Penembakan di Papua

Pernyataan Kepala BBPJN Memicu Emosi Keluarga Korban yang Menganggap Jumlah Uang Santunan Tak Wajar

Samuel, salah satu keluarga korban menilai jumlah yang disanggupi PT Istaka Karya sangat minim bahkan tidak wajar.

Pernyataan Kepala BBPJN Memicu Emosi Keluarga Korban yang Menganggap Jumlah Uang Santunan Tak Wajar
BPost Cetak
BPost cetak edisi Sabtu (8/12/2018) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PAPUA - NEGOSIASI antara PT Istaka Karya dan keluarga korban tewas dalam penembakan di Nduga, Papua, berjalan alot.

Keluarga menolak pemberian uang Rp 24 juta dari perusahaan.

Dilansir Antara, uang sebesar itu dialokasikan masing-masing untuk uang duka Rp 16,2 juta, uang santunan Rp 4,8 juta, dan pengganti biaya pemakaman Rp 3 juta.

Samuel, salah satu keluarga korban menilai jumlah yang disanggupi PT Istaka Karya sangat minim bahkan tidak wajar.

Ia berharap agar pihak perusahaan bisa mempertimbangkan permintaan keluarga untuk dapat memberikan santunan dalam jumlah yang wajar.

Baca: Ustadz Abdul Somad Kunjungi TVOne, Ini yang Dilakukan Suami Nia Ramadhani, Ardi Bakrie

Baca: Download Kisi-Kisi Soal Tes SKB CPNS 2018 di Sini, Pahami Tes CAT dan Tes Wawancara Kewarganegaraan

Baca: Foto Ini Buat Netizen Curiga Luna Maya dan Faisal Nasimuddin Sama-Sama Liburan Di Bali

Baca: Bikin Ketawa! Begini Gaya Ginting, Kevin Sanjaya & Jonatan Christie Jika Jadi PNS, Memenya Lucu

Kemarahan keluarga korban terjadi saat mendengar penjelasan perwakilan PT Istaka Karya.

PT Istaka Karya menyatakan jumlah tersebut telah sesuai dengan peraturan.

Perusahaan berdalih peristiwa itu tidak masuk dalam kategori kecelakaan kerja karena terjadi ketika pekerja sedang beristirahat.

Sementara itu, perwakilan keluarga korban tetap bersikeras bahwa peristiwa yang terjadi masuk dalam kategori kecelakaan kerja.

Adu mulut bahkan sempat terjadi saat Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Papua Osman Marbun mempertanyakan status peserta negosiasi.

Kericuhan itu dipicu pernyataan Osman bahwa pihaknya susah payah mengambil "barang" (jenazah) dari dalam hutan.

"Itu bukan barang, itu manusia. Kenapa kau bilang itu barang?" kata salah satu keluarga korban.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved