk ke gawangnya dan tidak ada wasit yang salah meniup peluit. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved