Opini Publik

Kita Versus Korupsi (Refleksi Hari Antikorupsi Internasional)

Menariknya, film tersebut bukan untuk menceritakan bagaimana proses melawan korupsi secara investigatif.

Kita Versus Korupsi (Refleksi Hari Antikorupsi Internasional)
Thinkstock
Ilustrasi 

Film omnibus berjudul Kita Versus Korupsi (2012), dengan empat film pendek yang tergabung menjadi satu film panjang, mengisahkan tentang berbagai hal, perihal tindak korupsi, sebagai penyakit sosial dan hukum, yang sangat mewabah di kalangan masyarakat Indonesia.

Menariknya, film tersebut bukan untuk menceritakan bagaimana proses melawan korupsi secara investigatif. Namun, keempat film pendek yang ada di dalam film tersebut lebih menonjolkan pesan bahwa korupsi sebenarnya dapat hadir di setiap keseharian kita.

Pertama, film pendek berjudul “Rumah Perkara”, sutradara Emil Heradi. Film ini bercerita tentang kisah calon kepala desa yang mengucapkan janji “Demi Allah”, akan menjaga dan melindungi keamanan desanya. Namun, setelah terpilih, tak ada satupun janji yang dia tepati, justru masyarakat di desa tersebut tersingkir dari tanah kelahiran, karena akan dibangun pabrik, perumahan yang baru.

Di akhir cerita, sang kepala desa merasa menyesal karena dia tidak bisa menjalankan amanah rakyat yang telah memilihnya. Realita film terpapar jelas di jajaran (oknum) wakil rakyat, para pengadil, yang sudah berjanji dengan nama Tuhannya, akan memperjuangkan kepentingan rakyat, dan akan berlaku adil, tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit dari mereka yang berjanji membawa-bawa nama Tuhan, tetapi menabrak janji, dengan berkorupsi.

Kedua, film pendek berjudul “Aku Padamu”, arahan Lasja F Susanto, yang mengisahkan tentang kisah anak gadis yang muak akan tindak korupsi ayahnya, sehingga ia berharap tidak ada dusta, kecurangan yang tergambar dari sosok ayahnya, hadir (kembali) di pernikahannya. Namun si laki-laki tidak bisa meyakinkan si gadis bahwa sikap jujur adalah hal utama, justru menampakkan sikap tidak jujur (dengan memakai orang dalam), untuk melicinkan tujuannya. Di akhir kisah, si gadis tidak menyesal dengan pilihan hidupnya, karena dia merasa, segala hal, sekecil apapun ketika dimulai dengan kejujuran, maka hasilnya akan benar. Sebaliknya ketika segala hal, sekecil apapun diniatkan dengan cara yang salah, maka selamanya akan menjadi cerminan sikap seseorang dikedepannya nanti.

Ketiga, film pendek berjudul “Selamat Siang, Risa” Sutradara Ine Febriyanti, yang mengisahkan tentang satu keluarga kecil sederhana tetapi hidup dalam balutan kebahagiaan, karena membiasakan sikap jujur sedari kecil (dini), menolak dengan tegas segala bentuk iming-iming dengan memberikan uang pelican untuk mempermudah usahanya. Sikap jujur inilah yang menjadi pangkal menolak korupsi. Secara kodrati, ketika seseorang mendapat tawaran yang menggiurkan dan menguntungkan pribadinya, tentu akan menerima, itu manusiawi. Tetapi, ketika tawaran berubah menjadi sogokan, atau bahkan ucapan terima kasih, diterima, tanpa bisa menolak dengan tegas, maka sejatinya, sifat jujur yang menjadi bawaan lahir seseorang tersebut bisa luntur dengan sendiri. Inilah budaya di masyarakat kita, ketika seseorang “dibantu” maka “lazimnya” ganti “membantu”. Terus menerus demikian, sulit memutus rantainya, kecuali dengan membiasakan bersikap jujur, dan kuat iman menolak segala bentuk paket yang menjurus ke arah tindak korupsi.

Keempat, film pendek berjudul “Pssst..Jangan bilang siapa-siapa”, arahan Chairunnisa, yang mengisahkan tentang perilaku anak remaja yang sering melakukan kebohongan dan mencoba berkorupsi sejak dini. Pemeran Gita dalam film tersebut, menjadi sosok remaja yang berbeda dengan remaja kebanyakan, dimana ia selalu punya cara unik, dan berbeda dengan teman-teman untuk meraih apa yang diinginkan. Pesan dari film pendek tersebut adalah semua akan kembali kepada diri kita. Ketika kita terbiasa tidak jujur, meskipun tidak ketahuan oleh orang lain, tetapi akan berakibat pada kebohongan dan ketidakjujuran kedua, ketiga, dan seterusnya.

Lunturnya Moral
Keempat film pendek tersebut, menggambarkan korupsi sejatinya berkaitan dengan moral manusia. Pertama, moral manusia terhadap Tuhan, berupa mengimani (mempercayai) penuh bahwa Tuhan akan melihat segala bentuk ketidakjujuran, kecurangan yang dilakukan walaupun tidak ada orang yang melihat. Orang yang merasa senantiasa diperhatikan Tuhan, maka akan lebih berhati-hati dalam bersikap, terutama yang menyangkut ketidakjujuran dan kecurangan, yang menjadi asal muasal tumbuh suburnya korupsi. Rasa syukur akan banyaknya nikmat yang dianugerahkan Tuhan akan terlihat dari kerendahan hati dan sikap qonaah. Namun, ketika manusia tidak sadar bahwa setiap gerak-geriknya diperhatikan Tuhan, maka sikap kekufuran terhadap nikmat akan mendominasi hati dan pikirannya.

Kedua, moral manusia terhadap manusia lainnya. Korupsi telah mengikis habis sifat-sifat manusia Indonesia yang suka akan kekeluargaan, kepedulian, tolong-menolong. Hadirnya korupsi telah melunturkan sikap-sikap positif tersebut menjadi mengeyampingkan keluarga, bersikap acuh, dan antipati terhadap orang yang memerlukan bantuan. Akibat dibutakan oleh silau cahaya korupsi, manusia tidak lagi menyadari akan sifat manusia sebagai makhluk sosial, tetapi justru semakin individualis untuk menguasai hasil kecurangan (baca: korupsi). Ketiga, moral manusia terhadap dirinya.

Manusia dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci), dengan sifat jujur, sabar, dan menjaga harga diri sesuai hati nuraninya. Namun, silau dunia, lantas menghadirkan korupsi yang menggerus sikap positif diri menjadi keegoisan, ketidaktakutan, ketidakjujuran, dan ketidaksabaran, dalam tindakan dan tingkah laku. Dalam nurani, sadar bahwa mengambil hak orang lain, merampas hak rakyat, adalah salah. Namun, bisikan untuk mengeruk keuntungan pribadi melalui tindak kecurangan, jauh lebih nyaring sehingga menutup mata batin manusia.

Melawan Korupsi
Berbagai usaha telah dilakukan baik oleh Pemerintah melalui KPKnya, ICW, maupun komunitas-komunitas anti korupsi, dengan berbagai inovasi untuk melenyapkan penyakit korupsi dari negeri. Namun, selama dalam diri manusia masih diselimuti hawa nafsu, keinginan untuk tidak jujur, kesempatan untuk berbuat curang, maka selama itulah “makhluk” bernama korupsi bersemayam dan akan tetap ada.

Sekarang, tinggal bagaimana setiap individu yang menyebut dirinya bagian dari NKRI, bisa memerangi korupsi dengan menyadari bahaya laten yang ditimbulkan apabila dirinya berbuat korup. Khusus untuk para pemimpin negeri, para tokoh nasional, hendaknya memberikan edukasi kepada masyarakat akan dahsyatnya bahaya berbuat korup, bukan malah saling beradu argument tentang korupsi, sehingga korupsi sebatas tataran retorika yang bersifat normatif.

Harapan setiap insan Indonesia jelas, agar korupsi minimal bisa terus diminimalisir sehingga kesejahteraan rakyat Indonesia bukan sebatas mimpi, tetapi menjadi nyata. Perang melawan korupsi lebih berat ketimbang perang melawan musuh nyata, karena sifat laten korupsi. Sehingga, tidak ada pilihan lain untuk kita, tanpa terkecuali melawan korupsi, melalui sikap pengendalian diri, jujur, berlaku adil, yang secara moral telah mengembalikan hakikat manusia sebagai manusia yang terlahir fitrah (suci). Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved