Jendela

Marah dan Dakwah

Setiap manusia normal tentu memiliki potensi marah. Marah adalah kekuatan untuk mempertahankan diri sekaligus menyerang.

Marah dan Dakwah
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “APAKAH berdakwah dengan marah merupakan teladan dari Nabi Muhammad SAW?” tanya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Islamic Higher Education Professors Summit ke-2 di Bandung Sabtu lalu. Menurut Pak Menteri, jika pun Nabi pernah marah dalam berdakwah, tentulah kasusnya sangat sedikit dibanding sikapnya yang ramah, lembut dan penuh kasih sayang.

Kerisauan Pak Menteri mungkin juga kegalauan sebagian kita karena menyaksikan fenomena tokoh agama yang suka berbicara keras dalam arti nada suaranya yang tinggi dan kata-katanya yang tajam. Seolah-olah dia telah menggenggam kebenaran dan kebaikan mutlak sementara orang yang berbeda pandangan dengannya berada dalam kesesatan dan keburukan mutlak. Dia malaikat, orang lain setan.

Setiap manusia normal tentu memiliki potensi marah. Marah adalah kekuatan untuk mempertahankan diri sekaligus menyerang. Marah tidak hanya dimiliki manusia, tetapi juga binatang. Jika seekor binatang diganggu, dia akan bereaksi marah. Selain itu, ada pula binatang buas, yang menyerang dengan ganas mangsanya. Marah pada manusia juga demikian. Dia marah karena diganggu atau menyerang orang lain.

Para filosof Yunani, dan kemudian dikembangkan oleh para filosof Muslim, menjelaskan bahwa sifat terpuji bagi manusia bukanlah tanpa marah. Yang menjadi soal di sini adalah pengendalian marah itu agar berada di posisi tengah dan seimbang. Marah yang luluh ke titik nadir melahirkan sifat pengecut, sedangkan marah yang berlebihan membuat orang nekad. Sifat berani berada di antara keduanya.

Secara teoritis, posisi tengah di atas mudah dijelaskan, tetapi bagaimana melaksanakannya? Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita marah pada kadar dan saat yang tepat? Untuk sampai pada kesimpulan ini, orang tentu perlu berpikir lebih dalam dan menganalisis lebih tajam sebab-sebab yang membuatnya marah. Yang terutama lagi, apa sebenarnya niat atau motivasi yang membuatnya marah?

Mungkin karena peliknya masalah ini, Sufi terkemuka, al-Ghazali menjelaskan empat tipe manusia yang marah. Pertama, cepat marah, cepat reda. Kedua, lambat marah, lambat reda. Ketiga, cepat marah, lambat reda. Keempat, lambat marah, cepat reda. Menurutnya, yang terburuk adalah yang cepat marah, lambat reda. Ini tipe pendendam. Yang terbaik adalah, lambat marah, cepat reda. Ini tipe manusia halîm.

Bagaimana dengan manusia agung seperti Nabi? Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda, “Hampir saja seorang yang halîm (yakni orang yang pandai mengendalikan marah) menjadi seorang Nabi.” Mengapa orang yang berbudi luhur seperti Nabi lambat marah, dan jika pun marah, cepat reda? Sebab dia marah bukan karena nafsu, bukanpula karena benci apalagi dendam, melainkan karena cinta dan kasih sayang.

Dengan demikian, pokok soalnya bukan bagaimana meletakkan marah pada posisi tengah seperti yang dibahas para filosof di atas, melainkan bagaimana mengisi hati dengan cinta dan rahmat kepada seluruh ciptaan Tuhan. Jika hati sudah dipenuhi cinta dan rahmat, maka marah yang keluar darinya tidak akan melampaui batas. “Karena rahmat Allah-lah kau Muhammad halus-lembut kepada mereka” (QS 3:159).

Rahmat adalah dasar utama dari keberadaan alam semesta. Karena rahmat-Nyalah kita dan semesta ini diciptakan. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, tetumbuhan dan hewan yang kita makan hingga bintang gemintang di langit, semua ada karena rahmat-Nya. Allah berfirman, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS 7: 156).“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku,” firmannya lagi dalam hadis qudsi.

Di sisi lain, orang patut pula bertanya, mengapa dakwah yang marah bisa disukai cukup banyak orang? Bukankah dakwah yang ramah, lembut dan penuh kasih seharusnya lebih disukai orang? Mungkin sebab utamanya adalah, suara lantang juru dakwah yang marah itu berhasil menyalurkan kekecewaan dan kepahitan yang dialami jemaah. Pidato yang keras itu mewakili perasaan khalayak yang berteriak setuju.

Dengan demikian, jika ada orang berdakwah seperti marah-marah dan disukai jemaah, maka baik yang memarahi atau yang merasa dimarahi perlu instrospeksi. Bagi yang marah, perlu bertanya, apakah dengan marah masalah akan selesai atau malah bertambah-tambah? Bagi yang merasa dimarahi, perlu juga bertanya, apakah kiranya yang salah sehingga orang menjadi marah?

Dengan introspeksi, menyelam ke dalam diri, manusia akan kembali ke hakikat dirinya yang sejati, yang takkan pernah hadir di dunia ini kalau bukan karena rahmat dan cinta kasih-Nya. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved