Berita Kalteng

Sepanjang 2018, BOS Telah Melepasliarkan 52 Orangutan dan Menerima 21 Orangutan Baru

Pengrusakan hutan akibat pembalakan liar atau dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi pada saat musim kemarau, membawa dampak

Sepanjang 2018, BOS Telah Melepasliarkan 52 Orangutan dan Menerima 21 Orangutan Baru
Istimewa /Yayasan BOS
Enam ekor orangutan dilepasliarkan di hutan untuk berlatih 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PALANGKARAYA - Pengrusakan hutan akibat pembalakan liar atau dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi pada saat musim kemarau, membawa dampak pada pengurangan populasi orangutan di Kalteng.

Bukan hanya itu, konversi hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit pun juga menjadi salah satu penyebab populasi orangutan yang selama ini hidup di hutan Kalimantan semakin terjepit lantaran hutan yang menjadi tempat tinggal mereka rusak.

Penemuan ribuan kayu log di DAS Barito maupun DAS Mentangai, Kapuas, Kalteng, beberapa waktu lalu, menjadi salah satu penyebab banyak orangutan yang tinggal di sekitar kawasan tersebut berpindah ke lokasi dan sesat hingga ke permukiman penduduk.

CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), Jamartin Sihite, Jumat (7/12/2018) mengatakan, konservasi adalah upaya tiada henti yang mereka lakukan untuk orangutan yang tersesat ke permukiman penduduk, dampak daei kerusakan hutan dan lahan di Kalteng.

Baca: Ini Foto Kosmetik Ilegal Derma Skin Care yang Endorse Via Vallen Nia Ramadhani dan Nella Kharisma

Baca: Punya Ayah Fanatik, Begini Respon Ayah Rina Nose Saat Dirinya Putuskan Lepas Hijab

Baca: Ahmad Dhani Sibuk Urusi Kasus Ujaran Kebencian, Mulan Jameela Sebar Pamfel Caleg DPR RI di Garut

Baca: Kemenag Umumkan Hasil Tes SKD Minggu Depan, Cek Link Resmi Serta Persiapan Tes SKB CPNS 2018

Di sepanjang tahun 2018, pihaknya, berhasil melepasliarkan 52 orangutan ke hutan-hutan pelepasliaran di Kalimantan Timur dan Tengah.

Mereka juga menerima 21 orangutan baru di 2 pusat rehabilitasi dan menempatkan 26 orangutan di pulau-pulau pra-pelepasliaran.

Ini bisa tercapai berkat kerja sama dan kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Konservasi jangan berfokus pada perbaikan kondisi. Seluruh pemangku kepentingan harus sepakat untuk bekerja keras menjaga kondisi yang ada," ujarnya.

Dia mengatakan, upaya-upaya seperti pembukaan lahan, perburuan, perdagangan liar, itu semua harus dihentikan untuk menjaga populasi orangutan agar tidak berkurang.

Penegakan hukum juga mesti diperketat dan diperkeras.

"Kami menilai ini berpotensi besar menghentikan penurunan populasi orangutan liar," ujarnya.

Sementara itup Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Adib Gunawan, mengatakan, “BKSDA Kalimantan Tengah menyambut baik berbagai bentuk kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan dalam upaya melestarikan binatang dan melindungi alam dan lingkungan di Kalimantan Tengah tersebut," ujarnya.

www. banjarmasinpost.co.id/ faturahman

Penulis: Fathurahman
Editor: Edinayanti
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved