Tajuk

Akses untuk Difabel

Di Banjarmasin, tak sedikit sekolah yang tidak menyediakan akses untuk kursi roda atau akses untuk tunanetra dan akses untuk penyandang difabel lain

Akses untuk Difabel
tribunnews.com
Perda Kaum Difabel di Kalsel belum diimplementasikan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEKOLAH inklusi di Banjarmasin, masih belum memenuhi fasilitas layak. Akses untuk penyandang difabel, juga belum ada sebagaimana dinyatakan oleh Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Nuryadi, (BPost, Senin 3/12/2018).

Menurutnya, saat ini bangunan sekolah inklusi di Banjarmasin tidak mendukung untuk fasilitas siswa difabel. Sehingga dinas pendidikan, akan menyesuaikan dan rehabilitasi ruang kelas harus mengacu pada kebutuhan difabel.

Di Banjarmasin, tidak sedikit sekolah yang tidak menyediakan akses untuk kursi roda atau akses untuk tunanetra dan akses untuk penyandang difabel lainnya. Pada sekolah inklusi, ada sekitar dua persen siswa yang merupakan difabel.

Pemerintah dan swasta serta perorangan didorong untuk turut memberikan kepedulian kepada kaum difabel. Artinya, keterbatasan diri mereka (kaum difabel) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi lainnya.

Kepedulian terhadap kaum difabel tersebut, sejatinya tumbuh seiring perkembangan mereka dari tahun ke tahun. Semua pihak hendaknya mewujudkan lingkungan yang ramah terhadap kaum difabel, sehingga tercipta persamaan di ranah publik.

Pada dasarnya, kaum difabel bisa dan mampu untuk berbuat sesuatu atau melakukan hal-hal yang juga dilakukan setiap orang dengan caranya sendiri. Kemampuan tersebut meliputi secara fisik, mental, bersosial maupun intelektual.

Misalnya, seseorang yang memiliki hambatan pada penglihatan, tetapi masih mampu untuk melangkah berjalan dan melakukan aktivitas lainnya. Begitu pula yang memiliki hambatan dengar, masih mampu menulis, membaca, bersosialisasi bahasa isyarat maupun tulisan.

Sama halnya orang yang memiliki hambatan secara fisik, misalnya tidak memiliki tangan, mereka mampu menulis, memainkan alat musik atau bahkan melukis dengan kaki. Dari segi kemampuan, mereka yang difabel bukanlah sosok yang memiliki kekurangan. Mereka cenderung memiliki kemampuan yang berbeda, terutama dalam melakukan segala sesuatu berdasarkan cara mereka tersendiri.

Kaum difabel cenderung memiliki kemampuan yang sama, menghasilkan tujuan yang ingin dicapai. Cara dan kemampuan khusus inilah, dikenal different abilities people. Terlepas dari ini semua, untuk penyandang difabel diperlukan fasilitas khusus bagi mereka.

Seperti keperluan sekolah, penyandang difabel perlu sekolah inklusi. Pun, pengajar khusus yang sudah menerima pendidikan dan pelatihan. Apa yang terjadi di Banjarmasin, misalnya sekolah inklusi SDN Sungai Andai 3, tidak terkendala hal tersebut.

Siswa penyandang difabel di sana, tak ada yang tunadaksa, sehingga akses khusus pun belum dibutuhkan. Namun, jika nanti ada tunadaksa maka harus diusahakan alat yang diperlukan siswa berkebutuhan demikian.

Kaum difabel hendaknya diberikan akses yang memadai, di antara mereka ada yang autis, lowvision, tunagrahita, slowlearner dan kesulitan dalam belajar. Jika demikian, maka Banjarmasin baru bisa mengarah sebagai smart city sebagaimana yang dicitakan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved